Mengantarkan Anak Pulang kepada Allah: Menyatukan Langkah Orang Tua dan Pesantren dalam Mendidik Generasi Qurani
Libur dua minggu telah usai. Hari ini para orang tua kembali mengantarkan putra-putrinya memasuki gerbang Pesantren Raudhatul Irfan. Barangkali yang tampak hanyalah koper, kasur lipat, kitab, pakaian, dan pelukan perpisahan. Namun sesungguhnya, yang sedang berlangsung jauh lebih besar daripada itu. Hari ini adalah momentum memperbarui akad pendidikan antara orang tua, pesantren, dan Allah SWT. Sebab sejak pertama kali seorang anak lahir, pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Rabb semesta alam. Bukankah setiap kepulangan santri ke pesantren sesungguhnya adalah pertanyaan yang Allah ajukan kepada kita semua: sudahkah kita menjaga amanah itu sebagaimana mestinya?
Allah SWT mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6).
Ali bin Abi Thalib ra. menafsirkan ayat tersebut dengan kalimat yang sangat singkat namun mendalam:
عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ
“Ajarkanlah mereka ilmu dan didiklah mereka dengan adab.”
Ayat dan atsar ini menegaskan bahwa keberhasilan orang tua bukan hanya ketika mampu memenuhi kebutuhan materi anak-anaknya, melainkan ketika berhasil mengantarkan mereka menuju keselamatan akhirat. Pendidikan sejatinya adalah perjalanan menyelamatkan, bukan sekadar mencerdaskan.
Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ’Ulūmiddīn menggambarkan anak sebagai sebuah amanah yang sangat berharga.
الصَّبِيُّ أَمَانَةٌ عِنْدَ وَالِدَيْهِ، وَقَلْبُهُ الطَّاهِرُ جَوْهَرَةٌ نَفِيسَةٌ
“Seorang anak adalah amanah di tangan kedua orang tuanya. Hatinya yang suci laksana permata yang sangat berharga.”
Beliau kemudian melanjutkan:
فَإِنْ عُوِّدَ الْخَيْرَ نَشَأَ عَلَيْهِ
“Apabila dibiasakan kepada kebaikan, niscaya ia akan tumbuh di atas kebaikan.”
Kalimat ini mengingatkan bahwa masa depan anak tidak dibentuk oleh nasihat yang sesekali disampaikan, tetapi oleh kebiasaan yang setiap hari ditanamkan. Liburan yang baru saja berlalu menjadi cermin yang jujur. Apakah shalat berjamaah tetap terjaga? Apakah tilawah Al-Qur’an masih menjadi teman harian? Apakah adab kepada orang tua semakin lembut? Ataukah justru berbagai kebiasaan baik yang telah dibangun di pesantren mulai memudar sedikit demi sedikit? Karena sesungguhnya kualitas pendidikan bukan diuji ketika berada di lingkungan yang baik, melainkan ketika seseorang berada di luar pengawasan.
Inilah sebabnya Allah memerintahkan agar pendidikan dibangun melalui kerja sama.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Mā’idah: 2).
Pesantren hanya membersamai santri selama sebagian waktu dalam setahun. Selebihnya, rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah guru yang paling lama membersamai anak. Tidak mungkin pendidikan berhasil jika rumah dan pesantren berjalan dengan arah yang berbeda. Ketika pesantren mengajarkan kesederhanaan sementara rumah membiasakan kemewahan; ketika pesantren mendidik kedisiplinan sementara rumah membiarkan kelalaian; ketika pesantren menanamkan adab sementara rumah justru mempertontonkan kemarahan dan pertengkaran, maka anak akan hidup dalam dua dunia yang saling bertentangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Ibnul Qayyim bahkan mengingatkan:
فَمَنْ أَهْمَلَ تَعْلِيمَ وَلَدِهِ مَا يَنْفَعُهُ فَقَدْ أَسَاءَ إِلَيْهِ غَايَةَ الْإِسَاءَةِ
“Barang siapa mengabaikan pendidikan anaknya terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya, maka sungguh ia telah menzaliminya dengan kezaliman yang sangat besar.”
Pendidikan sejati sesungguhnya tidak dimulai dari kata-kata, melainkan dari teladan. Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar. Allah menghadirkan Rasulullah ﷺ sebagai model pendidikan terbaik.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang paling baik.” (QS. Al-Aḥzāb: 21).
Karena itu Imam Malik berpesan:
تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Dan Abdullah bin Al-Mubarak mengingatkan:
نَحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ
“Kita lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”
Di Raudhatul Irfan, kami meyakini bahwa ilmu tanpa adab akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah, sedangkan adab akan menjaga ilmu tetap menjadi cahaya.
Liburan juga mengajarkan satu pelajaran penting: istiqamah jauh lebih sulit daripada memulai. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Santri yang berhasil bukanlah mereka yang rajin hanya ketika berada di bawah pengawasan musyrif, melainkan mereka yang tetap menjaga shalat, tilawah, dzikir, dan akhlaknya ketika tidak ada seorang pun yang melihat selain Allah. Sebagaimana nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi’i:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Siapa yang menginginkan dunia hendaklah dengan ilmu, siapa yang menginginkan akhirat hendaklah dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan keduanya maka hendaklah dengan ilmu.”
Karena itulah pesantren menjaga disiplin. Disiplin bukan bentuk hukuman, melainkan latihan agar jiwa mampu mengendalikan dirinya. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Āli ’Imrān: 146).
Imam Al-Ghazali memberikan permisalan yang sangat indah:
النَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى حُبِّ الرَّضَاعِ، وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمْ
“Jiwa itu seperti anak kecil. Jika dibiarkan, ia akan terus mengikuti keinginannya. Namun jika dilatih, ia akan terbiasa meninggalkannya.”
Dalam proses pendidikan, akan ada saat ketika anak melakukan kesalahan. Pada saat seperti itulah orang tua diuji. Rasulullah ﷺ bersabda:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
Ketika para sahabat bertanya bagaimana menolong orang yang zalim, beliau menjawab:
تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ
“Engkau mencegahnya dari perbuatan zalim.” (HR. Bukhari).
Maka mencintai anak bukan berarti selalu membelanya. Mencintai anak adalah berani membimbingnya mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan belajar bertanggung jawab. Orang tua dan pesantren tidak boleh saling berhadapan, tetapi harus saling bergandengan tangan demi masa depan anak.
Di atas semua ikhtiar itu, ada satu kekuatan yang sering kali tidak terlihat namun sangat menentukan: doa orang tua. Nabi Ibrahim berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku termasuk orang-orang yang mendirikan salat.” (QS. Ibrāhīm: 40).
Beliau juga berdoa:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 100).
Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ… وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ
“Ada tiga doa yang mustajab, salah satunya adalah doa orang tua untuk anaknya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Karena itu, jangan pernah lelah menyebut nama anak-anak kita dalam setiap sujud. Barangkali ada hafalan yang belum lancar, ada akhlak yang masih perlu dibina, ada cita-cita yang belum tergapai. Namun doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dapat membuka pintu-pintu pertolongan Allah yang tidak pernah kita sangka.
Di Pesantren Raudhatul Irfan, cita-cita pendidikan tidak berhenti pada angka-angka rapor, banyaknya hafalan, atau deretan piala perlombaan. Semua itu penting, tetapi bukan tujuan akhir. Visi kami adalah melahirkan generasi Qurani yang mencintai Al-Qur’an, kokoh akidahnya, mulia akhlaknya, mandiri dalam kehidupannya, unggul dalam ilmu pengetahuannya, serta hadir membawa manfaat bagi masyarakat. Sebab Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Pada akhirnya, pendidikan adalah perjalanan panjang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
إِنَّمَا الدُّنْيَا حُلْمٌ، وَالْآخِرَةُ يَقَظَةٌ
“Dunia hanyalah seperti mimpi, sedangkan akhirat adalah kenyataan.”
Maka jangan sampai kita terlalu sibuk menyiapkan masa depan dunia anak-anak kita, tetapi lupa mempersiapkan bekal akhirat mereka. Semoga seluruh langkah yang kita ayunkan hari ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk dipertemukan kembali bersama keluarga kita di surga-Nya. Sebagaimana janji Allah:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
“Orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka kembali bersama keturunannya.” (QS. Aṭ-Ṭūr: 21).
Hari ini kita tidak sekadar mengantar anak kembali ke pesantren. Sesungguhnya kita sedang mengantarkan mereka pulang kepada Allah. Semoga Allah menjadikan seluruh santri Raudhatul Irfan sebagai generasi Qurani yang bersih hatinya, luas ilmunya, luhur akhlaknya, teguh istiqamahnya, menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tua, serta menjadi mata air keberkahan bagi agama, bangsa, dan peradaban. Āmīn yā Rabbal ’ālamīn.
.png)
0 Komentar