Menjahit Kembali Robithah Pesantren: Muhasabah untuk RMI NU Ciamis

Penulis: Irfan Soleh


Ada masa ketika pesantren-pesantren di Kabupaten Ciamis tumbuh dengan kekuatan sunyi. Mereka bergerak dalam ritme masing-masing, menghidupkan pengajian, menjaga sanad keilmuan, membina akhlak santri, dan merawat denyut Islam Ahlussunnah wal Jamaah tanpa banyak sorotan. Namun zaman berubah. Tantangan pendidikan, ekonomi, teknologi, dan perubahan sosial bergerak begitu cepat, sementara pesantren tidak mungkin lagi berjalan sendiri-sendiri. Di titik inilah keberadaan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama menjadi penting, bukan sekadar sebagai lembaga struktural, melainkan sebagai jembatan ruhani dan organisatoris antar pesantren. Sebagai Wakil Ketua RMI NU Ciamis, saya merasa muhasabah menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda: sudah sejauh mana RMI NU Ciamis benar-benar hadir sebagai katalisator, dinamisator, dan fasilitator bagi pondok pesantren di Kabupaten Ciamis? Ataukah jangan-jangan kita masih sibuk dengan aktivitas administratif, tetapi belum sepenuhnya berhasil membangun robithah yang hidup di antara pesantren-pesantren itu sendiri?


Dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama Bab V Pasal 17 huruf c ditegaskan bahwa RMI PBNU bertugas melaksanakan kebijakan NU di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Amanah ini sesungguhnya sangat besar. RMI tidak hanya diminta hadir dalam bentuk kegiatan seremonial, melainkan menjadi kekuatan penghubung yang menghidupkan ekosistem pesantren. Karena itu RMI membawa fungsi strategis sebagai katalisator yang mempercepat lahirnya perubahan baik di pesantren, sebagai dinamisator yang menggerakkan energi kolektif antar pesantren, dan sebagai fasilitator yang membuka jalan kerja sama, pemberdayaan, serta pengembangan kapasitas kelembagaan. Dalam kerangka itu pula RMI membawa nilai budaya KHARISMA: kreatif, harmonis, responsif, intelek, sederhana, mandiri, dan aktif. Nilai-nilai ini bukan sekadar slogan organisasi, tetapi semestinya menjadi watak gerakan yang terasa manfaatnya hingga ke pesantren-pesantren kecil di pelosok desa.


Sejarah berdirinya RMI sendiri sesungguhnya lahir dari kegelisahan para kiai terhadap pentingnya persatuan pesantren. Pada tahun 1954, lembaga ini berdiri dengan nama Ittihad al-Ma’ahid al-Islamiyah atas ikhtiar para ulama seperti KH. Achmad Syaichu dan KH. Idham Kholid. Sebelum itu, gagasan menghimpun pesantren dalam satu wadah muncul dari diskusi Kiai A. Sa’doellah, Kiai Achmad Jufri Besuk Pasuruan, dan Kiai Achmad Shiddiq Jember. Mereka menyadari bahwa pesantren membutuhkan ikatan yang mampu mempertemukan kekuatan-kekuatan kecil menjadi energi besar umat. Ketika usulan itu disampaikan kepada KH. Abdul Wahab Chasbullah selaku Rais Aam PBNU, beliau tidak hanya mendukung, tetapi juga mengusulkan nama Rabithah Ma’ahid Islamiyah. Kata “rabithah” bukan sekadar berarti organisasi, melainkan ikatan, keterhubungan, dan persenyawaan hati. Nama itu diambil dari spirit ayat “wa rabithu” dalam Surah Ali Imran ayat 200, yang mengandung pesan tentang kesabaran, keteguhan, kesiapsiagaan, dan keterhubungan perjuangan. Maka sejak awal, RMI memang tidak dibangun hanya untuk mengurus administrasi pesantren, tetapi untuk merawat tali pengikat antar pesantren.


Di sinilah letak muhasabah terbesar bagi RMI NU Ciamis hari ini. Jika nama besar “Rabithah” berarti ikatan, maka pertanyaannya adalah: seberapa kuat ikatan itu benar-benar terasa? Apakah pesantren-pesantren di Ciamis sudah saling mengenal secara mendalam, saling menopang ketika mengalami kesulitan, dan saling bertukar pengalaman dalam menghadapi tantangan zaman? Ataukah hubungan yang terbangun masih bersifat formal dan terbatas pada momentum tertentu? Kita harus jujur mengakui bahwa robithah antar pesantren di Ciamis masih membutuhkan penguatan yang serius. Banyak pesantren yang berjalan dengan potensinya masing-masing, tetapi belum sepenuhnya terkoneksi dalam gerakan kolektif yang terstruktur. Padahal di tengah tantangan ekonomi, digitalisasi pendidikan, perubahan karakter generasi muda, hingga kebutuhan pengembangan usaha pesantren, kekuatan berjamaah menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar.


Dalam konteks itu pula, RMI NU Ciamis memandang penting terbangunnya keharmonisan dengan berbagai organisasi dan forum pesantren lain yang hidup di Kabupaten Ciamis. Kehadiran FSPP (Forum Silaturahmi Pondok Pesantren) Kabupaten Ciamis, FPP (Forum Pondok Pesantren) Ciamis, serta berbagai komunitas pesantren lainnya bukan untuk dipandang sebagai pesaing, melainkan sebagai mitra perjuangan dalam merawat dunia pesantren. Sebab pada hakikatnya, seluruh organisasi itu lahir dari rahim kegelisahan yang sama: bagaimana pesantren tetap kuat, mandiri, dan relevan menghadapi perubahan zaman. Karena itu, semangat yang harus dibangun bukanlah kompetisi kelembagaan, tetapi kolaborasi peradaban. RMI NU Ciamis harus mampu menjadi bagian dari ekosistem yang harmonis, saling mendukung program, saling menguatkan jaringan, dan saling membuka ruang komunikasi. Pesantren terlalu besar untuk dipersempit oleh ego organisasi, sebab tujuan akhirnya bukan membesarkan nama lembaga, tetapi membesarkan manfaat bagi umat.


Kadang-kadang kita terlalu cepat merasa puas hanya karena kegiatan organisasi berjalan rutin. Musyawarah terlaksana, kepengurusan terbentuk, program kerja tersusun, dan dokumentasi kegiatan tersebar di media sosial. Padahal ukuran hidupnya RMI bukan pertama-tama pada ramainya agenda, melainkan pada kuatnya manfaat yang dirasakan pesantren. Ketika ada pesantren kecil yang kesulitan akses pendidikan, apakah RMI hadir membantu? Ketika ada pesantren yang membutuhkan penguatan ekonomi, apakah RMI mampu menjembatani solusi? Ketika ada pesantren yang memiliki inovasi baik, apakah inovasi itu berhasil ditularkan kepada pesantren lain? Muhasabah seperti ini penting agar RMI tidak kehilangan ruh perjuangannya. Sebab organisasi yang besar bukanlah organisasi yang banyak kegiatan, tetapi organisasi yang berhasil memperkuat persaudaraan dan memperluas kebermanfaatan.


Kabupaten Ciamis sesungguhnya memiliki modal besar untuk membangun robithah pesantren yang kuat. Banyak pesantren berdiri dengan sejarah panjang, kiai-kiai yang alim, jaringan alumni yang luas, dan masyarakat yang masih menaruh hormat besar kepada pesantren. Potensi ini akan menjadi kekuatan luar biasa apabila dipertemukan dalam satu ekosistem kolaboratif. RMI NU Ciamis harus mulai bergerak dari pola kerja administratif menuju pola kerja jejaring. Pertemuan antar pesantren jangan hanya bersifat seremonial, tetapi harus melahirkan kolaborasi nyata: pertukaran guru, penguatan kurikulum, koperasi bersama, marketplace produk pesantren, pelatihan digitalisasi, hingga pengembangan ekonomi berjamaah. Sebab pesantren yang saling terhubung akan lebih kuat menghadapi perubahan zaman dibanding pesantren yang bergerak sendiri-sendiri.


Karena itu, salah satu pekerjaan besar RMI NU Ciamis ke depan adalah menghidupkan kembali makna “rabithah” dalam pengertian yang sebenarnya. Rabithah bukan hanya hubungan struktural antara pengurus dan anggota, melainkan hubungan batin antar pesantren yang dilandasi rasa saling memiliki. Kita memerlukan ruang-ruang silaturahmi yang lebih cair, lebih rutin, dan lebih menyentuh kebutuhan riil pesantren. Kita membutuhkan data pesantren yang akurat agar pengembangan bisa tepat sasaran. Kita juga membutuhkan kader-kader muda pesantren yang mampu menjadi penghubung antar generasi, agar RMI tidak berhenti sebagai organisasi para sepuh semata, tetapi menjadi rumah bersama bagi masa depan pesantren. Dengan begitu nilai KHARISMA tidak berhenti menjadi jargon, melainkan benar-benar hidup dalam perilaku organisasi.


Muhasabah ini tentu bukan untuk menyalahkan siapa pun. Justru ia lahir dari rasa cinta terhadap pesantren dan harapan agar RMI NU Ciamis menjadi lebih hidup, lebih dekat, dan lebih berdampak. Sebab pesantren tidak kekurangan orang alim, tidak kekurangan santri, dan tidak kekurangan sejarah besar. Yang kadang masih kurang adalah keterhubungan antar kekuatan itu sendiri. Padahal ketika pesantren saling terhubung, saling percaya, dan saling bergerak bersama, maka lahirlah energi besar yang mampu melahirkan solusi kreatif bagi masyarakat dan bangsa. Barangkali inilah pesan terdalam dari nama Rabithah Ma’ahid Islamiyah: bahwa keberhasilan perjuangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya lembaga, tetapi oleh kuatnya ikatan hati di antara mereka yang berjuang bersama. Selamat Hari Lahir RMI NU ke-72. Semoga RMI terus melangkah bersama dalam khidmat untuk umat, memperkuat robithah antar pesantren, serta menjadi bagian penting dalam kemajuan pesantren Indonesia.


Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 20 Mei 2026