Mendidik dengan Cinta: Parenting Ala Rasulullah ﷺ

Penulis: Irfan Soleh


Ada satu fase dalam kehidupan orang tua ketika melepas anak ke pesantren terasa seperti melepas sebagian dari dirinya sendiri. Ada rasa bangga, haru, rindu, sekaligus cemas yang bercampur menjadi satu. Anak yang selama ini berada dalam pelukan keluarga, kini belajar hidup bersama guru, teman, aturan, jadwal, dan lingkungan baru. Namun sesungguhnya, ketika seorang anak dititipkan ke pesantren, yang dititipkan bukan hanya tubuh dan masa depannya, melainkan juga iman, akhlak, kebiasaan, dan arah kehidupannya. Lalu, sudahkah kita sebagai orang tua memandang pendidikan anak sebagai amanah Allah, bukan sekadar proyek untuk mencapai kesuksesan dunia?


Allah mengingatkan orang-orang beriman agar menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Pesan ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga bukan sekadar urusan akademik, tetapi bagian dari tanggung jawab spiritual. Anak bukan hanya harus menjadi pintar, tetapi juga harus mengenal siapa Tuhannya, mencintai Rasul-Nya, menghormati orang tua dan guru, serta mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Karena itu, ketika orang tua berbicara tentang masa depan anak, seharusnya yang dibicarakan bukan hanya sekolah terbaik, pekerjaan terbaik, atau penghasilan terbesar. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah semua keberhasilan itu akan membawa anak semakin dekat kepada Allah?


Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dalam konteks keluarga, orang tua bukan hanya penyedia kebutuhan anak, tetapi juga pembentuk arah kehidupannya. Ayah dan ibu adalah sekolah pertama sebelum anak mengenal sekolah formal, bahkan sebelum mengenal pesantren. Anak pertama kali belajar tentang cinta dari pelukan orang tua, belajar tentang kejujuran dari perkataan orang tua, belajar tentang kesabaran dari cara orang tua menghadapi masalah, dan belajar tentang agama dari bagaimana orang tua menjalankan ibadah. Maka, pendidikan yang paling kuat sering kali bukan yang disampaikan melalui kata-kata, tetapi yang diperlihatkan melalui keteladanan.


Di sinilah kita menemukan salah satu rahasia parenting ala Rasulullah ﷺ: cinta harus hadir sebelum nasihat. Rasulullah ﷺ pernah mencium Hasan bin Ali radhiyallahu ’anhuma. Ketika seseorang merasa heran karena ia tidak pernah mencium anak-anaknya, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” Betapa sederhana, tetapi begitu dalam pesan tersebut. Anak membutuhkan nasihat, tetapi sebelum menerima nasihat, ia membutuhkan rasa aman. Anak membutuhkan aturan, tetapi sebelum memahami aturan, ia perlu merasakan bahwa orang yang memberikan aturan benar-benar mencintainya. Sebab hati yang merasa dicintai akan lebih mudah menerima arahan.


Cinta dalam pendidikan tentu bukan berarti memanjakan anak atau membiarkan semua keinginannya. Rasulullah ﷺ adalah manusia yang penuh kasih sayang, tetapi sekaligus sangat tegas dalam perkara kebenaran. Karena itu, parenting yang kita pelajari dari beliau adalah perpaduan antara kelembutan dan ketegasan. Lembut dalam cara menyampaikan, tegas dalam menjaga prinsip. Anak boleh menangis, boleh kecewa, bahkan boleh tidak menyukai sebuah aturan, tetapi orang tua tetap harus mampu mengatakan bahwa tidak semua yang kita sukai itu baik dan tidak semua yang kita inginkan harus dipenuhi. Bukankah tugas orang tua bukan membuat anak selalu nyaman, tetapi mempersiapkannya menjadi manusia yang kuat menghadapi kehidupan?


Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan dialog Luqman dengan anaknya. Ia tidak memulai nasihat dengan bentakan, tetapi dengan panggilan yang penuh kasih: يَا بُنَيَّ, “Wahai anakku sayang.” Setelah itu, Luqman menanamkan tauhid, mengingatkan tentang pengawasan Allah, mengajarkan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, kesabaran, kerendahan hati, dan adab dalam berbicara. QS. Luqman ayat 13–19 memberikan gambaran bahwa pendidikan yang kokoh dimulai dari hati yang mengenal Allah, kemudian diterjemahkan menjadi ibadah dan akhlak. Inilah yang sering terlupakan ketika kita terlalu sibuk mengejar prestasi. Kita bertanya berapa nilai anak, tetapi lupa bertanya apakah hatinya semakin dekat kepada Allah.


Ketika anak pulang dari pesantren atau ketika orang tua mendapat kesempatan berbicara melalui telepon, pertanyaan yang muncul tidak harus selalu, “Sudah hafal berapa juz?”, “Nilaimu berapa?”, atau “Kamu sudah menang lomba apa?” Sesekali mari menggantinya dengan pertanyaan yang menyentuh hati: “Hari ini kamu belajar apa tentang Allah?”, “Kebaikan apa yang kamu lakukan hari ini?”, “Apakah ada teman yang kamu bantu?”, atau “Apa yang membuatmu bersyukur hari ini?” Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu perlahan menggeser orientasi pendidikan dari sekadar pencapaian menuju kesadaran. Anak belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menjadi hebat di mata manusia, tetapi juga tentang menjadi baik di hadapan Allah.


Rasulullah ﷺ juga menunjukkan bahwa anak harus diperlakukan sesuai dengan dunianya. Beliau bercanda dengan anak-anak, menyapa mereka, mendengarkan mereka, dan menunjukkan kasih sayang kepada mereka. Ini mengajarkan kepada kita bahwa mendidik bukan sekadar berbicara kepada anak, tetapi berusaha masuk ke dalam dunia anak agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh hatinya. Anak bukan orang dewasa dalam tubuh yang kecil. Ia memiliki cara berpikir, emosi, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, ketika mengoreksi kesalahan anak, kita perlu membedakan antara mengoreksi perilaku dan menghancurkan harga dirinya. Katakan, “Perbuatanmu kurang tepat,” bukan, “Kamu memang anak nakal.”


Hal lain yang sangat penting adalah keteladanan. Anak-anak mungkin lupa sebagian besar nasihat yang pernah kita sampaikan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana orang tuanya menjalani kehidupan. Mereka melihat bagaimana ayah berbicara kepada ibu, bagaimana ibu menghadapi masalah, bagaimana orang tua memperlakukan guru, bagaimana keluarga menjaga shalat, bagaimana menghadapi perbedaan, dan bagaimana meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Karena itu, jika kita ingin anak mencintai Al-Qur’an, mari kita tunjukkan kecintaan kita kepada Al-Qur’an. Jika ingin anak menjaga shalat, mari kita jaga shalat kita. Jika ingin anak santun, mari kita santun. Bukankah anak lebih mudah meniru apa yang dilihat daripada menghafal apa yang diperintahkan?


Ketika anak mulai masuk pesantren, tanggung jawab pendidikan tidak berpindah sepenuhnya dari orang tua kepada guru. Yang terjadi justru seharusnya adalah lahirnya sebuah kemitraan. Pesantren melanjutkan apa yang telah dimulai oleh keluarga, sementara keluarga memperkuat apa yang ditanamkan oleh pesantren. Jangan sampai pesantren mengajarkan disiplin, sementara rumah justru membatalkannya dengan alasan kasihan. Jangan sampai pesantren mengajarkan kemandirian, sementara orang tua selalu menyelesaikan seluruh persoalan anak. Jangan sampai pesantren mengajarkan adab kepada guru, sementara orang tua justru mudah mencurigai dan menyalahkan guru. Pendidikan akan menjadi kuat ketika rumah dan pesantren menyampaikan pesan yang sama.


Karena itu, penjengukan pertama santri baru seharusnya tidak hanya menjadi momentum membawa makanan atau memenuhi kerinduan setelah beberapa hari berpisah. Lebih dari itu, penjengukan adalah kesempatan untuk memberikan energi baru kepada anak. Peluklah mereka. Dengarkan ceritanya. Tanyakan bagaimana perasaannya. Berikan apresiasi karena ia telah berani memulai kehidupan baru. Katakan, “Ayah dan Ibu bangga kepadamu.” Katakan, “Kami tahu kamu sedang belajar beradaptasi.” Dan jangan lupa mengatakan, “Kalau ada kesulitan, ceritakan kepada kami.” Kalimat sederhana seperti itu mungkin terlihat biasa bagi orang tua, tetapi bagi anak yang sedang belajar mandiri, ia bisa menjadi kekuatan yang luar biasa.


Sebaliknya, ada kalimat-kalimat yang sebaiknya kita hindari ketika menjenguk anak. Jangan mengatakan, “Kasihan kamu di sini,” “Kalau tidak betah pulang saja,” atau “Di rumah sebenarnya lebih enak.” Kalimat tersebut mungkin lahir dari rasa sayang, tetapi tanpa disadari dapat membuat anak semakin berat menjalani proses adaptasi. Anak yang sedang belajar mandiri membutuhkan keyakinan bahwa orang tuanya percaya kepada dirinya dan percaya kepada proses pendidikan yang sedang dijalani. Tentu jika ada masalah serius, orang tua harus hadir dan berkomunikasi dengan pesantren. Tetapi untuk persoalan adaptasi, rasa rindu, atau ketidaknyamanan kecil, anak perlu belajar bahwa setiap perjalanan memiliki fase yang harus dilewati.


Rasulullah ﷺ juga mengajarkan pentingnya pendidikan secara bertahap. Bahkan dalam persoalan shalat, anak diperintahkan untuk dibiasakan sejak usia tujuh tahun. Pesannya jelas: pendidikan membutuhkan proses. Kita tidak bisa berharap anak menjadi disiplin hanya karena satu kali dinasihati. Kita tidak bisa berharap anak langsung mandiri hanya karena sekali diberi tanggung jawab. Dan kita tidak bisa berharap anak langsung matang hanya karena sudah masuk pesantren. Ada proses jatuh dan bangun, ada kesalahan dan perbaikan, ada rindu dan adaptasi, ada kegagalan dan keberhasilan. Tugas kita sebagai orang tua adalah membersamai proses itu dengan kesabaran, doa, dan komunikasi yang sehat.


Dalam proses tersebut, jangan pernah membandingkan anak dengan anak yang lain. Setiap anak memiliki jalan pertumbuhannya sendiri. Ada yang cepat beradaptasi, ada yang membutuhkan waktu. Ada yang menonjol dalam akademik, ada yang kuat dalam kepemimpinan. Ada yang cepat menghafal, ada yang unggul dalam keterampilan. Tugas orang tua bukan memaksa semua anak menjadi sama, tetapi membantu setiap anak menemukan potensi terbaiknya dalam bingkai iman dan akhlak. Jangan katakan, “Lihat temanmu, dia sudah jauh lebih hebat.” Lebih baik katakan, “Mari kita lihat, apakah hari ini kamu sudah lebih baik daripada dirimu yang kemarin?”


Pada akhirnya, parenting ala Rasulullah ﷺ bukanlah sebuah metode yang rumit. Ia adalah cara memandang anak dengan kasih sayang, mendidiknya dengan keteladanan, mengarahkannya dengan ilmu, memperbaikinya dengan kelembutan, dan menguatkannya dengan doa. Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mampu membiayai pendidikannya, tetapi juga orang tua yang hadir dalam perjalanan batinnya. Ia membutuhkan rumah yang menjadi tempat pulang secara emosional, pesantren yang menjadi tempat tumbuh secara spiritual dan intelektual, serta lingkungan yang memberi ruang untuk mengamalkan nilai-nilai yang dipelajarinya.


Maka momentum Maulid Nabi Muhammad ﷺ ini seharusnya tidak berhenti pada rasa cinta dan kegembiraan memperingati kelahiran Rasulullah ﷺ. Mari kita bawa kecintaan itu ke dalam cara kita mendidik anak. Jika Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik, maka sudah semestinya cara beliau memperlakukan manusia menjadi inspirasi dalam memperlakukan anak-anak kita. Kita ingin anak-anak yang bukan hanya pintar, tetapi juga beriman. Bukan hanya berprestasi, tetapi juga berakhlak. Bukan hanya mandiri, tetapi juga bertawakal. Bukan hanya sukses, tetapi juga bermanfaat. Sebab pada akhirnya, anak yang paling membanggakan bukanlah yang paling tinggi pencapaiannya di mata manusia, tetapi yang paling dekat kepada Allah dan paling banyak memberi manfaat bagi sesama.


Dan mungkin inilah doa terbesar kita sebagai orang tua: semoga anak-anak yang hari ini kita antarkan ke Pesantren Raudhatul Irfan tidak sekadar tumbuh menjadi generasi yang menguasai ilmu, bahasa, teknologi, dan kewirausahaan, tetapi juga menjadi generasi yang hatinya hidup bersama Al-Qur’an, akhlaknya mengikuti Rasulullah ﷺ, langkahnya mandiri, pikirannya terbuka, tangannya siap berkarya, dan hidupnya bermanfaat. Semoga para wali santri mampu menjadi pasangan pendidikan bagi pesantren, bukan sekadar pengunjung ketika penjengukan. Semoga rumah dan pesantren berjalan dalam satu arah, satu doa, dan satu cita-cita: melahirkan generasi Qur’ani yang kuat imannya, mulia akhlaknya, luas ilmunya, mandiri kehidupannya, dan besar manfaatnya.


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 22 Agustus 2026