Pesantren Agropreneur: Menanam Harapan, Menumbuhkan Kemandirian, Memanen Peradaban

Penulis: Irfan Soleh


Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga harus mampu membentuk karakter, menumbuhkan keterampilan, dan menyiapkan generasi yang sanggup menghadapi realitas kehidupan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang telah terbukti melahirkan ulama, pemimpin, dan pejuang umat memiliki tanggung jawab untuk menjawab tantangan tersebut dengan tetap menjaga ruh keilmuan dan spiritualitasnya. Pertanyaannya, bagaimana pesantren dapat tetap kokoh menjaga tradisi sekaligus mampu menyiapkan generasi yang mandiri, produktif, dan relevan dengan kebutuhan zaman?


Pertanyaan itulah yang melatarbelakangi lahirnya Program Pesantren Agropreneur, sebuah ikhtiar kolaboratif yang digagas oleh Departemen Ekonomi DPP Hamida Indonesia bersama Pesantren Alhuda Cigayam Banjaranyar Ciamis dan Peterik Agro Langkapsari. Program ini dirancang sebagai model pendidikan terpadu yang menggabungkan pendidikan pesantren dengan pendidikan pertanian dan kewirausahaan berbasis agribisnis. Melalui program beasiswa yang diberikan kepada 44 santri putra, para peserta tidak hanya mendapatkan kesempatan memperdalam ilmu agama, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola pertanian dan bisnis pertanian sebagai bekal kehidupan yang produktif dan mandiri.


Program yang akan berlangsung selama empat bulan, mulai 22 Juni hingga 22 Oktober 2026, berangkat dari keyakinan bahwa ilmu agama dan keterampilan ekonomi bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Justru keduanya harus berjalan beriringan sebagaimana dicontohkan dalam ajaran Islam. Sejak masa para nabi, bekerja dan berusaha merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi pribadi yang bergantung kepada orang lain, melainkan mendorong lahirnya manusia yang mampu memberi manfaat melalui ilmu, karya, dan produktivitas yang dimilikinya.


Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Huwalladzî ja‘ala lakumul ardha dzalûlan famsyû fî manâkibihâ wa kulû mir rizqih”, yang artinya, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kalian, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15). Ayat ini memberikan pesan yang sangat kuat bahwa bumi bukan hanya tempat tinggal manusia, tetapi juga amanah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Mengolah lahan, menanam tanaman, menghasilkan pangan, dan membangun usaha yang bermanfaat merupakan bagian dari manifestasi syukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada manusia.


Atas dasar pemahaman tersebut, Pesantren Agropreneur dibangun dengan sistem kurikulum yang terintegrasi antara pendidikan kepesantrenan dan pendidikan agropreneur. Pada siang hari, para santri akan melaksanakan praktik pertanian dan bisnis pertanian secara langsung di lingkungan Peterik Agro Langkapsari. Mereka akan belajar mengenali potensi lahan, memahami teknik budidaya, mempelajari manajemen usaha tani, hingga memahami prinsip-prinsip pemasaran hasil pertanian. Proses belajar dilakukan secara aplikatif agar santri memperoleh pengalaman nyata yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.


Untuk memperkuat aspek kewirausahaan, program ini juga mendapatkan dukungan akademik dari Pesantren Raudhatul Irfan yang selama ini mengembangkan konsep Quranicpreneur dalam sistem pendidikannya. Keterlibatan Pesantren Raudhatul Irfan diarahkan untuk memperkaya wawasan dan teori entrepreneurship yang menjadi fondasi penting dalam membangun mentalitas usaha para santri. Dengan demikian, peserta tidak hanya memahami bagaimana cara menanam dan memanen hasil pertanian, tetapi juga memahami bagaimana membaca peluang, menyusun model bisnis, membangun jejaring usaha, mengelola keuangan, serta mengembangkan usaha yang berkelanjutan dan bernilai manfaat bagi masyarakat.


Sementara itu, pada malam hari para santri akan mengikuti pendidikan kepesantrenan di Pesantren Alhuda Cigayam. Materi yang dipelajari meliputi ilmu nahwu, tauhid, fiqh, dan tasawuf sebagai fondasi utama pembentukan kepribadian muslim yang utuh. Dengan demikian, santri tidak hanya memahami cara mengelola lahan dan usaha, tetapi juga memahami tujuan hidup, hakikat ibadah, adab bermuamalah, serta pentingnya menjaga hubungan dengan Allah SWT dalam setiap aktivitas kehidupan. Keseimbangan antara kecerdasan spiritual dan kecakapan praktis inilah yang menjadi ciri khas utama program ini.


Dalam perspektif pendidikan Islam, konsep tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Seorang khalifah tidak hanya dituntut memiliki kesalehan individual, tetapi juga harus mampu menghadirkan kemaslahatan sosial melalui karya dan pengabdiannya. Karena itu, santri perlu dibekali kemampuan untuk membaca peluang, mengelola sumber daya, membangun usaha, dan memberdayakan masyarakat tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman yang menjadi identitas dirinya. Dari sinilah lahir harapan agar santri mampu menjadi agen perubahan yang berkontribusi bagi kemajuan umat.


Lebih jauh lagi, sektor pertanian dipilih karena memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Negeri ini dianugerahi tanah yang subur, iklim yang mendukung, dan kekayaan hayati yang melimpah. Namun potensi besar tersebut belum sepenuhnya mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat jika tidak dikelola dengan ilmu, teknologi, dan semangat kewirausahaan. Oleh sebab itu, pengenalan agribisnis kepada santri bukan hanya bertujuan menghasilkan produk pertanian, tetapi juga membangun cara pandang baru bahwa pertanian adalah bidang strategis yang dapat menjadi sumber kemandirian ekonomi umat.


Di sisi lain, praktik pertanian juga menyimpan pelajaran spiritual yang sangat mendalam. Seorang petani menanam benih dengan penuh keyakinan meskipun hasilnya belum terlihat. Ia merawat tanaman dengan sabar, menghadapi berbagai risiko, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada kehendak Allah SWT. Nilai-nilai seperti kesabaran, ketekunan, ikhtiar, dan tawakal merupakan pelajaran kehidupan yang sangat penting bagi seorang santri. Karena itu, kebun bukan hanya menjadi tempat praktik kerja, melainkan juga menjadi ruang pendidikan karakter yang mengajarkan makna perjuangan dan penghambaan kepada Allah.


Pesantren Agropreneur pada akhirnya bukan sekadar program pelatihan pertanian atau pendidikan kewirausahaan. Program ini merupakan upaya membangun manusia yang utuh; manusia yang memiliki akidah yang kokoh, ilmu yang memadai, keterampilan yang bermanfaat, dan akhlak yang mulia. Sinergi antara Departemen Ekonomi DPP Hamida Indonesia, Pesantren Alhuda Cigayam, Peterik Agro, dan Pesantren Raudhatul Irfan menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan kunci penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang melahirkan generasi unggul. Ketika teori, praktik, spiritualitas, dan kewirausahaan dipadukan dalam satu sistem pendidikan, maka peluang lahirnya generasi yang mandiri akan semakin besar.


Dari Pesantren Alhuda Cigayam dan kebun Peterik Agro Langkapsari, sebuah harapan besar sedang ditanam. Harapan agar lahir generasi santri yang tidak hanya fasih membaca kitab, tetapi juga mampu membaca peluang kehidupan. Santri yang tidak hanya memahami hukum-hukum agama, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi umat. Santri yang dekat dengan Allah SWT, terampil dalam bekerja, memiliki jiwa entrepreneur yang kuat, serta siap mengabdikan diri untuk agama, bangsa, dan masyarakat. Sebab sesungguhnya, ketika ilmu, iman, keterampilan, dan kewirausahaan dipadukan dalam satu proses pendidikan, yang dipanen bukan hanya hasil pertanian, melainkan juga benih-benih peradaban masa depan.


Pesantren Agropreneur: Menanam Ilmu, Menumbuhkan Iman, Menguatkan Jiwa Entrepreneur, dan Memanen Kemandirian untuk Peradaban.


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 19 Juni 2026