MENAPAKI SULUK PARA ULAMA

Dr. H. Irfan Soleh, S.Th.I., M.B.A.


Ada kenikmatan tersendiri ketika membaca kisah para kyai, terutama ketika kisah itu tidak hanya membawa kita mengenal siapa mereka, tetapi juga mengajak kita menelusuri jalan panjang yang pernah mereka tempuh. Setelah mengkhatamkan Syahadah Mustofa, Cahaya Muhsin, Pembuka Hidayah tentang Uwa Ajengan Manonjaya dalam empat jilid, kini saya kembali diajak menyusuri jejak seorang ulama melalui karya terbaru Kang Fauz Noor Zaman, Suluk Syekh Abdul Muhyi jilid pertama. Membaca novel-novel ini terasa seperti melakukan perjalanan tanpa kendaraan: tubuh tetap berada di tempat, tetapi pikiran dan hati diajak menembus ruang dan waktu, mendatangi pesantren, bertemu para guru, dan menyaksikan perjuangan para pencari ilmu. Bukankah mungkin, salah satu cara terbaik mengenal seorang ulama adalah dengan menelusuri jalan panjang yang membentuk dirinya?


Suluk Syekh Abdul Muhyi membawa kita pada masa ketika Abdul Muhyi belum menjadi nama besar yang dikenal dalam sejarah keulamaan tatar Sunda. Kisah dimulai dari latar belakang kedua orang tuanya, lingkungan keluarga, dan proses awal yang menjadi bagian dari pembentukan dirinya. Di sinilah kita belajar bahwa seorang ulama tidak tiba-tiba hadir sebagai sosok yang selesai. Ada keluarga yang menanamkan nilai, ada lingkungan yang membentuk karakter, ada guru yang membuka cakrawala, dan ada perjalanan panjang yang menempa jiwa. Sebelum seseorang menjadi tempat bertanya bagi umat, ia terlebih dahulu menjadi seorang pencari yang bertanya kepada para gurunya.


Perjalanan Abdul Muhyi kemudian membawa kita ke Ampel Denta. Di sana ia menjalani kehidupan pesantren selama lebih dari enam tahun. Angka enam tahun lebih itu terasa sederhana ketika hanya dituliskan di atas kertas, tetapi menjadi sangat panjang jika dibayangkan sebagai kehidupan seorang santri. Bertahun-tahun tinggal di lingkungan pesantren, hidup bersama guru dan sesama santri, belajar, mengaji, berkhidmah, menata diri, dan menjalani rutinitas yang mungkin tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi bagi kedalaman ilmu. Pesantren pada akhirnya bukan hanya tempat seseorang memperoleh pengetahuan, melainkan tempat seseorang belajar menjadi manusia.


Dari Ampel Denta, suluk itu berlanjut. Abdul Muhyi melakukan perjalanan menuju Aceh untuk berguru kepada Syekh Abdul Rauf as-Sinkili. Bayangkan seorang santri pada masa itu meninggalkan tempat yang telah menjadi rumah belajarnya, kemudian menempuh perjalanan jauh demi bertemu seorang guru. Tidak ada kendaraan cepat, tidak ada peta digital, tidak ada pesan instan yang dapat menghubungkan murid dengan guru dalam hitungan detik. Yang ada adalah tekad, kesabaran, keberanian, dan keyakinan bahwa perjalanan mencari ilmu memang layak ditempuh sejauh apa pun jalannya. Barangkali karena itulah ilmu yang diperoleh melalui perjalanan sering kali tidak hanya memenuhi kepala, tetapi juga membentuk jiwa.


Dalam perjalanan itu, Banten menjadi salah satu persinggahan yang menarik. Abdul Muhyi berkesempatan mendengarkan tausiah Syekh Yusuf al-Makassari, ulama besar yang berasal dari Gowa dan kemudian hijrah ke Banten. Perjumpaan tersebut membuka jendela lain tentang wajah Islam Nusantara. Kita menemukan bahwa para ulama masa lalu tidak hidup dalam ruang yang terpisah-pisah. Ada perjalanan yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain, ada guru yang menghubungkan satu generasi dengan generasi berikutnya, dan ada jaringan keilmuan yang membuat cahaya ilmu bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.


Jika kita tarik garis dari Gowa, Banten, Ampel, hingga Aceh, lalu membawanya kembali menuju tatar Sunda, kita seperti melihat sebuah peta besar perjalanan ilmu. Peta itu tidak hanya berisi nama kota, tetapi juga nama para ulama dan mata rantai sanad keilmuan. Di situlah kita menyadari bahwa sejarah Islam di Nusantara tidak dibangun hanya oleh bangunan masjid dan pesantren, tetapi juga oleh langkah kaki para pencari ilmu. Ada ulama yang berjalan jauh untuk belajar, ada murid yang berpindah tempat untuk mencari guru, dan ada ilmu yang kemudian dibawa pulang untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.


Maka membaca Suluk Syekh Abdul Muhyi bagi saya bukan sekadar membaca novel sejarah. Ia menjadi semacam ziarah intelektual. Ziarah yang tidak mengharuskan kita datang secara fisik ke makam seorang ulama, tetapi mengajak kita mendatangi kembali jejak pemikirannya, perjalanan belajarnya, guru-gurunya, dan nilai-nilai yang diwariskannya. Kita seperti mengetuk pintu masa lalu, lalu mendengar suara para pendahulu berbicara kepada kita melalui kisah hidup mereka. Novel menjadi jembatan yang mempertemukan pembaca masa kini dengan dunia yang telah berlalu, tetapi nilai-nilainya masih dapat menerangi kehidupan hari ini.


Yang paling terasa dari kisah Abdul Muhyi adalah tentang proses. Hari ini kita hidup dalam budaya serba cepat. Ingin mengetahui sesuatu, kita mencari di internet. Ingin belajar, kita membuka video. Ingin membaca kitab, banyak tersedia dalam bentuk digital. Kemudahan itu tentu merupakan nikmat besar. Tetapi kisah para ulama mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh informasi tidak selalu identik dengan kedalaman ilmu. Abdul Muhyi membutuhkan waktu bertahun-tahun di pesantren, menempuh perjalanan jauh, dan berguru kepada ulama-ulama besar. Ia menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya persoalan seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi juga seberapa dalam sesuatu itu membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengabdi.


Ada pula pelajaran penting tentang guru. Dalam tradisi pesantren, guru bukan sekadar sumber materi pelajaran. Guru adalah mata rantai yang menghubungkan seorang murid dengan tradisi ilmu yang lebih panjang. Karena itu, perjalanan Abdul Muhyi dari Ampel menuju Aceh bukan sekadar perpindahan geografis. Ia adalah perpindahan dari satu mata rantai ke mata rantai berikutnya. Dari seorang guru kepada guru yang lain. Dari satu majelis ilmu menuju majelis ilmu berikutnya. Dari satu pengalaman menuju pengalaman baru. Semua itu kemudian menjadi bekal ketika seorang santri kembali membawa ilmu kepada masyarakatnya.


Barangkali inilah yang membuat kisah para ulama selalu menarik untuk dibaca ulang. Kita sering mengenal mereka dari nama besarnya, dari pesantrennya, dari karya-karyanya, atau dari makam yang diziarahi banyak orang. Tetapi novel seperti Suluk Syekh Abdul Muhyi mengajak kita melihat sisi lain: sebelum menjadi ulama yang besar, mereka adalah para santri yang bersedia berjalan. Mereka pernah menjadi murid. Mereka pernah duduk di hadapan guru. Mereka pernah menunggu, mengulang pelajaran, menjalani kehidupan sederhana, dan menempuh perjalanan yang panjang. Kebesaran mereka bukanlah titik awal, melainkan buah dari suluk yang panjang.


Mungkin karena itu, membaca kisah para kyai di tatar Sunda terasa seperti sedang membaca kembali bagian dari identitas kita sendiri. Ada sejarah keilmuan yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi terkadang semakin jauh dari ingatan generasi yang hidup sekarang. Novel-novel Kang Fauz Noor Zaman menjadi salah satu ikhtiar untuk menghadirkan kembali wajah-wajah itu dalam bentuk yang lebih dekat dengan pembaca. Sejarah tidak lagi terasa sebagai kumpulan tanggal dan nama, tetapi menjadi kisah manusia yang memiliki perjalanan, perjuangan, guru, keluarga, dan cita-cita.


Dan saya merasa perjalanan membaca Suluk Syekh Abdul Muhyi jilid pertama ini belum selesai. Justru jilid pertama seperti membuka pintu menuju perjalanan yang lebih panjang. Dari latar belakang keluarga, masa mesantren di Ampel Denta, perjalanan menuju Aceh, hingga persinggahan di Banten dan perjumpaan dengan para ulama besar, semuanya seperti kepingan yang sedang disusun menjadi sebuah mozaik besar tentang perjalanan seorang ulama. Saya menunggu halaman-halaman berikutnya bukan hanya karena ingin mengetahui kelanjutan ceritanya, tetapi karena ingin kembali belajar dari sebuah perjalanan yang mungkin sudah berlalu ratusan tahun, tetapi pertanyaannya masih sangat relevan untuk kita hari ini.


Sebab pada akhirnya, setiap orang memiliki suluknya sendiri. Tidak semua orang harus pergi ke Ampel Denta. Tidak semua orang harus menyeberang menuju Aceh. Tidak semua orang akan berjumpa dengan Syekh Abdul Rauf as-Sinkili atau Syekh Yusuf al-Makassari. Tetapi setiap pencari ilmu harus memiliki keberanian untuk berjalan, kesabaran untuk berproses, kerendahan hati untuk berguru, dan kesungguhan untuk mengamalkan apa yang telah dipelajari. Barangkali itulah pesan terdalam yang saya rasakan setelah mengkhatamkan jilid pertama ini: ilmu memiliki jalan, dan jalan ilmu selalu menuntut perjalanan.


Maka membaca kisah para ulama bukanlah sekadar mengenang masa lalu. Ia adalah usaha untuk menemukan kembali arah perjalanan kita hari ini. Kita membaca jejak mereka agar langkah kita tidak kehilangan tujuan. Kita mengenang guru-guru mereka agar kita tidak lupa pentingnya sanad. Kita mengikuti pengembaraan mereka agar kita memahami bahwa kedalaman membutuhkan waktu. Dan kita menelusuri suluk mereka agar kita sadar bahwa pada akhirnya, ilmu bukan untuk membuat seseorang berhenti pada dirinya sendiri, melainkan untuk mengantarkannya kembali kepada umat dengan membawa cahaya yang lebih luas.


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 30 September 2026