Menemukan Tasawuf dalam Lirik Kang Panji Sakti

Penulis: Irfan Soleh


Pertemuan saya dengan Kang Panji Sakti pada acara bedah buku Tasbih Kupu-Kupu dalam rangka Jayantara yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia menjadi pengalaman yang tidak mudah saya lupakan. Perjumpaan itu bukan sekadar mempertemukan saya dengan seorang penyanyi, penulis, atau penyair, tetapi dengan seorang pejalan yang memilih sastra dan musik sebagai jalan menyampaikan kegelisahan ruhani. Di tengah riuh sebuah forum literasi, saya justru menemukan kesunyian yang mengajak pulang ke dalam diri. Kang Panji tidak banyak berbicara tentang agama dalam pengertian yang formal, tetapi setiap kalimat yang ia ucapkan, setiap bait yang ia tulis, seolah mengajak kita mengingat Allah dengan cara yang sangat manusiawi. Saat itulah saya memahami bahwa tasawuf tidak selalu hadir di mimbar pengajian atau lembaran kitab klasik, tetapi kadang bersembunyi di balik sebuah lagu, sepotong puisi, atau diam yang tidak mampu dijelaskan oleh kata-kata. Lalu muncul sebuah pertanyaan yang terus mengendap dalam benak saya: mengapa lirik-lirik Kang Panji Sakti mampu menyentuh ruang terdalam jiwa, seolah sedang berbicara kepada hati yang selama ini diam-diam merindukan jalan pulang menuju Allah?


Mungkin jawabannya terletak pada cara Kang Panji Sakti memaknai musik. Ia tidak mengajak pendengarnya melalui ceramah, melainkan melalui pengalaman batin. Ia tidak sibuk menjelaskan Tuhan, tetapi mengajak kita merasakan kehadiran-Nya. Bahasa yang dipilihnya sederhana, bahkan sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari, namun di balik kesederhanaan itu tersembunyi lapisan makna yang dalam. Semakin sering didengar, semakin terasa bahwa lagu-lagunya bukan sekadar rangkaian nada, melainkan perjalanan ruh menuju pengenalan diri. Barangkali inilah yang oleh para sufi disebut sebagai dzauq, pengetahuan yang lahir bukan semata dari membaca, tetapi dari merasakan.


Dalam tradisi tasawuf, para ulama selalu mengingatkan bahwa hijab terbesar manusia bukanlah dunia, melainkan dirinya sendiri. Ego, keakuan, rasa memiliki, dan keinginan untuk selalu dipuji sering kali menjadi tembok yang menghalangi cahaya Ilahi memasuki hati. Menariknya, tema-tema seperti inilah yang berulang kali muncul dalam karya Kang Panji Sakti. Lagu-lagunya seakan sedang mengajak pendengar menempuh perjalanan tazkiyatun nafs, membersihkan hati sedikit demi sedikit hingga yang tersisa hanyalah kerinduan kepada Allah. Tasawuf dalam karya-karyanya tidak tampil sebagai konsep yang harus dihafal, tetapi sebagai pengalaman yang ingin dihidupkan.


Salah satu keistimewaan lirik Kang Panji Sakti adalah keberaniannya menggunakan simbol-simbol alam. Danau, bunga, kupu-kupu, jalan, hujan, angin, cahaya, bahkan sunyi, tidak pernah berhenti sebagai benda mati. Semuanya berubah menjadi bahasa ruh. Alam tidak lagi sekadar dipandang, tetapi dibaca. Bukankah Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, gunung, laut, dan seluruh ciptaan sebagai ayat-ayat Allah? Dalam perspektif tasawuf, semesta adalah kitab terbuka yang memantulkan sifat-sifat-Nya. Karena itu, ketika Kang Panji berbicara tentang danau, kupu-kupu, atau bunga, sesungguhnya ia sedang mengajak kita membaca jejak-jejak Tuhan yang tersebar di seluruh penjuru kehidupan.


Di antara karya-karyanya, “Kepada Noor” adalah salah satu lagu yang paling kuat menghadirkan maqam mahabbah. Sekilas lagu ini terdengar seperti ungkapan cinta kepada seseorang. Namun, sebagaimana tradisi puisi para sufi, sosok yang dicintai sering kali bukan sekadar manusia, melainkan Cahaya Yang Maha Cahaya. Kata Noor mengingatkan kita kepada firman Allah, “Allāhu nūrus-samāwāti wal-arḍ”, Allah adalah Cahaya langit dan bumi. Kerinduan dalam lagu ini bukanlah kerinduan yang ingin memiliki, melainkan kerinduan untuk melebur. Seorang pecinta tidak lagi sibuk mempertahankan dirinya, tetapi perlahan menghilang dalam kehadiran Sang Kekasih. Di sinilah cinta berubah menjadi ibadah, dan rindu menjadi jalan pulang menuju Allah. Kekuatan lagu ini bukan terletak pada banyaknya kata, tetapi pada ruang tafsir yang dibiarkannya tetap hidup di dalam hati pendengarnya.


Nuansa yang berbeda hadir dalam “Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja”. Bunga kemboja yang selama ini identik dengan makam dihadirkan Kang Panji Sakti bukan sebagai simbol kematian yang menakutkan, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap kehidupan sedang bergerak menuju perjumpaan dengan Tuhannya. Tasawuf memang tidak mengajarkan manusia untuk mencintai kematian, tetapi mengajarkan agar manusia selalu mengingatnya sehingga hidup menjadi lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih ringan melepaskan keterikatan kepada dunia. Kesadaran akan kefanaan itulah yang melahirkan zuhud, bukan meninggalkan dunia, melainkan tidak diperbudak oleh dunia. Ketika kematian tidak lagi dipandang sebagai akhir, melainkan gerbang menuju kehidupan yang hakiki, maka setiap detik kehidupan berubah menjadi kesempatan untuk memperbaiki hati.


Jika dicermati lebih jauh, “Kepada Noor” dan “Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja” sesungguhnya sedang mengajarkan dua maqam penting dalam perjalanan seorang salik. Yang pertama mengajarkan bagaimana mencintai Allah dengan sepenuh hati, sedangkan yang kedua mengingatkan bahwa cinta itu akan sempurna ketika manusia menyadari kefanaannya. Mahabbah melahirkan kerinduan, sementara kesadaran akan fana’ melahirkan ketundukan. Dua jalan yang berbeda, tetapi bermuara pada tujuan yang sama, yaitu kembali kepada Allah dengan hati yang bersih.


Tidak mengherankan apabila karya-karya Kang Panji Sakti kemudian menjadi objek kajian akademik. Beberapa penelitian menemukan bahwa lagu-lagunya memuat nilai-nilai tasawuf seperti tazkiyatun nafs, taqarrub, mahabbah, tawakkal, hingga simbol-simbol yang berkaitan dengan perjalanan spiritual manusia. Hal ini menunjukkan bahwa lirik-liriknya bukan hanya memiliki keindahan estetis, tetapi juga menyimpan kedalaman makna yang layak dikaji dari perspektif sastra maupun spiritual. Namun demikian, sebagaimana karya sastra pada umumnya, simbol-simbol yang digunakan Kang Panji tetap terbuka untuk berbagai penafsiran. Justru ruang tafsir itulah yang membuat setiap pendengar dapat menemukan pengalaman batinnya sendiri.


Saya kemudian teringat kepada hikmah-hikmah Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam. Beliau tidak pernah mengajak murid-muridnya terpesona oleh istilah yang rumit. Sebaliknya, beliau menghadirkan kalimat-kalimat sederhana yang mampu mengguncang kesadaran. Begitu pula Kang Panji Sakti. Ia tidak menawarkan definisi tasawuf, melainkan menghadirkan pengalaman tasawuf. Kita tidak sedang diajak menghafal konsep, tetapi diajak merasakan perjalanan. Bukankah hakikat ilmu bukan banyaknya istilah yang diingat, melainkan berubahnya cara kita memandang kehidupan?


Buku Tasbih Kupu-Kupu terasa seperti perpanjangan dari lagu-lagunya. Puisi-puisi pendek di dalamnya tidak berusaha menjelaskan semuanya. Justru karena singkat, ia memberi ruang kepada pembaca untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Ada puisi yang membuat kita tersenyum, ada yang membuat kita diam cukup lama, dan ada pula yang memaksa kita mengakui bahwa selama ini kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa merawat jiwa. Barangkali memang demikian cara sastra bekerja; bukan memberi jawaban, melainkan melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang perlahan menuntun seseorang menemukan jawabannya sendiri.


Pada akhirnya, saya melihat Kang Panji Sakti bukan hanya sebagai penyanyi atau penyair. Ia adalah seorang pejalan yang membagikan jejak-jejak perjalanannya melalui lirik dan puisi. Kita boleh berbeda dalam menafsirkan setiap baitnya, tetapi satu hal yang sulit dibantah adalah kemampuannya menghidupkan kembali rasa. Di zaman ketika musik sering hanya menjadi hiburan sesaat, Kang Panji menghadirkan lagu sebagai ruang tafakur. Di tengah dunia yang semakin bising, ia mengingatkan bahwa jalan menuju Allah tidak selalu dimulai dari suara yang keras, tetapi sering kali lahir dari kesunyian yang paling dalam. Sebab, sebagaimana diajarkan para sufi, hati yang telah sunyi dari kebisingan ego akan lebih mudah mendengar panggilan Sang Maha Cinta.


*Pengasuh Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 25 Juli 2026