Menunggu dengan Adab, Berjalan dengan Tunduk

Penulis: Irfan Soleh


Pengajian malam ini, Kamis 7 Mei 2026, di Pesantren Raudhatul Irfan terasa begitu teduh dan penuh perenungan. Dalam kajian kitab Al-Hikam, para santri diajak memahami satu hikmah penting tentang adab seorang hamba kepada Allah: jangan menuntut Allah karena permintaan belum dikabulkan, tetapi tuntutlah diri sendiri karena adab dan kewajiban belum dijalankan dengan sempurna. Hikmah ini seakan menegur manusia yang terlalu sibuk menanyakan kapan doanya dikabulkan, tetapi jarang bertanya sudah sejauh mana dirinya sungguh-sungguh memperbaiki diri di hadapan Allah. Bukankah sering kali kita ingin hasil yang besar, tetapi belum serius membangun kualitas diri yang pantas menerima hasil tersebut?


Dari hikmah ini lahir pelajaran besar bagi para santri dan seluruh civitas pesantren bahwa cita-cita sukses dunia dan akhirat tidak akan tercapai hanya dengan angan-angan dan doa tanpa kesungguhan. Kesuksesan membutuhkan kedisiplinan hidup yang terus dijaga setiap hari. Waktunya ngaji maka bersungguh-sungguhlah mengaji, waktunya berjamaah maka segeralah memenuhi panggilan adzan, waktunya makan maka makan dengan tertib, waktunya istirahat maka tidur dengan teratur, dan waktunya belajar maka fokuslah belajar. Santri yang mampu mengatur waktunya dengan baik sejatinya sedang belajar mengatur hidupnya menuju masa depan yang lebih besar. Karena orang yang ingin cita-citanya dikabulkan Allah harus terlebih dahulu menunjukkan keseriusannya dalam menjalani proses yang Allah tetapkan.


Di lingkungan pesantren, pelajaran seperti ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada santri yang ingin cepat hafal Alfiyah, tetapi mudah putus asa ketika hafalannya belum lancar. Ada yang ingin segera dipercaya mengajar, namun belum sabar memperbaiki akhlak dan kedisiplinannya. Ada pula yang berharap dimudahkan rezekinya, sementara shalat berjamaah masih sering terlambat dan amanah kecil masih diabaikan. Dalam keadaan seperti itu, Al-Hikam mengajarkan bahwa keterlambatan bukan selalu tanda penolakan. Bisa jadi Allah sedang mendidik jiwa agar lebih pantas menerima apa yang diminta. Sebab tidak semua yang cepat datang akan membawa keberkahan, dan tidak semua yang tertunda berarti keburukan.


Ibnu Atha’illah seakan ingin memindahkan pusat perhatian seorang hamba. Biasanya manusia fokus kepada hasil, sedangkan para arifin fokus kepada adab. Ketika doa belum terwujud, kebanyakan orang bertanya, “Mengapa Allah belum memberi?” Padahal pertanyaan yang lebih penting ialah, “Sudahkah aku datang kepada Allah dengan kepantasan seorang hamba?” Karena inti ibadah bukan sekadar memperoleh apa yang diminta, melainkan menunjukkan kerendahan diri di hadapan-Nya. Maka orang yang berdoa sambil memaksa waktu pengabulan sejatinya sedang membawa kehendaknya sendiri ke hadapan Allah, bukan membawa kepasrahan dan ketundukan.


Di pesantren, santri sebenarnya sedang dilatih memahami rahasia ini melalui kehidupan yang sederhana. Makan seadanya, tidur bersama, antre mandi, menjaga kebersihan, bangun malam, hingga belajar mengatur ego dalam kehidupan berjamaah adalah pendidikan agar jiwa tidak selalu menuntut. Sebab orang yang terbiasa menuruti seluruh keinginannya akan sulit menjadi hamba yang tenang ketika doanya ditunda. Ia ingin segala sesuatu cepat selesai, cepat berhasil, cepat dipuji, dan cepat terlihat hasilnya. Padahal jalan menuju Allah sering kali dibangun di atas kesabaran panjang yang tidak disukai hawa nafsu.


Kita juga sering lupa bahwa Allah lebih mengetahui isi masa depan dibanding diri kita sendiri. Bisa jadi sesuatu yang hari ini kita paksa justru akan menghancurkan ketenangan kita jika benar-benar diberikan sekarang. Seorang santri mungkin ingin segera terkenal karena ilmunya, padahal Allah tahu hatinya belum kuat menghadapi pujian. Seorang pengurus mungkin ingin program pesantren langsung besar, padahal fondasi keikhlasan dan persaudaraan belum kokoh. Maka penundaan dari Allah terkadang bukan bentuk pengabaian, melainkan penjagaan. Allah menahan sesuatu bukan karena pelit memberi, tetapi karena Dia Maha Mengetahui waktu terbaik untuk memberikannya.


Sikap tergesa-gesa dalam berdoa juga menunjukkan bahwa hubungan seorang hamba dengan Allah masih dipenuhi transaksi. Ia beribadah agar segera diberi, berdoa agar segera dibalas, dan taat agar segera melihat hasil. Ketika hasil itu belum datang, semangat ibadahnya ikut menurun. Padahal seorang hamba yang matang akan tetap mengetuk pintu Allah meski belum melihat jawaban apa pun. Ia sadar bahwa nilai terbesar doa bukan hanya pada terkabulnya permintaan, tetapi pada dekatnya hati kepada Allah ketika memohon. Sebab ada orang yang dikabulkan permintaannya namun jauh dari Allah, dan ada orang yang belum dikabulkan doanya tetapi justru semakin dekat dengan-Nya.


Pengajian Al-Hikam di Raudhatul Irfan mengajarkan bahwa istiqamah lebih penting daripada keajaiban. Banyak orang ingin karamah, tetapi enggan menjaga adab. Banyak yang ingin kemudahan hidup, tetapi malas memperbaiki shalat dan lisannya. Padahal jalan lurus yang diminta dalam surah Al-Fatihah bukan hanya tentang sampai pada tujuan, melainkan tentang bagaimana berjalan dengan benar menuju tujuan itu. Karena itu, ketika doa terasa lama dijawab, mungkin yang sedang Allah tunggu bukan kesempurnaan permintaan kita, melainkan kesungguhan adab kita sebagai hamba.


Pada akhirnya, seorang hamba yang dewasa bukanlah yang tidak memiliki keinginan, melainkan yang mampu tetap tenang di hadapan penundaan. Ia tidak berhenti berdoa, tetapi juga tidak memaksa Allah mengikuti waktunya. Ia terus memperbaiki diri sambil yakin bahwa Allah tidak pernah salah menentukan kapan harus memberi. Dari sini lahir ketenangan yang dalam: bahwa tugas manusia hanyalah mengetuk pintu dengan adab terbaik, sedangkan kapan pintu itu dibuka sepenuhnya adalah hak Allah Yang Maha Bijaksana.


Pesantren Raudhatul Irfan,  7 Mei 2026