Dakwah Kekinian: Menemukan Pintu Hati Generasi Z
Penulis: Irfan Soleh
Dakwah tidak pernah kehilangan relevansinya, tetapi cara manusia menerima dakwah terus mengalami perubahan. Jika dahulu seseorang belajar agama dengan datang ke masjid, pesantren, atau majelis taklim, hari ini nasihat agama bisa ditemukan ketika seseorang sedang membuka TikTok, menonton film, bermain sepak bola, menjalankan bisnis, atau sekadar berselancar di media sosial. Karena itu, tantangan dakwah hari ini bukan hanya bagaimana menyampaikan kebenaran, tetapi bagaimana menemukan pintu masuk yang membuat generasi hari ini bersedia mendengarkan. Jika manusia dan zamannya berubah, bukankah cara kita mengetuk pintu hati mereka juga perlu berubah?
Kita bisa melihat fenomena menarik dari sejumlah dai yang berhasil menemukan pintu masuk tersebut. Habib Ja’far misalnya, tidak hanya berdakwah melalui mimbar, tetapi juga masuk ke dunia film melalui Seni Merayu Tuhan. Hanan Attaki mendekati anak muda melalui komunitas, hobi, dan kultur keseharian mereka. Ustadz Rifqi menggunakan sepak bola sebagai ruang perjumpaan dan persaudaraan. Sementara Koh Dennis Lim banyak menggunakan pengalaman hidup, cerita personal, bahasa sederhana, dan problem sehari-hari sebagai jembatan menuju pesan Islam. Mereka menunjukkan bahwa dakwah tidak selalu harus dimulai dengan mengatakan, “Mari kita belajar agama,” tetapi bisa dimulai dengan sesuatu yang memang sudah dicintai oleh manusia.
Di titik ini, dakwah kekinian sebenarnya bukan berarti menjadikan agama tunduk kepada tren. Kekinian bukan berarti semua yang viral harus dijadikan materi dakwah. Kekinian adalah kemampuan membaca zaman tanpa kehilangan arah. Al-Qur’an tetap menjadi sumber nilai, sunnah tetap menjadi pedoman, akhlak tetap menjadi tujuan, tetapi cara menghadirkannya bisa sangat beragam. Film bisa menjadi media dakwah, olahraga bisa menjadi ruang dakwah, bisnis bisa menjadi laboratorium dakwah, teknologi bisa menjadi sarana dakwah, bahkan secangkir kopi dan percakapan sederhana bisa menjadi pintu masuk menuju kesadaran spiritual.
Dalam konteks inilah metode dakwah Koh Dennis Lim menjadi menarik untuk diperhatikan. Salah satu kekuatannya adalah storytelling. Ia tidak hanya menyampaikan apa yang seharusnya dilakukan seseorang, tetapi sering menghubungkannya dengan perjalanan, pengalaman, kesalahan, dan proses perubahan. Cerita membuat pesan agama terasa manusiawi. Orang tidak merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang berdiri di atas menara kesempurnaan, tetapi dengan seseorang yang juga pernah berjalan, tersesat, kemudian menemukan jalan pulang. Bagi generasi muda yang sedang bergulat dengan banyak persoalan, pesan semacam ini terasa lebih dekat karena dakwah tidak datang sebagai penghakiman, melainkan sebagai ajakan untuk bertumbuh.
Kekuatan lainnya adalah kemampuannya menggunakan bahasa yang sederhana untuk membicarakan persoalan yang serius. Agama tidak selalu disampaikan dalam istilah yang berat, tetapi diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini kita belajar bahwa bahasa dakwah bukan sekadar persoalan pilihan kata, tetapi persoalan empati. Dai perlu mengetahui apa yang sedang dipikirkan, ditakutkan, dicari, dan diimpikan oleh mad’unya. Ketika seorang dai memahami dunia audiensnya, ia dapat menemukan analogi, cerita, humor, dan sudut pandang yang membuat pesan agama terasa dekat tanpa kehilangan substansi.
Menariknya, pendekatan seperti ini memiliki titik temu dengan apa yang sedang dikembangkan di Raudhatul Irfan melalui konsep Quranicpreneur. Jika Koh Dennis banyak menjadikan perjalanan hidup dan pengalaman sebagai pintu masuk dakwah, Raudhatul Irfan mencoba menjadikan kehidupan nyata, kreativitas, kewirausahaan, teknologi, dan pengalaman belajar sebagai ruang internalisasi nilai Al-Qur’an. Quranicpreneur tidak dimaksudkan untuk sekadar mencetak santri yang bisa mengaji sekaligus bisa berbisnis, tetapi membangun cara pandang bahwa Al-Qur’an harus hadir dalam cara seseorang berpikir, bekerja, berinteraksi, mengambil keputusan, dan memberikan manfaat.
Di sinilah pendidikan dan dakwah sesungguhnya bertemu. Anak-anak tidak cukup hanya diberi tahu bahwa Islam mengajarkan kejujuran; mereka perlu mengalami bagaimana kejujuran dipraktikkan dalam transaksi. Mereka tidak cukup hanya mendengar bahwa Islam mengajarkan tanggung jawab; mereka perlu diberi proyek yang membuat mereka belajar bertanggung jawab. Mereka tidak cukup hanya diajarkan bahwa rezeki harus halal; mereka perlu memahami bagaimana sebuah produk dibuat, dipasarkan, dijual, dan dipertanggungjawabkan secara etis. Al-Qur’an tidak berhenti sebagai teks yang dibaca, tetapi menjadi nilai yang dihidupkan.
Karena itu, Quranicpreneur dapat dibaca sebagai salah satu bentuk dakwah melalui pengalaman. Santri belajar bahwa menjadi Muslim bukan hanya persoalan hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga bagaimana menghadirkan kebermanfaatan di tengah masyarakat. Mereka belajar entrepreneurship bukan semata-mata agar menjadi pengusaha kaya, tetapi agar memiliki mental produktif, kreatif, mandiri, mampu menciptakan solusi, membuka lapangan pekerjaan, dan membangun ekosistem ekonomi yang berkeadilan. Dengan demikian, kewirausahaan menjadi salah satu wahana untuk menerjemahkan nilai-nilai Qur’ani ke dalam kehidupan sosial.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika generasi muda hidup di tengah perubahan ekonomi digital. QRIS, marketplace, media sosial, content creation, ekonomi kreatif, dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari keseharian mereka. Maka mengajarkan agama kepada generasi digital juga perlu menyentuh realitas digital mereka. Santri perlu belajar bukan hanya bagaimana menjadi pengguna teknologi, tetapi bagaimana menjadi creator, entrepreneur, problem solver, sekaligus insan Qur’ani. Inilah ruang dakwah yang sangat luas: menghadirkan nilai Islam bukan hanya di masjid, tetapi juga di kelas, koperasi, minimarket pesantren, marketplace, media sosial, dan dunia usaha.
Karena itu pula, perjumpaan Raudhatul Irfan dengan Koh Dennis Lim dalam Festival Riung QRIS Bank Indonesia KPW Tasikmalaya menjadi menarik jika dibaca lebih jauh daripada sekadar sebuah acara. Tema “Riungna Asyik, Manfaatna Apik” memiliki pesan yang sangat kuat. Ada unsur riung, berkumpul dan membangun kedekatan; ada unsur asyik, menghadirkan suasana yang ramah dan menyenangkan; dan ada unsur manfaat, memastikan bahwa perjumpaan tersebut tidak berhenti pada kesenangan, tetapi menghasilkan sesuatu yang baik bagi masyarakat. Di sinilah dakwah, pendidikan, teknologi, ekonomi, dan kreativitas dapat bertemu dalam satu ruang.
Festival seperti ini juga menunjukkan bahwa ruang dakwah masa depan akan semakin lintas sektor. Bank Indonesia memiliki literasi dan ekosistem pembayaran digital. Pesantren memiliki kekuatan pendidikan, nilai, komunitas, dan jumlah manusia yang besar. Dai memiliki kemampuan menyentuh kesadaran dan hati masyarakat. Anak muda memiliki kreativitas serta energi perubahan. Ketika semuanya dipertemukan, dakwah tidak lagi hanya berbicara tentang ceramah, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai kebaikan hadir dalam ekosistem kehidupan. QRIS misalnya, dapat dikenalkan bukan hanya sebagai teknologi pembayaran, tetapi sebagai bagian dari literasi ekonomi digital yang kemudian dikaitkan dengan etika, kejujuran, kemudahan, dan kebermanfaatan.
Inilah yang dapat menjadi karakter dakwah Raudhatul Irfan: Qur’ani dalam nilai, entrepreneur dalam mentalitas, bilingual dalam wawasan, dan digital dalam metode. Santri tidak hanya dipersiapkan menjadi orang yang mampu berbicara tentang masa depan, tetapi juga orang yang mampu mengambil bagian di dalamnya. Ketika mereka belajar membuat produk, memasarkan produk, membuat konten, menggunakan teknologi pembayaran, berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris, serta tetap menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas, sebenarnya mereka sedang belajar satu hal penting: bahwa menjadi Muslim yang baik berarti berusaha menjadi manusia yang membawa manfaat.
Pada akhirnya, dakwah kekinian bukanlah perlombaan siapa yang paling modern. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa pesan yang abadi menemukan bahasa yang dipahami manusia pada zamannya. Koh Dennis Lim menunjukkan bagaimana pengalaman dan cerita dapat menjadi pintu masuk menuju perubahan. Para dai lain menunjukkan bahwa film, olahraga, komunitas, dan berbagai kultur anak muda juga dapat menjadi ruang dakwah. Sementara Quranicpreneur Raudhatul Irfan mencoba menghadirkan dakwah melalui pendidikan yang menghubungkan Al-Qur’an dengan kreativitas, entrepreneurship, teknologi, dan kebermanfaatan sosial.
Mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya, “Bagaimana agar anak muda mau datang ke kajian kita?” dan mulai bertanya, “Di mana sebenarnya anak muda sedang berada, apa yang mereka sukai, apa yang sedang mereka cari, dan bagaimana nilai-nilai Islam bisa hadir di sana?” Sebab boleh jadi mereka tidak menolak dakwah; mereka hanya belum menemukan cara dakwah yang terasa dekat dengan kehidupannya. Maka tugas kita bukan mengubah Islam agar disukai zaman, tetapi menemukan sebanyak mungkin jalan agar manusia zaman ini dapat merasakan keindahan Islam. Dari riung yang asyik, lahir perjumpaan. Dari perjumpaan, lahir inspirasi. Dan dari inspirasi yang dihidupkan, semoga lahir manfaat yang apik bagi umat.
Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 14 Agustus 2026

0 Komentar