Cahaya yang Mendahului Kata

Penulis: Irfan Soleh 


Malam ini, Selasa 16 Juni 2026, penulis berkesempatan mengikuti riyadhah bersama KH Abdul Aziz Affandi dalam rangka Reuni Hamida. Pada kesempatan tersebut, beliau mengawali pembahasan dengan menguraikan berbagai persoalan yang sedang dihadapi banyak pesantren dewasa ini. Di antara yang menjadi perhatian beliau adalah menurunnya jumlah santri. Beliau juga membaca beragam permasalahan yang mungkin sedang dihadapi alumni dari mulai masalah keluarga hingga ekonomi. Namun menariknya, beliau tidak mengajak para alumni untuk terlalu larut dalam membahas persoalan-persoalan tersebut. Beliau justru mengarahkan perhatian kepada akar yang lebih mendasar, yaitu kekuatan iman dan kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Pertanyaannya, ketika menghadapi berbagai persoalan besar dalam kehidupan dan perjuangan, apakah yang pertama kali kita perkuat adalah strategi lahiriah atau justru fondasi keimanan yang menjadi sumber pertolongan Allah?


Dalam nasihatnya, KH Abdul Aziz Affandi berpesan kepada para alumni bahwa apa pun permasalahan yang dihadapi, baik dalam mengelola pesantren, keluarga, usaha maupun organisasi, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperkuat keimanan melalui istiqamah dalam ibadah dan amal saleh. Beliau menekankan pentingnya memperbaiki wudhu, menyempurnakan shalat, memperbanyak dzikir, serta menjaga amal-amal yang dicintai Allah. Sebab keberhasilan seorang mukmin tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan mengatur urusan dunia, melainkan oleh seberapa kuat hubungan dirinya dengan Rabb semesta alam. Ketika hubungan dengan Allah baik, maka Allah akan membuka jalan-jalan kemudahan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Sebaliknya, ketika hati jauh dari Allah, sering kali berbagai ikhtiar yang dilakukan kehilangan keberkahan dan arah yang jelas.


Pada saat itulah beliau mengutip salah satu hikmah agung Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari yang berbunyi: “Tasbiqu anwārul hukamā’i aqwālahum, fa haitsush-shārat tanwīru washala ta‘bīr” — cahaya para hukama mendahului ucapan mereka, dan ketika cahaya itu telah sampai maka sampailah pula ungkapan mereka. Hikmah ini menjadi penjelasan bahwa kekuatan sejati seorang mukmin tidak terletak pada kemampuannya berbicara, melainkan pada cahaya yang ada dalam hatinya. Karena itu KH Abdul Aziz Affandi berpesan agar para alumni memperkuat tanwir-nya terlebih dahulu, memperbanyak cahaya keimanan dalam hati sebelum sibuk mencari berbagai solusi lahiriah. Sebab hati yang terang akan mampu melihat jalan keluar yang tidak terlihat oleh hati yang gelap dan penuh kegelisahan.


Hikmah tersebut sesungguhnya menjelaskan banyak fenomena yang kita jumpai dalam kehidupan. Ada orang yang tidak memiliki jabatan besar, namun nasihatnya didengar banyak orang. Ada guru yang sederhana, tetapi murid-muridnya mencintainya dengan tulus. Ada kiai yang tidak banyak berbicara, namun kehadirannya mampu menenangkan hati orang-orang di sekitarnya. Semua itu terjadi karena manusia tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga merasakan keadaan hati orang yang mengucapkannya. Ketika hati dipenuhi keikhlasan, tawakal dan kedekatan kepada Allah, maka ucapan yang keluar memiliki kekuatan yang mampu menembus hati. Cahaya itulah yang disebut oleh para ulama sebagai tanwir, yaitu penerangan batin yang lahir dari iman dan amal saleh.


Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, pesan ini terasa semakin relevan. Banyak lembaga berlomba-lomba memperbaiki fasilitas, memperkuat promosi dan menyusun berbagai strategi pengembangan. Semua itu tentu penting dan tidak boleh diabaikan. Namun pengalaman para ulama menunjukkan bahwa keberkahan sebuah perjuangan tidak hanya ditentukan oleh kuatnya perencanaan, tetapi juga oleh kuatnya hubungan para pelakunya dengan Allah SWT. Ketika para penggerak pesantren menjaga shalatnya, memperbaiki wudhunya, istiqamah dalam dzikir dan amal saleh, maka mereka sedang membangun fondasi yang jauh lebih kokoh daripada sekadar bangunan fisik dan program kerja. Sebab pertolongan Allah turun kepada hati-hati yang hidup dan senantiasa terhubung kepada-Nya.


Karena itu, pelajaran terbesar yang penulis bawa dari riyadhah tersebut bukanlah sekadar pemahaman tentang berbagai tantangan yang dihadapi pesantren, melainkan kesadaran bahwa setiap perubahan besar harus diawali dari perubahan dalam diri sendiri. Sebelum memperbaiki keadaan di luar, perbaikilah keadaan hati. Sebelum mencari solusi pada berbagai faktor eksternal, kuatkan dahulu hubungan dengan Allah melalui ibadah yang berkualitas. Inilah makna memperkuat tanwir yang diajarkan para hukama. Ketika cahaya itu telah memenuhi hati, maka Allah akan membimbing langkah, memberkahi usaha, meluruskan niat, dan menghadirkan jalan keluar dari arah yang tidak pernah disangka-sangka. Sebagaimana cahaya mendahului kata-kata para arif billah, maka cahaya iman pula yang akan mendahului datangnya pertolongan Allah dalam setiap perjuangan yang kita jalani.


Depan Masjid Agung Ciamis, Rabu, 17 Juni 2026