Menanam Masa Depan Sejak Remaja: Pelajaran Literasi Keuangan dari OJK Tasikmalaya
Penulis: Irfan Soleh
Hari ini, Rabu 13 Mei 2026, siswa-siswi kelas 12 SMAIT Irfani Quranicpreneur Bilingual School Pondok Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis mendapatkan edukasi literasi keuangan dan investasi langsung dari Tim Otoritas Jasa Keuangan yang bertempat di kantor OJK Tasikmalaya.  Kegiatan ini bukan hanya sekadar kunjungan belajar biasa, melainkan ruang pembuka kesadaran bahwa masa depan ekonomi seseorang tidak dibangun ketika ia sudah dewasa, tetapi sejak ia mulai mampu memahami arti uang, kebutuhan, risiko, dan tanggung jawab. Di tengah zaman yang penuh godaan konsumtif, pinjaman instan, judi online, dan gaya hidup serba cepat, para santri diajak memahami bahwa mengelola uang bukan hanya kemampuan ekonomi, tetapi juga bagian dari akhlak dan cara berpikir. Pertanyaannya, sudahkah generasi muda hari ini mempersiapkan masa depan finansialnya dengan ilmu, atau justru sedang berjalan tanpa arah di tengah derasnya arus digital?
Dalam pemaparan materi, OJK Tasikmalaya menjelaskan bahwa manusia akan menghadapi fase produktif dan fase tidak produktif dalam hidupnya.  Karena itu, kemampuan mengatur keuangan menjadi kebutuhan penting agar seseorang mampu bertahan menghadapi masa sakit, pensiun, bahkan keadaan darurat. Para siswa diperlihatkan bagaimana nilai uang terus berubah akibat inflasi, sehingga menyimpan uang tanpa pengelolaan yang baik justru dapat mengurangi nilainya di masa depan. Edukasi ini menjadi penting karena banyak anak muda hari ini mengenal uang hanya sebagai alat membeli kesenangan, bukan sebagai amanah yang harus diatur dengan bijak. Di sinilah para santri mulai memahami bahwa kedisiplinan mengelola uang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan disiplin belajar dan disiplin ibadah; semuanya membutuhkan kemampuan menahan diri demi tujuan yang lebih besar.
Materi berikutnya membahas perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.  OJK mengajarkan pola pengelolaan uang yang sehat, mulai dari kebutuhan pokok, sedekah, kewajiban, hingga investasi dan dana darurat.  Bagi para santri, pelajaran ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit remaja yang sebenarnya mampu hidup sederhana, tetapi kalah oleh keinginan mengikuti tren, gengsi pergaulan, atau dorongan media sosial. Padahal, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan adalah fondasi utama kemandirian ekonomi. Seseorang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya akan mudah menjadi budak gaya hidup, sedangkan orang yang mampu mengendalikan dirinya akan lebih siap membangun masa depan. Karena itulah, literasi keuangan sejatinya bukan hanya soal menghitung uang, tetapi juga latihan membangun kedewasaan berpikir.
Dalam sesi yang lain, OJK Tasikmalaya juga mengingatkan bahaya judi online yang kini banyak menyasar generasi muda dengan istilah-istilah yang dibuat seolah terlihat normal dan menyenangkan.  Para siswa diajak memahami bahwa judi bukan investasi, melainkan jebakan psikologis yang merusak cara berpikir dan masa depan seseorang. Selain itu, para santri juga diedukasi agar waspada terhadap berbagai modus penipuan digital yang semakin berkembang.  Di era teknologi hari ini, banyak orang tertipu bukan karena kurang uang, tetapi karena kurang ilmu dan terlalu mudah tergoda keuntungan instan. Pesan penting yang terasa kuat dalam kegiatan ini adalah bahwa kecerdasan finansial harus berjalan bersama integritas moral. Sebab ilmu ekonomi tanpa akhlak bisa melahirkan kerakusan, sementara akhlak tanpa pengetahuan ekonomi sering membuat seseorang mudah dimanfaatkan.
Pembahasan mengenai investasi menjadi bagian yang paling menarik bagi banyak siswa. OJK menjelaskan bahwa investasi adalah upaya mengelola aset agar memberikan manfaat di masa depan.  Para siswa dikenalkan pada konsep saham, reksadana, obligasi, hingga pasar modal syariah.  Penjelasan mengenai saham syariah juga memberi pemahaman bahwa investasi dapat dilakukan dengan tetap menjaga prinsip-prinsip Islam, menjauhi riba, gharar, dan maysir.  Ini menjadi pelajaran penting bagi santri bahwa Islam bukan agama yang menjauh dari ekonomi modern, melainkan agama yang mengatur agar pertumbuhan ekonomi berjalan secara halal, sehat, dan berkeadilan. Para siswa mulai melihat bahwa masa depan umat tidak cukup dibangun hanya dengan semangat ibadah, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengelola ekonomi dengan ilmu yang benar.
Di akhir kegiatan, para siswa juga dikenalkan pada pentingnya menjaga reputasi kredit melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan atau SLIK OJK.  Mereka belajar bahwa rekam jejak keuangan seseorang akan memengaruhi kepercayaan lembaga keuangan di masa depan. Pesan ini terasa sangat mendalam karena sesungguhnya kehidupan manusia pun dibangun di atas kepercayaan. Orang yang terbiasa jujur, disiplin, dan bertanggung jawab sejak muda akan lebih mudah dipercaya dalam urusan apa pun, termasuk urusan ekonomi. Kegiatan edukasi ini akhirnya bukan hanya memperkenalkan dunia investasi kepada santri, tetapi juga menanamkan cara berpikir baru bahwa masa depan harus dipersiapkan dengan ilmu, kedisiplinan, dan tanggung jawab sejak hari ini. Sebab bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang kaya sumber daya, tetapi bangsa yang generasi mudanya mampu mengelola ilmu dan keuangan dengan benar.
Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 13 Mei 2026
.png)
0 Komentar