Dari Tugu Koperasi Menuju Gerakan Ekonomi
Penulis: Irfan Soleh
Di tengah derasnya arus globalisasi, ukuran kemajuan sebuah bangsa sering kali hanya dilihat dari tingginya gedung pencakar langit, pesatnya perkembangan teknologi, atau besarnya nilai investasi yang masuk. Kita begitu sibuk mengejar masa depan hingga tanpa sadar mulai menjauh dari akar sejarah yang membentuk jati diri bangsa. Padahal, bangsa yang kehilangan ingatan terhadap sejarahnya akan kehilangan arah dalam menentukan masa depannya. Karena itu, revitalisasi Kawasan Tugu Koperasi dan Gedung Kongres Koperasi 1947 di Kota Tasikmalaya bukan sekadar upaya melestarikan bangunan bersejarah, melainkan usaha menghidupkan kembali ruh perjuangan ekonomi rakyat yang pernah lahir dari kota ini. Jika kita melupakan tempat lahirnya semangat ekonomi gotong royong, dari mana lagi kita akan belajar membangun masa depan ekonomi Indonesia?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika kita menyaksikan berbagai persoalan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat. Ketimpangan kesejahteraan, lemahnya posisi pelaku usaha kecil, panjangnya rantai distribusi, hingga dominasi sistem ekonomi yang semakin individualistik menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan. Indonesia memerlukan fondasi yang mampu menghadirkan pemerataan, kebersamaan, dan keadilan. Nilai-nilai itulah yang sejak awal menjadi napas gerakan koperasi.
Bukan tanpa alasan apabila Tasikmalaya memiliki tempat yang sangat istimewa dalam sejarah koperasi Indonesia. Di kota inilah, pada tahun 1947, diselenggarakan Kongres Koperasi Indonesia pertama, ketika republik yang baru merdeka masih menghadapi berbagai ancaman terhadap kedaulatannya. Para tokoh koperasi saat itu memahami bahwa mempertahankan kemerdekaan tidak cukup dilakukan melalui perjuangan politik dan militer. Kemerdekaan juga harus diwujudkan melalui sistem ekonomi yang memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat untuk tumbuh dan sejahtera secara bersama.
Dari kongres sederhana itu lahirlah sebuah keyakinan bahwa koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan gerakan sosial yang menjadikan gotong royong sebagai kekuatan utama. Anggota bukan diposisikan sebagai konsumen semata, tetapi sebagai pemilik, pengelola, sekaligus penerima manfaat. Cara pandang inilah yang membedakan koperasi dari sistem ekonomi yang hanya berorientasi pada akumulasi keuntungan. Sejak awal, koperasi hadir untuk memastikan bahwa kesejahteraan tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi menjadi milik bersama.
Karena itu, pencanangan revitalisasi Kawasan Tugu Koperasi oleh Kementerian Koperasi bersama Kementerian Kebudayaan, Dewan Koperasi Indonesia, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kota Tasikmalaya memiliki makna yang jauh melampaui pembangunan fisik. Revitalisasi ini merupakan ikhtiar menghidupkan kembali memori kolektif bangsa sekaligus menjadikan kawasan bersejarah tersebut sebagai pusat edukasi, pusat budaya, dan pusat aktivitas ekonomi yang mampu menginspirasi lahirnya gerakan koperasi generasi baru.
Gagasan Menteri Koperasi agar kawasan ini menjadi ruang publik yang hidup patut diapresiasi. Sebuah situs sejarah akan kehilangan makna apabila hanya dikunjungi untuk dikenang, tetapi akan menjadi sangat bernilai apabila melahirkan ide, kolaborasi, dan gerakan baru. Tugu Koperasi tidak boleh berhenti sebagai objek wisata sejarah. Ia harus menjadi tempat lahirnya diskusi, inovasi, pendidikan, inkubasi usaha, hingga kolaborasi antarkoperasi yang terus menggerakkan ekonomi rakyat.
Bagi dunia pesantren, momentum ini memiliki arti yang sangat penting. Pesantren selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan akhlak, ilmu agama, dan pembentukan karakter. Namun tantangan zaman menuntut peran yang lebih luas. Pesantren harus menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat yang mampu melahirkan santri berakhlak mulia sekaligus memiliki kemampuan membangun usaha, mengelola koperasi, dan menciptakan ekosistem ekonomi yang membawa keberkahan bagi masyarakat.
Semangat itulah yang sedang kami ikhtiarkan melalui Koperasi Pemasaran Syariah Multi Pihak Pesantren Priangan Timur. Dengan menghimpun koperasi-koperasi pesantren dalam satu ekosistem, kami ingin membangun rantai pasok yang saling menguatkan, memperpendek jalur distribusi, memperluas akses pasar, dan meningkatkan daya saing produk pesantren. Bagi kami, koperasi bukan hanya tempat bertransaksi, melainkan wadah membangun kepercayaan, memperkuat ukhuwah, dan menghadirkan kesejahteraan bersama melalui prinsip-prinsip syariah.
Revitalisasi Tugu Koperasi juga menjadi pengingat bahwa sejarah tidak pernah meminta untuk sekadar dikenang. Sejarah meminta untuk dilanjutkan. Jika dahulu para pendiri koperasi membangun fondasi ekonomi rakyat dengan segala keterbatasannya, maka generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan semangat yang sama dalam bentuk yang lebih relevan: digitalisasi koperasi, pusat grosir bersama, penguatan UMKM, integrasi logistik, pemasaran modern, dan kolaborasi lintas lembaga demi memperkuat ekonomi bangsa.
Saat menghadiri pencanangan revitalisasi Kawasan Tugu Koperasi sebagai wakil Koperasi Pemasaran Syariah Multi Pihak Pesantren Priangan Timur, saya tidak merasa sedang menghadiri sebuah seremoni. Saya merasa sedang menyaksikan sebuah penegasan bahwa sejarah dan masa depan sesungguhnya saling bertaut. Tugu Koperasi mengingatkan kita dari mana gerakan ekonomi rakyat bermula, sedangkan gerakan koperasi hari ini menentukan ke mana bangsa ini akan melangkah. Semoga dari Tasikmalaya kembali lahir gelombang besar kebangkitan koperasi Indonesia, sehingga setiap langkah yang dimulai dari Tugu Koperasi benar-benar bermuara pada lahirnya gerakan ekonomi rakyat yang kuat, mandiri, berkeadilan, dan membawa keberkahan bagi seluruh bangsa.
*Catatan Pengasuh Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis selepas menghadiri Acara Revitalisasi Tugu Koperasi Tasikmalaya, Minggu 26 Juli 2026
.png)
0 Komentar