Ketika Kitab Kuning Bertemu Zaman: Merenungkan Kembali Kontekstualisasi Pembelajaran Pesantren

Penulis: Irfan Soleh


Siang ini menjadi ruang belajar yang tidak direncanakan. Pada acara Silaturahmi Akbar Alumni Haji dan Umrah KBIH Al Hasan, saya berkesempatan menyimak tausiyah yang disampaikan oleh Dr. KH. Faiz Syukron Makmum. Setelah rangkaian acara selesai, kami melanjutkan perbincangan sambil menikmati santap siang. Obrolan yang semula ringan perlahan mengalir menuju tema yang lebih mendasar: bagaimana kondisi pesantren hari ini, tantangan yang sedang dihadapi, dan transformasi yang tidak lagi dapat ditunda. Kami sepakat bahwa kekuatan pesantren tidak cukup hanya dipertahankan, tetapi juga perlu diterjemahkan ulang melalui pembaruan metode pembelajaran (learning method) serta kontekstualisasi pengajaran kitab kuning agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Sebab, jika dunia berubah begitu cepat sementara cara kita mengajarkan ilmu tetap berjalan di tempat, mungkinkah pesantren tetap mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memahami warisan ulama, tetapi juga mampu memimpin masa depan?


Kitab kuning sesungguhnya tidak pernah menjadi persoalan. Yang sering menjadi persoalan adalah cara kita mempertemukannya dengan realitas kehidupan santri. Selama berabad-abad kitab kuning telah menjadi sumber lahirnya ulama, pemikir, pemimpin masyarakat, sekaligus penjaga peradaban Islam. Namun setiap zaman menghadirkan persoalan yang berbeda. Dahulu para ulama berbicara tentang perdagangan di pasar tradisional, kini santri harus memahami ekonomi digital. Dahulu pembahasan berkisar pada perjalanan musafir dengan unta dan kapal layar, kini manusia hidup bersama kecerdasan buatan, platform digital, dan jaringan global. Nilai-nilai kitab tetap abadi, tetapi contoh, pendekatan, dan ruang aplikasinya perlu terus diperbarui agar ilmu tidak berhenti sebagai hafalan, melainkan menjelma menjadi kemampuan membaca kehidupan.


Di sinilah kontekstualisasi menemukan maknanya. Kontekstualisasi bukanlah mengubah isi kitab, bukan pula mengurangi penghormatan kepada karya ulama salaf. Kontekstualisasi adalah menghadirkan kembali ruh pemikiran mereka dalam menjawab persoalan yang dihadapi umat hari ini. Imam Al-Ghazali, Imam Asy-Syafi’i, Imam An-Nawawi, maupun para ulama Nusantara selalu berangkat dari realitas masyarakat pada zamannya. Mereka tidak sekadar mengulang pendapat, tetapi melakukan ijtihad dalam memahami keadaan. Jika semangat itu mampu diwariskan kepada santri, maka belajar kitab kuning bukan hanya melatih kemampuan membaca teks Arab, melainkan juga melatih kemampuan membaca masyarakat, membaca perubahan, dan membaca masa depan.


Transformasi berikutnya terletak pada metode belajar. Selama ini pembelajaran kitab sering berpusat pada guru sebagai penyampai makna, sementara santri menjadi penerima pengetahuan. Pola tersebut memiliki nilai yang besar dalam menjaga sanad keilmuan, tetapi dapat diperkaya dengan pendekatan yang lebih partisipatif. Santri dapat diajak mengkaji kasus nyata, melakukan penelitian sederhana, berdiskusi lintas disiplin, menyusun solusi atas problem sosial, bahkan menghubungkan kandungan kitab dengan fenomena ekonomi, lingkungan, teknologi, pendidikan, dan kebijakan publik. Dengan demikian, kitab kuning tidak hanya dipelajari, tetapi juga dihidupkan dalam pengalaman belajar yang membentuk cara berpikir kritis sekaligus adab ilmiah.


Percakapan siang itu semakin menegaskan bahwa masa depan pesantren tidak ditentukan oleh seberapa banyak kitab yang diajarkan, melainkan oleh seberapa dalam kitab itu membentuk cara pandang santri terhadap kehidupan. Pesantren yang berhasil bukan hanya menghasilkan lulusan yang mampu menjelaskan isi kitab, tetapi juga mampu menghadirkan hikmah kitab sebagai solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Santri yang memahami fiqh akan mampu merancang ekosistem ekonomi yang berkeadilan. Santri yang mendalami akhlak akan menjadi pemimpin yang berintegritas. Santri yang menguasai ushul fiqh akan memiliki kemampuan berpikir sistematis dalam menghadapi kompleksitas zaman.


Saya meninggalkan meja makan siang dengan satu keyakinan yang semakin kuat. Transformasi pesantren bukanlah meninggalkan tradisi, melainkan menghidupkan kembali tradisi agar tetap relevan. Kitab kuning akan selalu menjadi jantung pendidikan pesantren, tetapi jantung hanya akan memberi kehidupan apabila darah pengetahuan terus mengalir ke seluruh tubuh zaman. Barangkali, tugas generasi kita bukan menulis kitab yang baru, melainkan memastikan kitab-kitab yang telah diwariskan para ulama terus berbicara dengan bahasa yang dipahami oleh setiap generasi, sehingga pesantren tetap menjadi mercusuar ilmu yang menerangi masa lalu, menuntun masa kini, dan menyiapkan masa depan.


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 5 Juli 2026