Orang Berakal dan Orang Lalai: Dari Mana Kita Memulai Hari?

Penulis: Irfan Soleh


Pagi hari adalah cermin yang paling jujur untuk melihat keadaan hati seseorang. Saat mata terbuka dan kesadaran kembali hadir setelah tidur, arah pandangan batin seseorang akan menentukan bagaimana ia menjalani seluruh harinya. Ada orang yang sejak awal sibuk menghitung pekerjaan, target, dan urusan yang harus diselesaikan. Ada pula orang yang sebelum memikirkan apa yang akan ia lakukan, terlebih dahulu memikirkan apa yang sedang Allah kehendaki terjadi pada dirinya. Di antara dua cara pandang inilah Syekh Ibnu Athaillah membedakan antara orang lalai dan orang berakal. Pertanyaannya, ketika kita bangun pagi, apakah yang pertama kali memenuhi hati kita adalah rencana diri sendiri atau kesadaran akan kehendak Allah yang sedang bekerja atas diri kita?


Orang lalai bukanlah semata-mata orang yang tidak beribadah atau tidak mengenal agama. Kelalaian yang dimaksud dalam hikmah ini jauh lebih halus dan lebih dalam. Ia adalah keadaan ketika seseorang lupa kepada hakikat tauhid, sehingga dirinya menjadi pusat dari seluruh peristiwa yang ia alami. Ketika memulai hari, yang muncul dalam pikirannya adalah kemampuan, strategi, pengalaman, dan kekuatannya sendiri. Ia merasa bahwa keberhasilan akan datang karena kecerdasannya, sementara kegagalan terjadi karena kurangnya usaha. Tanpa disadari, ia menempatkan dirinya sebagai aktor utama kehidupan dan melupakan bahwa seluruh sebab yang bekerja tetap berada di bawah pengaturan Allah Yang Maha Mengatur.


Karena itulah orang lalai selalu dibebani oleh dirinya sendiri. Setiap pekerjaan terasa berat karena ia memikul semuanya dengan kekuatan yang terbatas. Ia mengukur masa depan dengan kemampuan yang ia miliki hari ini. Ketika rencana berjalan tidak sesuai harapan, ia mudah kecewa. Ketika hasil tidak sebanding dengan usaha, ia merasa gelisah. Bahkan ketika berhasil sekalipun, keberhasilannya sering melahirkan rasa bangga yang menjauhkan dirinya dari Allah. Hatinya terus bergerak dari satu kecemasan menuju kecemasan berikutnya karena pusat ketergantungannya berada pada sesuatu yang lemah, yaitu dirinya sendiri.


Berbeda dengan itu, orang berakal adalah orang yang memandang segala sesuatu melalui cahaya tauhid. Ia memahami bahwa dirinya hanyalah hamba yang sedang dijalankan oleh Allah menuju tujuan yang telah ditentukan-Nya. Ketika bangun pagi, ia tidak hanya bertanya apa yang akan ia kerjakan, tetapi lebih dahulu menyadari bahwa Allah sedang mengatur sesuatu untuk dirinya. Kesadaran ini tidak membuatnya pasif atau meninggalkan ikhtiar. Justru ia bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi hatinya tidak bergantung kepada pekerjaan itu. Ia berusaha sepenuh tenaga, sementara keyakinannya tetap tertuju kepada Allah yang menciptakan usaha, kemampuan, kesempatan, dan hasil dari setiap ikhtiar.


Orang yang memiliki pandangan seperti ini akan merasakan ketenangan yang berbeda. Ketika sebuah tugas datang, ia melihatnya sebagai amanah dari Allah. Ketika sebuah kesulitan muncul, ia melihatnya sebagai pendidikan dari Allah. Ketika pintu kemudahan terbuka, ia melihatnya sebagai karunia dari Allah. Bahkan ketika sesuatu yang diinginkan belum terwujud, ia tetap percaya bahwa Allah sedang menyiapkan kebaikan yang belum mampu ia pahami. Karena pandangannya selalu tertuju kepada Allah, ia tidak mudah diguncang oleh perubahan keadaan. Ia sadar bahwa yang mengatur hidupnya bukanlah kondisi yang berubah-ubah, melainkan Tuhan yang tidak pernah berubah.


Syekh Ibnu Athaillah kemudian memberikan ukuran yang sangat penting bagi seorang murid. Kualitas tauhid seseorang dapat dilihat dari arah pandangan pertama hatinya. Jika sejak awal hati langsung memandang kemampuan dirinya, itu pertanda masih kuatnya hijab yang memisahkan dirinya dari Allah. Namun jika hati segera kembali kepada Allah dan menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya, maka cahaya tauhid mulai menyinari perjalanan hidupnya. Semakin kuat tauhid seseorang, semakin besar pula ketenangan yang ia rasakan, karena ia tidak lagi hidup di bawah tekanan kemampuannya sendiri, melainkan di bawah naungan kekuasaan Allah Yang Maha Sempurna.


Dalam kehidupan sehari-hari, pelajaran ini sangat relevan bagi para santri dan keluarga besar Pesantren Raudhatul Irfan. Ketika seorang santri menghadapi hafalan yang sulit, ujian yang berat, atau amanah organisasi yang banyak, ia dapat memilih dua cara pandang. Ia bisa berkata, “Bagaimana mungkin aku mampu melakukan semua ini?” atau ia bisa berkata, “Ya Allah, apa yang Engkau kehendaki dariku melalui semua keadaan ini?” Kalimat pertama berpusat pada kelemahan diri, sedangkan kalimat kedua berpusat pada kebesaran Allah. Perbedaannya tampak sederhana, tetapi dari situlah lahir perbedaan antara hati yang sempit dan hati yang lapang, antara jiwa yang mudah putus asa dan jiwa yang selalu memiliki harapan.


Pada akhirnya, kecerdasan sejati bukanlah kemampuan menghitung peluang, menyusun strategi, atau merencanakan masa depan dengan sangat rinci. Kecerdasan sejati adalah kemampuan melihat tangan Allah yang bekerja di balik seluruh peristiwa kehidupan. Orang lalai memulai hari dengan dirinya sendiri sehingga sepanjang hari ia sibuk memikul beban yang tidak sanggup ia tanggung. Sementara orang berakal memulai hari bersama Allah sehingga sepanjang hari ia merasakan pertolongan dan bimbingan-Nya. Semakin kuat tauhid seseorang, semakin ringan langkahnya menapaki kehidupan, karena ia sadar bahwa yang menjalankan hidup ini bukan dirinya, melainkan Allah yang selalu bersamanya.


Pesantren Raudhatul Irfan , 11 Juni 2026