The Palliative Society: Ketika Kenyamanan Menjadi Ideologi dan Penderitaan Kehilangan Makna

Penulis: Irfan Soleh


Dunia modern telah mencapai tingkat kemajuan yang belum pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya. Teknologi mempercepat hampir setiap aktivitas, layanan digital menghapus batas ruang dan waktu, sementara berbagai inovasi menjanjikan kehidupan yang semakin mudah, cepat, dan nyaman. Anehnya, di tengah kelimpahan fasilitas itu, manusia justru tampak semakin mudah cemas, mudah kecewa, dan sulit menghadapi tekanan hidup. Fenomena inilah yang menjadi titik berangkat pemikiran filsuf Korea-Jerman, Byung-Chul Han, dalam The Palliative Society. Lalu, apakah mungkin semakin nyaman kehidupan kita, justru semakin rapuh pula ketahanan jiwa yang kita miliki?


Byung-Chul Han meminjam istilah palliative dari dunia kedokteran. Perawatan paliatif bertujuan mengurangi rasa sakit tanpa menghilangkan penyebab utama penyakit. Menurut Han, masyarakat modern bekerja dengan logika yang serupa. Peradaban hari ini lebih sibuk menenangkan gejala daripada memahami akar persoalan. Kesedihan segera ditutupi dengan hiburan, kegagalan ditenggelamkan oleh motivasi instan, kesunyian diisi oleh gawai, sementara kecemasan diredakan melalui berbagai bentuk distraksi. Yang terpenting bukan lagi memahami mengapa seseorang menderita, melainkan memastikan bahwa rasa tidak nyaman itu segera menghilang.


Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kenyamanan telah berubah dari sekadar kebutuhan menjadi sebuah ideologi. Hampir seluruh sistem sosial bergerak menuju satu arah, yaitu menghapus hambatan, mempercepat proses, dan meminimalkan rasa tidak nyaman. Masyarakat semakin sulit menerima bahwa kehidupan memang mengandung batas, kehilangan, penolakan, dan kegagalan. Padahal justru pengalaman-pengalaman itulah yang sejak dahulu membentuk karakter manusia. Ketika setiap kesulitan dianggap sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk bertahan, beradaptasi, dan menemukan hikmah di balik setiap ujian.


Han menyebut kecenderungan tersebut sebagai bentuk algophobia, yakni ketakutan terhadap rasa sakit. Yang dimaksud bukan hanya rasa sakit fisik, tetapi juga penderitaan emosional, konflik, kritik, penantian, bahkan kebosanan. Budaya digital memperkuat kecenderungan ini melalui arus hiburan tanpa jeda. Saat merasa jenuh, kita membuka media sosial. Ketika menghadapi kesunyian, kita mencari notifikasi. Saat mengalami tekanan, kita berusaha segera mengalihkan perhatian. Akibatnya, manusia semakin kehilangan kemampuan untuk tinggal sejenak bersama dirinya sendiri, merenungkan pengalaman, lalu bertumbuh melaluinya.


Ironisnya, kapitalisme modern justru memanfaatkan kecenderungan tersebut. Berbeda dengan masyarakat disiplin pada masa lalu yang dikendalikan oleh hukuman, masyarakat sekarang digerakkan oleh janji kebahagiaan, produktivitas, dan aktualisasi diri. Setiap individu didorong untuk terus meningkatkan performa, memperbaiki diri, dan mengejar pencapaian yang seolah tidak pernah memiliki garis akhir. Manusia akhirnya menjadi pengawas bagi dirinya sendiri. Ia bekerja tanpa dipaksa, tetapi tetap merasa lelah karena terus mengejar standar kesempurnaan yang selalu bergerak semakin jauh.


Paradoks pun tidak dapat dihindari. Semakin besar tuntutan untuk selalu bahagia, semakin mudah seseorang merasa gagal ketika mengalami kesedihan. Semakin banyak panduan menuju kehidupan ideal, semakin kuat perasaan bahwa dirinya belum cukup berhasil. Kebahagiaan yang semestinya merupakan anugerah perlahan berubah menjadi kewajiban. Dari sinilah lahir berbagai gejala psikologis yang menjadi ciri masyarakat modern, seperti burnout, kecemasan, kesepian, dan kehilangan makna. Persoalannya bukan semata-mata karena hidup semakin berat, tetapi karena manusia tidak lagi terbiasa berdamai dengan kenyataan bahwa penderitaan adalah bagian alami dari kehidupan.


Di sinilah pemikiran Han menemukan resonansi yang sangat kuat dengan khazanah tasawuf Islam. Para ulama tidak pernah mengajarkan agar manusia mencari penderitaan, tetapi mereka juga tidak pernah mendidik umat untuk lari darinya. Imam al-Ghazali dalam Minhajul ’Abidin menjelaskan bahwa perjalanan menuju Allah harus melewati berbagai aqabah atau tanjakan spiritual yang menguji kesungguhan seorang hamba. Setiap kesulitan bukanlah penghalang perjalanan, melainkan bagian dari proses penyucian jiwa agar seseorang semakin mengenal kelemahan dirinya dan semakin bergantung kepada Allah.


Nada yang sama juga terdengar dalam hikmah Ibn Athaillah al-Iskandari. Beliau mengingatkan bahwa Allah sering membuka pintu makrifat melalui sesuatu yang tidak disukai manusia. Kehilangan dapat melahirkan tawakal, kegagalan menumbuhkan kerendahan hati, sedangkan ujian membangunkan jiwa dari kelalaian. Dalam perspektif tasawuf, penderitaan bukan tujuan yang dicari, melainkan sarana pendidikan ilahiah. Ia mengikis kesombongan, memurnikan niat, serta mengarahkan hati agar tidak bergantung kepada selain Allah.


Prinsip inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi pendidikan yang memerdekakan. Peserta didik tidak dibentuk hanya melalui kemudahan, melainkan melalui keberanian menghadapi tantangan yang bermakna. Problem Based Learning, misalnya, mengajarkan bahwa proses menemukan solusi sering kali lebih penting daripada memperoleh jawaban. Kesalahan, revisi, diskusi, dan kegagalan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari pembentukan daya pikir, daya juang, dan kedewasaan. Pendidikan kehilangan ruhnya apabila hanya berusaha membuat peserta didik merasa nyaman tanpa pernah ditempa oleh proses yang menantang.


Tradisi pesantren telah lama mempraktikkan filosofi tersebut. Bangun sebelum fajar, menghafal Al-Qur’an, mengkaji kitab, hidup sederhana, melayani guru, serta bersabar dalam keterbatasan bukanlah sekadar rutinitas, melainkan latihan membangun ketahanan jiwa. Pesantren memahami bahwa manusia yang besar tidak lahir dari jalan yang selalu mulus, tetapi dari perjalanan yang penuh ujian dan kesungguhan. Kenyamanan memang dapat menyenangkan, tetapi hanya perjuangan yang mampu melahirkan kematangan karakter.


Pada akhirnya, kritik Byung-Chul Han mengingatkan bahwa krisis terbesar masyarakat modern bukan sekadar bertambahnya penderitaan, melainkan hilangnya kemampuan menemukan makna di dalam penderitaan itu sendiri. Peradaban yang sehat bukanlah peradaban yang berhasil menghapus seluruh rasa sakit, melainkan peradaban yang mampu mengubah setiap luka menjadi kebijaksanaan, setiap kegagalan menjadi pelajaran, dan setiap ujian menjadi jalan untuk semakin mengenal diri sekaligus semakin dekat kepada Sang Pencipta. Sebab, manusia tidak menjadi dewasa karena hidup tanpa penderitaan, tetapi karena berhasil menjadikan penderitaan sebagai tangga menuju kemuliaan.


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 28 Juni 2026