Dari Doa Zamzam Menuju Kemandirian Ekonomi: Membangun Ciamis sebagai Kabupaten Wirausaha
Penulis: Irfan Soleh
Doa yang masyhur ketika meminum air Zamzam mengajarkan kepada kita tiga fondasi penting dalam kehidupan seorang mukmin: ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesehatan yang terjaga. KH Nonop Hanafi dalam tabligh akbar pada acara pelantikan Pengurus Daerah Ikatan Persaudaraan Haji (IPHI) Kabupaten Ciamis menguraikan tiga hal tersebut sebagai gambaran pentingnya membangun manusia yang memiliki intelektualitas, keberdayaan ekonomi, dan kesehatan. Ketiganya saling berkaitan. Ilmu memberikan arah, kesehatan memberikan kekuatan, sementara keberdayaan ekonomi memberikan kemampuan untuk hidup mandiri dan menghadirkan manfaat bagi orang lain. Karena itu, sebagai Ketua Bidang Ekonomi Syariah IPHI Kabupaten Ciamis, saya melihat poin rizqan wāsi‘an bukan sekadar persoalan memiliki penghasilan, tetapi bagaimana membangun ekosistem agar masyarakat mampu menciptakan, mengembangkan, dan menikmati keberkahan ekonomi bersama. Lalu, bagaimana agar kita bisa berdaya secara ekonomi?
Keberdayaan ekonomi tidak selalu berarti setiap orang harus menjadi pengusaha besar. Keberdayaan dimulai ketika masyarakat mampu mengenali potensi yang dimilikinya, mengorganisasikannya, membangun kolaborasi, dan menciptakan nilai tambah. Ciamis sesungguhnya memiliki banyak potensi tersebut. Berbagai aktivitas ekonomi masyarakat telah tumbuh dan membentuk kluster-kluster usaha yang memiliki karakter, keterampilan, produk, dan pasar masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana potensi yang sudah ada itu tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dihubungkan menjadi sebuah ekosistem ekonomi daerah yang saling menguatkan.
Dari sinilah gagasan Ciamis Clustering Economy menjadi menarik untuk dikembangkan. Ciamis tidak harus memulai pembangunan ekonomi dari nol. Kita justru dapat memulai dari kekuatan yang sudah tumbuh di tengah masyarakat. Ada kluster tahu bulat, kluster ayam petelur, kluster ayam pedaging, kluster makanan ringan, kluster tepung aren, kluster pengusaha besi dan baja, serta berbagai kluster ekonomi lainnya yang dapat terus dipetakan dan dikembangkan. Setiap kluster memiliki potensi untuk menjadi kampung wirausaha, yaitu kawasan yang memiliki identitas ekonomi, produk unggulan, pelaku usaha, rantai pasok, pasar, dan ekosistem pendukung yang jelas.
Menariknya, sebagian besar pelaku usaha yang telah tumbuh dalam kluster-kluster tersebut merupakan para alumni haji. Artinya, mereka bukan hanya memiliki pengalaman dan kapasitas sebagai pelaku usaha, tetapi juga memiliki ikatan persaudaraan sebagai sesama jamaah haji yang secara kelembagaan dapat menjadi bagian dari IPHI Kabupaten Ciamis. Di sinilah terdapat potensi yang sangat besar: IPHI tidak perlu mencari pelaku usaha dari luar, karena banyak calon anggota dan penggerak ekonomi sudah tumbuh di tengah-tengah keluarga besar IPHI sendiri. Mereka dapat dihimpun dalam koperasi, diperkuat jejaringnya, dibantu dalam pemasaran, dan dikembangkan bersama melalui ekosistem Ciamis Clustering Economy.
Dari potensi tersebut, salah satu gagasan yang dapat kita mulai adalah membangun Koperasi IPHI Kabupaten Ciamis. Koperasi ini dapat menjadi wadah ekonomi bersama bagi para anggota IPHI dengan semangat tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Koperasi bukan sekadar tempat menyimpan simpanan atau memberikan pinjaman, tetapi dapat dikembangkan menjadi instrumen untuk menghimpun potensi ekonomi anggota, melakukan pengadaan bersama, membangun jaringan perdagangan, menyediakan kebutuhan jamaah, mengembangkan usaha produktif, hingga menciptakan sektor riil yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Dalam konsep ini, Koperasi IPHI Ciamis dapat mengambil peran sebagai agregator dan orkestrator ekonomi, bukan mengambil alih usaha masyarakat. Koperasi dapat bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk membantu melakukan pemetaan kluster, memperkuat kelembagaan pelaku usaha, meningkatkan kualitas produk, membangun branding kawasan, serta membuka akses pasar yang lebih luas. Misalnya, kluster tahu bulat tidak hanya dikenal sebagai kumpulan produsen tahu bulat, tetapi dapat memiliki identitas dan brand sebagai salah satu ikon ekonomi Ciamis. Begitu pula kluster ayam petelur, ayam pedaging, makanan ringan, tepung aren, besi dan baja, dan kluster lainnya dapat dikembangkan menjadi destinasi ekonomi sekaligus pusat produksi yang memiliki daya saing.
Salah satu persoalan utama UMKM hari ini bukan semata-mata kemampuan memproduksi, tetapi kemampuan memasarkan. Banyak produk masyarakat yang bagus, tetapi belum memiliki kemasan yang kuat, identitas merek yang jelas, foto produk yang menarik, katalog digital, media sosial yang aktif, serta akses ke pasar yang lebih luas. Karena itu, Koperasi IPHI bersama Pemda dapat membangun Digital Marketing Hub Ciamis, yang membantu para pelaku usaha dalam branding, pembuatan konten, pemasaran melalui media sosial, marketplace, katalog digital, hingga pengembangan jaringan distribusi. Dengan begitu, produk dari kampung-kampung wirausaha Ciamis tidak hanya dijual di lingkungannya sendiri, tetapi dapat menembus pasar regional, nasional, bahkan global.
Crowdfunding kemudian dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat sektor riil tersebut. Setelah kluster dipetakan dan peluang bisnisnya dirancang secara profesional, masyarakat dapat diberikan ruang untuk berpartisipasi dalam pembiayaan usaha produktif melalui skema yang sesuai prinsip syariah dan ketentuan regulasi yang berlaku. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem investasi dan pengembangan sektor riil. Modal yang selama ini mungkin tersebar dalam jumlah kecil dapat dihimpun untuk memperbesar kapasitas produksi, memperkuat rantai pasok, membangun fasilitas bersama, meningkatkan teknologi, atau membuka pasar baru.
Bayangkan jika setiap kluster memiliki koperasi atau kelompok usaha yang kuat, memiliki brand yang dikenal, memiliki pemasaran digital yang terintegrasi, dan memiliki akses pembiayaan yang sehat. Kluster-kluster tersebut kemudian saling terhubung dalam satu ekosistem Ciamis Clustering Economy. Peternak menghasilkan telur dan daging, industri makanan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, pelaku logistik mendistribusikan, pelaku digital memasarkan, koperasi mengagregasi, dan masyarakat menjadi konsumen sekaligus pemilik bagian dari ekosistem tersebut. Ekonomi tidak lagi bergerak secara individual, tetapi menjadi sebuah rantai nilai yang saling menghidupkan.
Inilah yang kemudian dapat menjadi visi besar: Ciamis sebagai Kabupaten Wirausaha. Sebuah kabupaten yang bukan hanya memiliki produk unggulan, tetapi memiliki budaya kewirausahaan. Anak-anak mudanya melihat usaha sebagai pilihan masa depan. Santri belajar menjadi entrepreneur. Para pemuda tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi mulai menciptakan pekerjaan. Para pelaku UMKM tidak berjalan sendiri, tetapi terhubung dalam kluster. Pemerintah hadir sebagai fasilitator, dunia pendidikan sebagai pencetak talenta, koperasi sebagai penguat ekosistem, dan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi.
Dalam konteks ini, IPHI memiliki posisi yang sangat strategis. Para alumni haji memiliki pengalaman, jaringan, modal sosial, dan semangat pengabdian yang dapat diarahkan untuk membangun kebermanfaatan ekonomi. Koperasi IPHI Ciamis dapat menjadi kendaraan kelembagaan untuk mengubah semangat persaudaraan pascahaji menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Dari ukhuwah islamiyah menuju ukhuwah iqtisadiyah—persaudaraan yang tidak berhenti pada silaturahmi, tetapi berlanjut pada kerja sama produktif.
Pada akhirnya, doa “Allahumma inni as’aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan wāsi‘an, wa syifā’an min kulli dā’in” dapat kita maknai sebagai sebuah agenda pembangunan manusia. Kita memohon ilmu yang bermanfaat, lalu membangun masyarakat berpengetahuan. Kita memohon rezeki yang luas, lalu membangun ekonomi yang produktif, inklusif, dan berkeadilan. Kita memohon kesembuhan dari segala penyakit, lalu membangun masyarakat yang sehat dan berkualitas. Dan untuk mewujudkan rizqan wāsi‘an, salah satu ikhtiar kita adalah membangun Ciamis Clustering Economy melalui kampung-kampung wirausaha, Koperasi IPHI, penguatan branding, digital marketing, pembiayaan sektor riil, dan kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Ciamis.
Semoga dari Ciamis lahir semakin banyak entrepreneur yang berilmu, berdaya, dan bermanfaat. Sebab ukuran keberhasilan ekonomi bukan hanya berapa banyak uang yang kita kumpulkan, tetapi berapa banyak nilai yang kita ciptakan, berapa banyak orang yang kita berdayakan, dan berapa banyak lapangan pekerjaan yang kita lahirkan. Dari doa Zamzam kita membangun visi; dari koperasi kita membangun kolaborasi; dari kampung wirausaha kita membangun produksi; dari digitalisasi kita memperluas pasar; dan dari Ciamis kita menyalakan api kewirausahaan untuk Indonesia.
Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 20 Agustus 2026

0 Komentar