Film, Lagu, dan Buku: Trilogi Jejak Langkah Lulusan SMAIT IRFANI 2026

Penulis: Irfan Soleh


Setiap angkatan selalu meninggalkan jejak, tetapi tidak semua jejak menjelma menjadi warisan. Ada yang dikenang karena prestasinya, ada yang diingat karena semangat kebersamaannya, dan ada pula yang terus hidup melalui karya yang melampaui zamannya. Lulusan SMAIT IRFANI Quranicpreneur Bilingual School Pesantren Raudhatul Irfan angkatan 2026 memilih meninggalkan tiga karya sekaligus: sebuah film, sebuah lagu, dan sebuah buku. Ketiganya lahir bukan sebagai pelengkap acara graduation, melainkan sebagai bahasa yang merekam perjalanan pendidikan selama bertahun-tahun. Bukankah pendidikan yang sejati selalu berusaha mengubah pengalaman menjadi makna, lalu mengabadikan makna itu menjadi karya?


Film yang mereka persembahkan berkisah tentang seorang santri yang sedang mencari arah hidup. Ia bukan tokoh yang sejak awal mengetahui cita-citanya, melainkan seseorang yang akrab dengan kegelisahan, keraguan, dan berbagai pertanyaan tentang masa depan. Ia melihat teman-temannya melangkah lebih cepat, sementara dirinya masih sibuk mencari jalan yang harus ditempuh. Namun justru di situlah letak kekuatan kisah tersebut. Film ini tidak mengajarkan bahwa setiap orang harus segera menemukan tujuan, melainkan mengingatkan bahwa keberanian melangkah lebih penting daripada menunggu kepastian yang belum tentu datang.


Sesungguhnya kehidupan memang tidak pernah memperlihatkan seluruh jalan sekaligus. Allah hanya memperlihatkan satu langkah yang perlu dijalani hari ini, sementara langkah berikutnya akan terbuka setelah langkah pertama disempurnakan. Karena itulah akhir film tersebut terasa begitu dekat dengan kenyataan. Sang santri belum memiliki seluruh jawaban, tetapi ia telah mengambil keputusan yang paling menentukan: ia tidak berhenti berjalan. Sebab dalam kehidupan, orang yang terus bergerak lebih dekat kepada takdirnya dibandingkan mereka yang hanya sibuk menunggu keyakinan yang sempurna. Ikhtiar selalu mendahului kejelasan, sebagaimana fajar selalu datang setelah malam yang panjang.


Jika film berbicara tentang kehidupan yang sedang dijalani, maka lagu “Jejak Langkah Irfani” berbicara tentang hati yang membentuk kehidupan itu sendiri. Liriknya tidak sekadar mengenang masa-masa belajar, melainkan merangkai seluruh unsur yang selama ini membesarkan seorang santri: ruang belajar yang dipenuhi doa, guru yang mendidik dengan keteladanan, ayah dan bunda yang menguatkan dengan munajat, serta persaudaraan yang tumbuh dalam keberkahan Pesantren Raudhatul Irfan. Lagu ini mengingatkan bahwa manusia tidak pernah tumbuh sendirian. Di balik setiap langkah yang terlihat, selalu ada doa-doa yang tidak terlihat.


Lebih jauh lagi, lagu ini bukanlah nyanyian perpisahan, melainkan ikrar perjalanan. Ketika liriknya menegaskan, “Qurani dalam langkah, berani menata mimpi, dengan bahasa dunia kami siap mengabdi,” sesungguhnya yang sedang dinyatakan adalah identitas lulusan IRFANI. Al-Qur’an menjadi cahaya yang membimbing arah hidup, bahasa Arab dan Inggris menjadi jembatan dakwah serta peradaban, sedangkan jiwa entrepreneur menjadi ikhtiar menghadirkan manfaat bagi sesama. Bahkan pada bait penutupnya, lagu ini menitipkan estafet perjuangan kepada adik-adik kelas agar jejak yang telah diukir tidak berhenti pada satu generasi. Sebab warisan terbesar sebuah sekolah bukanlah gedungnya, melainkan nilai yang terus hidup dalam diri para alumninya.


Namun perjalanan manusia tidak cukup hanya disimpan dalam cerita dan dinyanyikan dalam nada. Ia juga harus dirumuskan menjadi pengetahuan agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itulah trilogi ini disempurnakan dengan hadirnya buku tentang Problem Based Learning. Jika film menyentuh pengalaman hidup dan lagu menghidupkan rasa syukur, maka buku mengajak pembacanya berpikir secara jernih. Pendidikan tidak cukup melahirkan lulusan yang mengetahui banyak hal, tetapi harus melahirkan pribadi yang mampu membaca persoalan, menemukan akar masalah, lalu menghadirkan solusi yang memberi manfaat bagi masyarakat.


Semangat Problem Based Learning sesungguhnya sejalan dengan filosofi Quranicpreneur yang menjadi identitas SMAIT IRFANI. Seorang pembelajar tidak berhenti pada kemampuan menjawab soal, tetapi tumbuh menjadi peneliti, pemecah masalah, inovator, sekaligus pelayan masyarakat. Ilmu bukan sekadar memenuhi ruang kepala, melainkan menggerakkan tangan untuk berkarya dan menggerakkan hati untuk mengabdi. Ketika ilmu dipadukan dengan akhlak, kreativitas, dan semangat kewirausahaan, maka lahirlah generasi yang tidak hanya siap menghadapi perubahan zaman, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi atas perubahan itu.


Pada akhirnya, film, lagu, dan buku bukanlah tiga karya yang berdiri sendiri. Ketiganya membentuk satu perjalanan pendidikan yang utuh. Film mengajarkan keberanian menjalani kehidupan, lagu menjaga kemurnian hati sepanjang perjalanan, sedangkan buku membimbing akal agar setiap langkah melahirkan kemaslahatan. Inilah hakikat pendidikan yang sesungguhnya: membentuk manusia yang hidup dengan visi, berjalan dengan nilai, dan berkarya dengan ilmu. Ketika ketiga dimensi itu bertemu, lahirlah insan yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa keberkahan bagi orang lain.


Mungkin beberapa tahun ke depan orang tidak lagi mengingat kemeriahan panggung graduation, warna toga, ataupun rangkaian acaranya. Namun karya-karya itu akan terus berbicara kepada siapa pun yang datang sesudahnya. Film akan mengingatkan bahwa kebingungan bukan alasan untuk berhenti. Lagu akan mengajarkan bahwa setiap keberhasilan selalu bertumpu pada doa guru dan orang tua. Buku akan menegaskan bahwa setiap tantangan selalu menunggu lahirnya solusi. Dan selama ketiganya terus dibaca, didengar, dan ditonton, selama itu pula jejak langkah lulusan SMAIT IRFANI Quranicpreneur Bilingual School angkatan 2026 akan tetap hidup—bukan sekadar sebagai kenangan, melainkan sebagai inspirasi yang terus melahirkan langkah-langkah baru menuju masa depan yang diridhai Allah Swt.


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, Selasa 30 Juni 2026