Ilmu membangun peradaban, bisnis menopang perjuangan

Penulis: Irfan Soleh


Hari ini, ketika mendapat kesempatan menjadi guest lecturer di IPMI International Business School, Jakarta, saya datang dengan membawa satu tema tentang ekosistem bisnis pesantren. Saya membayangkan akan berbagi pengalaman mengenai bagaimana pesantren membangun unit-unit usaha, menghubungkan pendidikan dengan kewirausahaan, dan menumbuhkan kemandirian ekonomi. Namun, sebagaimana sering terjadi dalam perjalanan menuntut ilmu, seseorang yang datang untuk mengajar justru pulang membawa pelajaran baru. Saya melihat bagaimana sebuah lembaga pendidikan dapat tumbuh dalam ekosistem bisnis yang kuat, dengan dukungan pemilik yang memiliki pengalaman dan portofolio usaha di berbagai sektor. Dari sana muncul sebuah pertanyaan reflektif: mungkinkah pesantren benar-benar mandiri dalam mendidik generasi masa depan jika fondasi ekonominya masih sepenuhnya bergantung pada sumbangan dan biaya pendidikan?


IPMI menawarkan model pendidikan yang menarik untuk direnungkan. Dengan program fast track BBA dan MBA yang ditawarkan dalam empat tahun, serta program sarjana kewirausahaan bagi mereka yang ingin create, run, and scale real business, IPMI menempatkan dunia usaha bukan sekadar sebagai materi di ruang kuliah, melainkan sebagai realitas yang harus dipahami dan dijalani. Tagline-nya, Build Your Business, Not Just Your Degree, mengandung pesan bahwa pendidikan seharusnya melahirkan kemampuan untuk menciptakan nilai, membangun usaha, dan mengembangkan peluang. Gelar akademik tetap penting, tetapi akan semakin bermakna ketika pengetahuan menjelma menjadi karya, inovasi, lapangan pekerjaan, dan kemanfaatan bagi masyarakat.


Pelajaran lain yang menarik perhatian saya adalah keterkaitan IPMI dengan Sriboga Group melalui PT Sriboga Raturaya. Dalam ekosistem ini, pendidikan menjadi salah satu pilar bisnis yang berdampingan dengan sektor pangan, manufaktur, restoran, dan logistik. Sriboga memiliki lini usaha yang mencakup industri tepung terigu, bisnis restoran Pizza Hut dan Marugame Udon, serta berbagai unit usaha pendukung lainnya. IPMI berada dalam pilar edukasi, yang membuka ruang bagi hubungan antara pengetahuan akademik, pengalaman praktis, dan kebutuhan dunia usaha. Model ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan tidak selalu harus berdiri sebagai entitas yang terpisah dari kegiatan ekonomi pemilik atau ekosistem yang menopangnya. Pendidikan dapat menjadi bagian dari strategi besar untuk membangun nilai, mengembangkan sumber daya manusia, dan memperkuat keberlanjutan sebuah kelompok usaha.


Tentu, setiap lembaga memiliki karakter, tujuan, dan tata kelola yang berbeda. Pesantren tidak bisa begitu saja menyalin model perusahaan, sebagaimana perusahaan juga tidak bisa menggantikan misi pendidikan dan pengabdian pesantren. Namun, ada prinsip yang layak dipelajari: kekuatan finansial dapat memperluas ruang gerak pendidikan, sementara pendidikan dapat meningkatkan kualitas dan keberlanjutan kegiatan ekonomi. Jika hubungan keduanya dirancang dengan baik, bisnis tidak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga laboratorium pembelajaran, ruang inovasi, dan sarana pemberdayaan. Sebaliknya, pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan manusia yang mampu mengelola sumber daya, menciptakan usaha, dan membangun kesejahteraan bersama.


Selama ini, dalam membangun ekosistem bisnis Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, kami berusaha melihat kegiatan ekonomi sebagai rangkaian yang saling terhubung. Persoalan limbah dari penggilingan aren menjadi pintu masuk untuk mengembangkan media budidaya jamur merang. Sisa proses budidaya kemudian diolah menjadi pupuk organik yang dimanfaatkan pada lahan Pepaya California Ciamis atau PECI dan Klaster Tanaman Pisang Raudhatul Irfan atau KTP RI. Dari pertanian, kami bergerak menuju pengolahan hasil, pengembangan produk, dan peluang pemasaran. Rangkaian tersebut mengajarkan bahwa satu persoalan dapat menjadi sumber peluang ketika didekati dengan kreativitas, pengetahuan, dan keberanian untuk mencoba. Ekosistem bisnis tidak dibangun hanya dengan memperbanyak unit usaha, tetapi dengan menemukan hubungan produktif di antara setiap unit sehingga nilai ekonomi terus bertumbuh dan manfaatnya semakin luas.


Namun, pengalaman belajar dari IPMI hari ini mengingatkan saya bahwa keberhasilan membangun unit usaha saja belum cukup. Pesantren membutuhkan cara pandang yang lebih besar: bukan sekadar memiliki toko, pertanian, peternakan, perikanan, atau usaha pengolahan produk, melainkan membangun portofolio bisnis yang terencana, saling mendukung, dan dikelola secara profesional. Setiap unit harus memiliki model bisnis, pasar yang jelas, arus kas yang sehat, sumber daya manusia yang kompeten, serta sistem pengukuran kinerja yang terukur. Keuntungan perlu dikelola dengan prinsip kehati-hatian, sebagian dapat diinvestasikan kembali untuk mengembangkan usaha, dan sebagian lainnya dapat diarahkan untuk menopang misi pendidikan serta pelayanan sosial pesantren. Dengan demikian, kemandirian ekonomi bukan sekadar slogan, melainkan kemampuan organisasi untuk membiayai pertumbuhan dan menjaga keberlanjutan misinya.


Pada akhirnya, saya semakin meyakini bahwa masa depan pesantren tidak cukup hanya dibangun dengan kekuatan ilmu, akhlak, dan spiritualitas, meskipun ketiganya tetap menjadi fondasi utama. Pesantren juga memerlukan kecakapan membaca pasar, keberanian berinovasi, ketangguhan mengelola risiko, dan kemampuan membangun jejaring bisnis. Santri perlu belajar bukan hanya bagaimana mencari pekerjaan, tetapi juga bagaimana menciptakan pekerjaan. Pengelola pesantren perlu belajar bukan hanya bagaimana menghimpun dana, tetapi juga bagaimana mengembangkan aset menjadi sumber nilai yang produktif. Sementara itu, keuntungan bisnis harus tetap ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat pengabdian, bukan menggantikan tujuan pendidikan itu sendiri.


Saya datang ke IPMI untuk berbagi tentang ekosistem bisnis pesantren, tetapi pulang dengan pengingat bahwa ekosistem tersebut harus ditopang oleh fondasi ekonomi yang kokoh. Dari Sriboga Group dan IPMI, saya belajar bahwa pendidikan dan bisnis dapat saling menguatkan ketika keduanya dirancang dalam satu visi keberlanjutan. Pesantren memiliki modal yang tidak kecil: kepercayaan masyarakat, jaringan alumni, komunitas santri, nilai-nilai keislaman, serta kedekatan dengan kebutuhan ekonomi umat. Modal itu perlu diolah menjadi kekuatan produktif melalui tata kelola yang profesional dan keberanian membangun usaha lintas sektor. Sebab, pesantren yang kuat bukan hanya pesantren yang mampu melahirkan generasi berilmu, tetapi juga pesantren yang memiliki daya ekonomi untuk menjaga martabat, memperluas kemanfaatan, dan membiayai perjuangannya sendiri. Ilmu menyalakan cahaya, bisnis menyediakan bahan bakar, dan kemandirian menjaga agar cahaya itu terus menyala sepanjang zaman.


Jakarta, Senin 26 Oktober 2026