Masihkah Waktu Memiliki Aroma? Membaca Byung-Chul Han di Tengah Kehidupan yang Terus Berlari
Penulis: Irfan Soleh
Pagi itu saya menatap layar telepon genggam yang dipenuhi notifikasi. Pesan masuk silih berganti, agenda kerja berjejer memenuhi kalender, sementara daftar buku yang ingin dibaca justru semakin panjang. Anehnya, di tengah berbagai kemudahan teknologi yang menjanjikan efisiensi, kita justru sering merasa tidak pernah memiliki cukup waktu. Kita berlari dari satu aktivitas menuju aktivitas berikutnya, menyelesaikan satu pekerjaan sebelum beralih ke pekerjaan lain, seolah hidup adalah perlombaan tanpa garis akhir. Di tengah kegelisahan itulah saya menemukan buku The Scent of Time karya Byung-Chul Han. Ia mengajukan pertanyaan yang sederhana, tetapi mengguncang: mungkinkah persoalan kita bukan karena kekurangan waktu, melainkan karena waktu telah kehilangan aromanya? Pertanyaan ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita yang semakin sibuk, tetapi semakin sulit menemukan ketenangan.
Byung-Chul Han mengawali refleksinya dengan sebuah kritik yang berbeda dari kebanyakan orang. Banyak yang beranggapan bahwa penyakit utama masyarakat modern adalah percepatan hidup. Namun Han justru mengatakan bahwa kecepatan hanyalah gejala. Penyakit sesungguhnya adalah hilangnya struktur pengalaman waktu. Dahulu manusia menjalani hidup dengan ritme yang jelas. Ada masa belajar, masa bekerja, masa berkeluarga, masa beristirahat, hingga masa menuai kebijaksanaan. Pergantian musim, tradisi, dan perayaan memberi jeda yang membuat setiap fase kehidupan memiliki makna. Kini semua ritme itu melebur menjadi arus informasi yang tidak pernah berhenti. Hari ini tidak lagi berbeda dengan kemarin, bahkan sering kali tidak memiliki hubungan yang jelas dengan hari esok.
Han kemudian menggunakan metafora yang sangat indah, yaitu “aroma waktu”. Sebagaimana bunga memiliki keharuman yang membuatnya dikenang, waktu pun seharusnya memiliki kedalaman yang meninggalkan jejak dalam batin manusia. Sayangnya, kehidupan digital telah mengubah waktu menjadi sekadar deretan detik yang harus diisi dengan produktivitas. Kita berpindah dari satu rapat ke rapat lain, dari satu unggahan ke unggahan berikutnya, dari satu target menuju target berikutnya, tanpa sempat benar-benar menghayati apa yang sedang kita jalani. Waktu tidak lagi meninggalkan aroma, melainkan hanya menyisakan kelelahan.
Fenomena ini melahirkan manusia yang sangat aktif, tetapi miskin kontemplasi. Han menyebut kecenderungan ini sebagai dominasi vita activa, kehidupan yang sepenuhnya dipenuhi aktivitas. Kita mengukur keberhasilan melalui banyaknya pekerjaan yang diselesaikan, banyaknya pesan yang dibalas, banyaknya proyek yang dijalankan, dan banyaknya pencapaian yang dipamerkan. Padahal aktivitas yang terus-menerus tidak selalu identik dengan kehidupan yang bermakna. Kesibukan sering kali membuat kita lupa bertanya mengapa kita melakukan semua itu. Akhirnya, kita menjadi seperti pelari yang terus mempercepat langkah, tetapi tidak lagi mengetahui ke mana tujuan akhirnya.
Yang lebih memprihatinkan, menurut Han, kehidupan modern kehilangan narasinya. Hidup tidak lagi terasa sebagai sebuah perjalanan yang utuh, melainkan kumpulan fragmen yang saling terputus. Pagi diisi rapat daring, siang berpindah ke media sosial, sore mengejar target pekerjaan, malam menonton hiburan hingga tertidur karena lelah. Semua terjadi begitu cepat tanpa ruang untuk menghubungkan pengalaman-pengalaman tersebut menjadi kisah kehidupan yang bermakna. Kita memiliki begitu banyak pengalaman, tetapi sedikit sekali yang benar-benar menjadi kebijaksanaan. Kita mengumpulkan informasi, tetapi kehilangan kemampuan untuk mengendapkannya menjadi pemahaman.
Di sinilah Han menawarkan sebuah jalan keluar yang sederhana sekaligus radikal, yaitu menghidupkan kembali seni lingering, seni untuk berdiam. Berdiam bukan berarti bermalas-malasan atau menolak bekerja. Berdiam adalah keberanian memberi ruang bagi keheningan agar pengalaman dapat berbicara kepada hati. Membaca sebuah buku tanpa tergesa-gesa, menikmati secangkir teh tanpa membuka telepon genggam, berjalan menyusuri jalan sambil mengamati pepohonan, atau duduk setelah salat untuk berdzikir dengan penuh kesadaran merupakan bentuk-bentuk kecil dari seni berdiam. Dalam keheningan itulah waktu kembali memiliki aroma, karena manusia mulai benar-benar hadir dalam setiap detik kehidupannya.
Sebagai seorang pendidik, saya merasakan bahwa kritik Han memiliki relevansi yang sangat kuat dengan dunia pendidikan. Sekolah hari ini sering kali terjebak pada budaya penyelesaian kurikulum, target asesmen, laporan administrasi, serta perlombaan prestasi. Guru sibuk mengejar materi, sementara murid sibuk mengejar nilai. Padahal pendidikan sejatinya bukan sekadar memindahkan informasi dari kepala guru ke kepala peserta didik, melainkan menumbuhkan manusia yang mampu merenung, memahami, dan memaknai kehidupan. Pengetahuan membutuhkan waktu untuk diendapkan. Sebagaimana benih memerlukan musim agar menjadi pohon, demikian pula ilmu memerlukan jeda agar berubah menjadi hikmah.
Tradisi Islam sesungguhnya telah lama mengajarkan apa yang kini diingatkan kembali oleh Byung-Chul Han. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk tafakkur, tadabbur, dan tazakkur. Rasulullah ﷺ membiasakan khalwat sebelum menerima wahyu, sementara para ulama menjadikan keheningan sebagai ruang lahirnya ilmu dan kebijaksanaan. Dalam perspektif ini, waktu bukan sekadar sesuatu yang harus dihabiskan, tetapi amanah yang harus dihayati. Keberkahan waktu tidak diukur dari padatnya agenda, melainkan dari kedalaman makna yang berhasil ditanamkan dalam setiap aktivitas.
Pada akhirnya, The Scent of Time bukanlah buku tentang manajemen waktu, melainkan buku tentang cara memulihkan kemanusiaan. Byung-Chul Han mengingatkan bahwa manusia tidak kehilangan waktu karena terlalu sibuk, tetapi kehilangan makna waktu karena tidak lagi mampu berhenti, merenung, dan menikmati hidup secara utuh. Barangkali yang kita perlukan hari ini bukanlah aplikasi penjadwalan yang lebih canggih atau metode produktivitas yang lebih cepat. Yang lebih kita butuhkan adalah keberanian untuk sesekali memperlambat langkah, menghirup kembali aroma waktu, dan menyadari bahwa hidup bukan sekadar tentang seberapa banyak yang kita kerjakan, melainkan seberapa dalam kita menghadirkan diri dalam setiap detik yang Allah anugerahkan.
Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 8 Juli 2026
.png)
0 Komentar