Dari Sowan Menjadi Inspirasi: Menelusuri Jejak Inovasi dari Amtsilati menuju Metode Irfani

Penulis: Dr. H. Irfan Soleh, S.Th.I., MBA


Kamis, 24 September 2026, menjadi salah satu hari yang meninggalkan kesan mendalam. Alhamdulillah, saya berkesempatan sowan kepada Abah Romo Kyai KH. Taufiqul Hakim di Pesantren Al-Muslimun Cianjur. Saya datang membawa satu kitab Taqrib yang dikembangkan dengan Metode Irfani. Namun, sebuah kejutan justru saya terima ketika Abah Yai memberikan kepada saya 34 kitab karya beliau, mulai dari Syi’iran Motivasi Penyejuk Hati, Sifat-Sifat yang Terpuji, Sifat-Sifat yang Tercela, dan berbagai karya lainnya. Pertemuan itu bukan sekadar perjumpaan antara seorang murid dan guru, tetapi seperti pertemuan dua ikhtiar untuk terus menghadirkan pembaruan dalam dunia pesantren. Jika seorang guru telah mewariskan ilmu sekaligus keberanian untuk berinovasi, sejauh mana kita mampu melanjutkan jejak itu dengan karya dan terobosan yang nyata?


Yang semakin menggetarkan hati adalah ketika Abah Yai memperlihatkan seorang anak berusia sekitar sepuluh tahun yang sudah mampu membaca kitab Fathul Qarib lengkap dengan analisis nahwu-sharaf, menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, bahkan mampu menjelaskan maknanya dalam bahasa Inggris. Bagi sebagian orang, kemampuan seperti itu mungkin tampak sederhana karena yang terlihat hanyalah seorang anak membaca kitab. Tetapi bagi seorang pendidik pesantren, di balik kemampuan tersebut terdapat sebuah sistem, metode, proses, latihan, dan keberanian untuk menemukan cara belajar yang lebih efektif. Di situlah saya melihat bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari satu pertanyaan sederhana: bagaimana ilmu yang dahulu membutuhkan waktu panjang dapat dipelajari dengan lebih mudah tanpa kehilangan kedalaman dan tradisi keilmuannya?


Amtsilati yang dikembangkan Abah Yai KH. Taufiqul Hakim merupakan salah satu contoh bagaimana kreativitas seorang pendidik dapat melahirkan perubahan dalam pembelajaran kitab kuning. Tradisi membaca kitab kuning tetap dipertahankan, tetapi cara menuju kemampuan tersebut dibuat lebih sistematis, praktis, dan terstruktur. Kaidah-kaidah nahwu dan sharaf yang sebelumnya terasa berat bagi sebagian santri disusun melalui pendekatan yang lebih mudah dicerna, disertai contoh, pola, latihan, dan pembiasaan. Dengan demikian, inovasi tidak berarti meninggalkan tradisi. Justru inovasi dapat menjadi jalan agar tradisi keilmuan tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi yang berbeda zaman. Inilah makna penting kreativitas dalam pendidikan: bukan sekadar membuat sesuatu yang baru, tetapi menemukan cara baru agar sesuatu yang baik dapat diterima dan diamalkan dengan lebih efektif.


Pertemuan dengan Abah Yai semakin menguatkan keyakinan kami di Pesantren Raudhatul Irfan bahwa setiap metode pendidikan harus memiliki orientasi yang jelas pada output. Kami memiliki cita-cita agar setelah menyelesaikan kurikulum pasca-Amtsilati, santri tidak hanya mengetahui kaidah, tetapi benar-benar mampu membuka kitab gundul, membaca dengan tepat, menganalisis struktur nahwu-sharaf, memahami kandungan makna, serta menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Dari cita-cita itulah Metode Irfani terus kami kembangkan. Jika Amtsilati telah menunjukkan bahwa pembelajaran kitab kuning dapat dibuat lebih sistematis dan mudah, maka Metode Irfani berusaha melanjutkan ikhtiar tersebut dengan mengembangkan pengalaman belajar yang menghubungkan tradisi pesantren dengan kebutuhan kompetensi santri masa kini.


Metode Irfani bukan dimaksudkan untuk menggantikan tradisi pesantren, melainkan mengembangkan cara agar tradisi tersebut semakin mudah dipelajari dan memiliki daya jangkau yang lebih luas. Bandongan dan sorogan tetap menjadi ruh pembelajaran. Kaidah nahwu-sharaf tetap menjadi fondasi. Kitab kuning tetap menjadi sumber utama. Namun proses pembelajaran diperkaya dengan penerjemahan kata demi kata, penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta pemetaan konsep melalui mind mapping. Dengan pendekatan tersebut, santri tidak hanya diarahkan untuk mampu membaca teks, tetapi juga memahami struktur, hubungan antarkonsep, dan pesan yang terkandung di dalamnya. Inilah yang kami sebut sebagai ikhtiar menghadirkan Irfani Bilingual Method dalam pembelajaran kitab kuning.


Saya kemudian teringat salah satu bagian dalam karya Abah Yai berjudul Sifat-Sifat yang Terpuji, yaitu pembahasan tentang keutamaan menjadi pribadi yang inovatif. Beliau mengutip hadis Nabi ﷺ tentang orang yang merintis suatu kebiasaan yang baik, maka ia memperoleh pahala dari kebiasaan tersebut dan pahala orang-orang yang mengikutinya selama kebiasaan itu terus dilakukan. Sebaliknya, orang yang merintis kebiasaan buruk akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya. Beliau juga mengutip hadis riwayat Muslim bahwa siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. Hadis-hadis tersebut memberikan perspektif yang sangat dalam bahwa sebuah inovasi tidak hanya berbicara tentang kecerdasan menemukan sesuatu yang baru, tetapi juga tentang keberanian membuka jalan kebaikan yang kemudian dapat ditempuh oleh banyak orang.


Dalam perspektif itu, kreativitas dan inovasi menjadi bagian dari amal jariyah intelektual. Sebuah metode pembelajaran yang baik, sebuah buku yang bermanfaat, sebuah sistem pendidikan yang memudahkan orang belajar, atau sebuah gagasan yang kemudian diamalkan oleh banyak orang dapat terus memberikan manfaat meskipun pencetusnya telah tiada. Karena itu, menjadi produktif bukan sekadar menghasilkan banyak karya. Produktivitas seorang ulama seharusnya diarahkan untuk memperluas manfaat ilmu. Dan Abah Yai, bagi saya, telah memberikan contoh nyata mengenai hal tersebut. Puluhan kitab yang beliau tulis menunjukkan bahwa seorang kyai tidak hanya dapat mengajar dari mimbar dan pesantren, tetapi juga dapat meninggalkan jejak melalui tulisan, metode, sistem, dan gagasan yang terus bergerak melampaui ruang dan generasi.


Yang menarik, kreativitas Abah Yai tidak berhenti pada produktivitas menulis. Beliau juga berani melakukan terobosan metodologis. Amtsilati menjadi salah satu bukti bahwa tradisi pendidikan pesantren dapat berdialog dengan kreativitas tanpa kehilangan identitasnya. Di sinilah saya melihat bahwa inovasi bukan lawan dari tradisi. Tradisi memberikan akar, sedangkan inovasi memberikan sayap. Tanpa akar, inovasi mudah kehilangan arah. Tanpa sayap, tradisi berisiko sulit menjangkau generasi yang terus berubah. Maka tugas kita bukan memilih antara tradisi atau inovasi, tetapi bagaimana menjadikan tradisi sebagai fondasi untuk melahirkan inovasi yang tetap berakar pada nilai-nilai keilmuan Islam.


Metode Irfani kemudian lahir dalam semangat yang sama. Ia bukan klaim bahwa kami telah menemukan sesuatu yang selesai, melainkan sebuah ikhtiar untuk terus belajar dari para guru dan mengembangkan apa yang telah diwariskan. Ketika kami mengembangkan Irfani Kitab Project, misalnya, kami mencoba menerapkan pendekatan tersebut pada beberapa kitab seperti Safinatun Najah, Riyadhul Badi’ah, Tijan ad-Darari, serta Tafsir Jalalain. Tujuannya bukan sekadar menerjemahkan kitab, tetapi membangun pengalaman belajar yang memungkinkan santri membaca teks Arab, memahami struktur bahasanya, menangkap konsepnya, dan mampu menjelaskan kembali dengan bahasa yang lebih luas, termasuk bahasa Inggris. Dengan demikian, pembelajaran kitab kuning diarahkan menjadi kemampuan yang hidup, bukan sekadar hafalan kaidah.


Karena itu, sowan kepada Abah Yai hari itu terasa seperti bercermin. Kami datang membawa satu kitab, tetapi pulang membawa 34 kitab dan, yang jauh lebih penting, membawa pesan yang tidak tertulis di antara halaman-halamannya. Pesannya adalah bahwa seorang pendidik harus terus membaca, menulis, mencoba, mengevaluasi, memperbaiki, dan berani membuat terobosan. Seorang kyai tidak cukup hanya mewariskan apa yang pernah dipelajari; ia juga perlu menyiapkan jalan agar generasi berikutnya dapat belajar dengan lebih baik. Di sinilah kreativitas memperoleh makna spiritualnya: kreativitas bukan sekadar kemampuan menghasilkan sesuatu yang berbeda, tetapi kemampuan menemukan jalan baru menuju kemaslahatan.


Maka, cita-cita kami di Raudhatul Irfan sesungguhnya sederhana tetapi besar: suatu hari nanti kami ingin memperlihatkan santri yang mampu mengambil kitab kuning tanpa harakat, membacanya dengan benar, menganalisis nahwu-sharafnya, memahami kandungannya, kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Ketika seorang anak mampu melakukan itu, yang ingin kami tampilkan bukan sekadar kemampuan seorang santri. Kami ingin memperlihatkan bahwa tradisi pesantren dapat terus berkembang melalui kreativitas dan inovasi. Kami ingin membuktikan bahwa kitab kuning dapat tetap menjadi pusat pendidikan, sekaligus dipelajari dengan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan zaman.


Pada akhirnya, pertemuan dengan Abah Yai mengajarkan kepada kami bahwa inovasi adalah keberanian untuk memikirkan masa depan tanpa meninggalkan akar masa lalu. Amtsilati telah memberikan inspirasi bahwa kesulitan membaca kitab dapat dicarikan jalan keluarnya melalui metode yang kreatif dan sistematis. Metode Irfani adalah salah satu ikhtiar kami untuk melanjutkan semangat tersebut dalam konteks Pesantren Raudhatul Irfan. Kami sadar bahwa perjalanan ini masih panjang. Metode akan terus diuji, dievaluasi, dan disempurnakan. Namun sebagaimana pesan yang kami tangkap dari karya Abah Yai, kebaikan yang dirintis dengan ikhlas dapat menjadi jalan bagi kebaikan berikutnya. Semoga dari satu guru lahir banyak murid yang berani berkarya, dari satu metode lahir banyak metode yang bermanfaat, dan dari satu pesantren lahir generasi yang mampu menjaga tradisi sekaligus berani menciptakan inovasi untuk kemajuan umat.


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 25 September 2026