Dr. H. Irfan Soleh, S.Th.I, MBA
Ada pengalaman yang tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara kita memandang masa depan. Mengikuti Training of Facilitator Halaqah Syuriah NU dan Pengasuh Pesantren untuk Pencegahan Kekerasan di Pesantren di Yogyakarta adalah salah satunya. Selama dua hari, saya berkesempatan menyimak berbagai gagasan dari para narasumber dengan latar belakang yang beragam. Salah satu pemateri yang paling menarik perhatian saya adalah Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Dalam materi presentasinya, beliau mengangkat dua hal besar yang saling berkaitan, yaitu transformasi pesantren dan membangun ruang aman untuk melahirkan sumber daya manusia unggul. Bagi saya, kedua hal tersebut bukan sekadar agenda pemerintah, melainkan sebuah undangan untuk merenungkan kembali arah perjalanan pesantren di tengah perubahan zaman. Lalu, seperti apa pesantren harus bertransformasi agar tetap relevan tanpa kehilangan ruh yang selama ini menjadi kekuatannya?
Perubahan zaman tidak pernah meminta izin. Ia datang membawa gelombang yang perlahan mengubah hampir seluruh cara manusia belajar, bekerja, berinteraksi, bahkan memandang kehidupan. Kecerdasan buatan, digitalisasi, otomatisasi, dan perubahan struktur ekonomi telah melahirkan tantangan yang tidak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Dunia pendidikan tidak mungkin berdiri sebagai penonton di tengah arus perubahan tersebut. Ia harus mampu membaca zaman sekaligus mempersiapkan manusia yang mampu hidup, bertahan, dan memberi manfaat di dalamnya. Di sinilah pesantren dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar: apakah cukup mempertahankan tradisi, atau justru harus berani melakukan transformasi?
Dalam paparannya, Prof. Pratikno menegaskan bahwa transformasi bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan. Namun transformasi yang dimaksud bukan berarti meninggalkan kitab kuning, menghapus tradisi talaqqi, atau mengganti peran kiai dengan teknologi. Sebaliknya, transformasi adalah kemampuan menjaga nilai-nilai yang telah terbukti kokoh sambil menghadirkan cara-cara baru untuk menjawab tantangan zaman. Yang harus berubah adalah pendekatan, metode, dan kompetensi. Sedangkan yang harus tetap dijaga adalah ruh pendidikan pesantren yang bertumpu pada iman, ilmu, adab, dan pengabdian.
Kalimat tersebut terasa sederhana, tetapi mengandung pesan yang sangat mendalam. Selama ini perubahan sering dipahami sebagai proses mengganti yang lama dengan yang baru. Akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa modernisasi akan mengikis tradisi, atau sebaliknya mempertahankan tradisi akan membuat pesantren tertinggal. Padahal sejarah justru menunjukkan hal yang berbeda. Pesantren mampu bertahan ratusan tahun karena selalu menemukan cara baru dalam menjawab kebutuhan masyarakat tanpa pernah melepaskan identitasnya. Tradisinya tetap hidup, tetapi cara melayaninya terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Bagi saya, di sinilah makna transformasi yang sesungguhnya. Transformasi bukan berarti mengganti sorogan dengan kecerdasan buatan atau meninggalkan kitab kuning demi perangkat digital. Transformasi adalah menghadirkan teknologi untuk memperkuat pembelajaran, memanfaatkan inovasi untuk memperluas kemanfaatan, serta menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan sebagai sarana memperkokoh misi pendidikan Islam. Teknologi hanyalah alat, sedangkan nilai tetap menjadi penuntun. Ketika alat berkembang tetapi nilai tetap terjaga, pesantren akan tetap menjadi mercusuar peradaban di setiap zaman.
Prof. Pratikno kemudian mengajak peserta melihat transformasi pesantren dari sudut pandang yang lebih luas, yaitu pembangunan sumber daya manusia. Menurut beliau, Indonesia tidak cukup hanya memiliki generasi yang cerdas, tetapi membutuhkan SDM yang unggul sekaligus tangguh. Unggul berarti memiliki pengetahuan yang baik, keterampilan kerja yang relevan, kemampuan berwirausaha, dan daya saing menghadapi perubahan global. Sementara tangguh berarti memiliki kesehatan fisik, ketahanan mental, kecerdasan sosial, serta kekuatan spiritual yang menjadi fondasi dalam menghadapi setiap tantangan kehidupan. Keempat unsur tersebut tidak dapat dipisahkan apabila bangsa ini ingin menyongsong masa depan dengan optimisme.
Ketika mendengar penjelasan tersebut, saya justru melihat bahwa pesantren telah lama memiliki modal yang luar biasa. Kehidupan berjamaah membentuk kemampuan bersosialisasi. Kedisiplinan ibadah melatih pengendalian diri. Kesederhanaan menumbuhkan daya juang. Hubungan kiai dan santri menghadirkan keteladanan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Tradisi khidmah mengajarkan kerendahan hati, sedangkan pembiasaan mengaji setiap hari melatih ketekunan sepanjang hayat. Bukankah semua itu merupakan fondasi utama untuk melahirkan manusia yang tangguh menghadapi perubahan?
Namun ketangguhan saja belum cukup. Prof. Pratikno juga menekankan bahwa SDM unggul harus menjadi pribadi yang relevan dan kontributif terhadap perkembangan zaman. Dunia akan terus melahirkan teknologi baru, jenis pekerjaan baru, dan tantangan sosial yang semakin kompleks. Karena itu santri tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menguasainya secara bijaksana. Mereka perlu memahami literasi digital, kecerdasan buatan, analisis data, kewirausahaan, serta berbagai keterampilan abad ke-21 tanpa kehilangan kepekaan sosial dan kedalaman spiritual yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren.
Gagasan lain yang menurut saya sangat penting adalah ketika beliau menjelaskan bahwa seluruh proses pendidikan hanya dapat menghasilkan manusia unggul apabila berlangsung dalam ruang yang aman dan nyaman. Melalui Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA), pemerintah mengajak seluruh pemangku kepentingan membangun lingkungan pendidikan yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, intimidasi, maupun segala bentuk perlakuan yang merendahkan martabat anak. Gerakan ini bertujuan mengonsolidasikan seluruh elemen masyarakat, meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya ruang aman bagi tumbuh kembang anak, sekaligus memastikan adanya layanan dan sistem pelaporan yang responsif terhadap setiap persoalan.
Saya melihat gagasan tersebut sangat selaras dengan filosofi pendidikan Islam. Pesantren sejak awal hadir bukan hanya sebagai tempat mentransfer ilmu, tetapi juga sebagai rumah kedua bagi para santri. Rumah adalah tempat seseorang merasa diterima, dihargai, dilindungi, dan diberi ruang untuk bertumbuh. Karena itu menjaga pesantren dari segala bentuk kekerasan bukan sekadar memenuhi ketentuan hukum atau kebijakan pemerintah, melainkan bagian dari amanah agama. Pendidikan yang dibangun di atas rasa takut hanya akan melahirkan kepatuhan semu, sedangkan pendidikan yang dibangun di atas kasih sayang akan melahirkan kesadaran, kedewasaan, dan akhlak yang tumbuh dari dalam diri.
Pada akhirnya saya memahami bahwa transformasi pesantren yang disampaikan Prof. Pratikno sesungguhnya memiliki tiga poros besar yang saling menguatkan. Pertama, menjaga identitas spiritual dan tradisi pesantren sebagai fondasi utama. Kedua, mempersiapkan santri menjadi sumber daya manusia unggul yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan masa depan. Ketiga, memastikan seluruh proses pendidikan berlangsung dalam ruang yang aman, nyaman, dan memuliakan setiap anak sebagai amanah Allah. Ketiga poros inilah yang menurut saya akan menentukan wajah pesantren Indonesia pada masa mendatang.
Pesantren tidak sedang berlomba menjadi lembaga pendidikan yang paling modern. Pesantren juga tidak sedang mempertahankan tradisi semata-mata karena romantisme masa lalu. Pesantren sedang mengemban amanah yang jauh lebih besar, yaitu melahirkan manusia yang mampu menjaga hubungan dengan Allah, membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia, serta menghadirkan kemaslahatan bagi alam semesta. Ketika tradisi tetap berakar, inovasi terus bertumbuh, dan kasih sayang menjadi budaya, saya yakin pesantren akan terus menjadi cahaya peradaban yang mampu menuntun Indonesia menuju generasi emas. Sebab masa depan bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang kita miliki, tetapi oleh kualitas manusia yang berhasil kita didik.
Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 22 Juli 2026
.png)
0 Komentar