Dari Tatar Galuh Menuju Panggung Dunia: Santri Ciamis Harus Mendunia
Penulis: Irfan Soleh
Peringatan Hari Santri Nasional yang diselenggarakan Forum Silaturahmi Pondok Pesantren Kabupaten Ciamis bekerja sama dengan Majlis Arah Indonesia, Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis, serta berbagai organisasi kemasyarakatan dan unsur organisasi lainnya, menghadirkan sebuah pesan penting tentang masa depan santri. Berbagai elemen bersatu padu, melampaui sekat organisasi, untuk merayakan tradisi keilmuan pesantren sekaligus meneguhkan peran santri bagi bangsa. Namun, di antara kemeriahan acara dan pesan-pesan yang disampaikan, ada satu kalimat yang terus menggema dalam pikiran saya: Santri Ciamis Harus Mendunia! Sebuah seruan yang bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita besar yang menuntut ikhtiar nyata. Pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan santri Ciamis agar tidak hanya mampu membaca dunia melalui kitab-kitabnya, tetapi juga melangkah langsung ke berbagai penjuru dunia untuk menuntut ilmu dan membangun peradaban?
Dalam ceramahnya, Ustadz Abdul Somad memberikan gambaran bahwa dunia bukanlah ruang yang jauh dan mustahil dijangkau oleh seorang santri. Pengalaman belajarnya di Kairo, Mesir, menjadi salah satu bukti bagaimana tradisi pendidikan pesantren dapat menjadi pintu menuju khazanah keilmuan internasional. Bahkan, ketika berada di Bayasari, Ciamis, beliau menjelaskan perjalanan akademiknya hingga jenjang S2 di Maroko dan S3 di Sudan, serta gelar profesor yang diperolehnya dari Brunei Darussalam. Kisah ini mengajarkan bahwa perjalanan intelektual seorang santri tidak harus berhenti di lingkungan pesantren atau perguruan tinggi dalam negeri. Dengan kesungguhan, disiplin, penguasaan bahasa, dan keberanian mengambil peluang, seorang santri dapat melintasi batas geografis untuk memperluas wawasan dan memperdalam ilmu pengetahuan.
Semangat yang sama juga tampak pada sejumlah anggota Majlis Arah Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri, di antaranya di International Islamic University Pakistan dan International Islamic University Malaysia. Kehadiran mereka memberikan pesan bahwa santri memiliki peluang untuk tumbuh menjadi intelektual muslim yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan akar keislamannya. Pesantren tidak seharusnya dipandang sebagai ruang yang membatasi pergaulan santri, tetapi sebagai titik berangkat untuk menjelajahi dunia. Kitab kuning membangun kedalaman berpikir, Al-Qur’an menuntun arah kehidupan, dan penguasaan bahasa asing membuka jendela perjumpaan dengan ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa. Ketiganya dapat menjadi bekal bagi lahirnya generasi santri yang teguh dalam nilai, luas dalam wawasan, serta unggul dalam kompetensi.
Karena itu, seruan Santri Ciamis Harus Mendunia perlu diterjemahkan menjadi gerakan bersama. Pemerintah daerah, pesantren, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, alumni, dan keluarga santri perlu membangun ekosistem yang mendukung mobilitas pendidikan internasional. Kita membutuhkan santri yang berani mengejar beasiswa, mengikuti pertukaran pelajar, melanjutkan pendidikan ke universitas luar negeri, hingga mengembangkan karier profesional di tingkat global. Tentu, langkah tersebut harus disertai persiapan yang terencana, mulai dari kemampuan bahasa, prestasi akademik, kemandirian, kedisiplinan, hingga kesiapan mental menghadapi perbedaan budaya. Jangan sampai kesempatan belajar ke luar negeri hanya menjadi impian sebagian kecil santri karena keterbatasan informasi dan akses. Sudah saatnya informasi, pendampingan, dan pelatihan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membuka lebih banyak pintu masa depan.
Sebagai bagian dari ikhtiar tersebut, Pesantren Raudhatul Irfan membuka ruang bagi para santri Ciamis yang ingin mempersiapkan diri menuju pendidikan dan pengalaman internasional melalui kegiatan ekstrakurikuler bahasa setiap hari Sabtu, satu kali dalam sepekan. Bagi santri yang bercita-cita mengikuti program Ausbildung di Jerman, tersedia pembelajaran bahasa Jerman sebagai langkah awal mengenal bahasa dan budaya negara tersebut. Bagi yang ingin melanjutkan kuliah maupun bekerja di Jepang, bahasa Jepang dapat menjadi bekal untuk mempersiapkan perjalanan mereka. Sementara itu, bagi santri yang bermimpi melanjutkan pendidikan ke Turki, pembelajaran bahasa Turki menjadi pintu awal untuk mengenal lingkungan akademik dan kehidupan masyarakatnya. Tidak hanya itu, santri juga dapat memperkuat bahasa Arab sebagai jembatan menuju khazanah keilmuan Islam dan berbagai universitas di Timur Tengah, bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi internasional dan ilmu pengetahuan, serta bahasa Mandarin untuk membuka wawasan terhadap kebudayaan dan peluang pendidikan maupun ekonomi di dunia berbahasa Mandarin. Melalui program ini, santri diharapkan tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga mulai membangun kompetensi untuk mewujudkannya. Kami mengajak seluruh santri Ciamis, baik dari Pesantren Raudhatul Irfan maupun pesantren lainnya, untuk memanfaatkan kesempatan ini. Mari persiapkan generasi yang mampu menguasai beragam bahasa, mengenal berbagai kebudayaan, dan meraih peluang pendidikan di berbagai negara. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin luas pintu dunia yang dapat diketuk, tanpa harus kehilangan jati diri sebagai santri.
Pada akhirnya, mendunia bukan berarti meninggalkan kampung halaman, melupakan pesantren, atau tercerabut dari akar tradisi. Justru, semakin jauh seorang santri melangkah, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk membawa nilai-nilai kebaikan dari tanah kelahirannya. Santri yang belajar di Jerman, Jepang, Turki, Mesir, Maroko, Sudan, Pakistan, Malaysia, atau negara lainnya harus tetap membawa karakter santri: berakhlak, berilmu, mandiri, dan bermanfaat bagi sesama. Kelak, ilmu yang diperoleh di berbagai belahan dunia diharapkan kembali menjadi energi bagi kemajuan Ciamis, penguatan pesantren, dan pembangunan Indonesia. Mari kita ubah seruan menjadi gerakan, cita-cita menjadi persiapan, dan persiapan menjadi keberangkatan. Dari pesantren-pesantren di Tatar Galuh, kita menanam harapan untuk melahirkan generasi yang menguasai kitab, beragam bahasa, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Santri Ciamis harus mendunia, dan dunia harus mengenal santri Ciamis sebagai generasi berilmu, berakhlak, serta siap berkontribusi bagi peradaban.
Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 24 Oktober 2026
.png)
0 Komentar