Dari Internal Menuju Universal: Mengubah Arah Gerakan Ekonomi Hamida
Penulis: Irfan Soleh
Perjalanan kami bersama rombongan DPP Hamida ke wilayah Subang, Karawang, dan Purwakarta (Sukapura) menghadirkan banyak percakapan yang membuka mata. Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta menyampaikan kegelisahan yang tidak hanya dirasakan di satu wilayah, tetapi juga menjadi problem banyak organisasi: sulitnya mengajak anggota untuk bergerak di dunia bisnis meskipun modal telah disediakan. Kegelisahan itu terasa jujur dan dekat dengan realitas yang sering kita jumpai. Lalu muncul satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apakah selama ini yang kurang adalah modal, atau justru cara kita memandang dan membangun ekosistem usaha itu sendiri?
Masalah ini tidak sesederhana soal ada atau tidaknya dana. Di baliknya terdapat persoalan mentalitas ekonomi, kesiapan sumber daya manusia, budaya organisasi, hingga cara berpikir terhadap bisnis. Banyak yang mengira bahwa modal adalah kunci utama, padahal dalam praktiknya modal hanya salah satu unsur kecil. Tanpa mental kewirausahaan, kemampuan membaca pasar, disiplin operasional, dan keberanian mengambil risiko, modal sering kali berhenti sebagai bantuan, bukan menjadi mesin pertumbuhan.
Dari titik kegelisahan itu, saya mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda. Selama ini banyak usaha dibangun dengan asumsi bahwa pasar utamanya adalah anggota internal organisasi. Akibatnya, bisnis hanya berputar dalam lingkaran yang sempit. Ketika partisipasi anggota menurun, usaha pun kehilangan tenaga sejak awal. Ini bukan semata karena kurangnya semangat, tetapi karena arah pasar yang sejak awal sudah dibatasi.
Karena itu, perlu ada perubahan sudut pandang yang lebih luas. Mengapa target pasar harus terbatas pada anggota? Mengapa tidak menjadikan masyarakat umum sebagai pasar utama, sementara anggota berperan sebagai investor, pemilik saham sosial, atau penggerak modal kolektif? Dengan pola seperti ini, kekuatan ekonomi tidak bergantung pada daya beli internal, tetapi bertumpu pada luasnya pasar eksternal.
Gagasan ini sejalan dengan konsep social enterprise, yaitu usaha yang bergerak secara profesional di pasar umum namun tetap membawa misi sosial. Philip Kotler menjelaskan bahwa keberhasilan bisnis sangat ditentukan oleh kemampuan memahami kebutuhan pasar yang luas, bukan hanya kelompok yang homogen. Artinya, semakin luas pasar yang dijangkau, semakin besar pula peluang pertumbuhan yang bisa diraih.
Ketika bisnis hanya melayani komunitasnya sendiri, ia cenderung stagnan karena perputaran konsumennya terbatas. Sebaliknya, ketika berani membuka diri kepada masyarakat luas, potensi berkembang menjadi jauh lebih besar. Di sinilah pentingnya memisahkan antara identitas organisasi dan orientasi pasar. Nilai boleh tetap terjaga, tetapi pasar harus terus diperluas.
Pendekatan ini juga memperkuat ketahanan usaha dari sisi risiko. Jika seluruh aktivitas ekonomi hanya bergantung pada anggota internal, maka guncangan kecil saja bisa berdampak besar. Namun ketika pasar tersebar ke masyarakat luas, risiko ikut terdistribusi. Dalam ekonomi, diversifikasi pasar adalah salah satu fondasi penting agar usaha tetap hidup dan bertahan.
Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian anggota merasa takut memulai usaha. Ada kekhawatiran akan rugi, gagal, atau tidak mampu mengelola bisnis dengan baik. Dalam psikologi kewirausahaan, ini dikenal sebagai fear of failure. Hambatan ini sering kali lebih besar daripada keterbatasan modal itu sendiri.
Karena itu, tidak semua orang harus menjadi pelaku usaha langsung. Sebagian bisa mengambil peran sebagai investor komunitas, sementara pengelolaan dijalankan oleh tim yang memiliki kompetensi. Ini selaras dengan struktur perusahaan modern, di mana ada pemilik modal, pengelola, dan tim operasional yang saling melengkapi. Dengan cara ini, semua orang tetap bisa berkontribusi sesuai kapasitasnya.
Model semacam ini juga mencerminkan semangat gotong royong dalam ekonomi syariah, seperti konsep musyarakah dan mudharabah. Kerja sama antara pemilik modal dan pengelola bukan hanya untuk keuntungan pribadi, tetapi untuk manfaat bersama. Jika dikelola dengan baik, keuntungan usaha dapat menjadi sumber kemandirian organisasi yang berkelanjutan.
Dana yang dihasilkan bisa dialokasikan untuk pendidikan, dakwah, pengembangan kader, hingga pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, organisasi tidak lagi bergantung pada iuran atau bantuan sesaat, tetapi memiliki sumber ekonomi yang terus bergerak. Di sinilah ekonomi menjadi alat perjuangan, bukan sekadar aktivitas tambahan.
Namun perubahan ini tidak akan terjadi tanpa pergeseran cara berpikir. Organisasi harus bergerak dari pola konsumtif menuju produktif, dari budaya meminta menuju budaya membangun. Transformasi semacam ini membutuhkan visi yang terus dihidupkan dan dicontohkan, bukan sekadar disampaikan.
Pada akhirnya, membangun ekonomi organisasi bukan hanya soal strategi, tetapi juga keberanian untuk keluar dari batas lama. Ketika pasar dibatasi, usaha mudah kehilangan napas. Tetapi ketika organisasi berani membuka diri, sambil tetap menjaga nilai dan identitasnya, maka peluang tumbuh akan semakin luas.
Hamida harus menjadi seperti pohon yang akarnya kuat di dalam, tetapi ranting dan buahnya menjangkau keluar. Sebab ekonomi yang kuat bukan yang hanya berputar di dalam, melainkan yang mampu hadir di tengah masyarakat, tumbuh bersama kebutuhan publik, dan kembali memberi manfaat bagi umat.
Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 4 Mei 2026
.png)
0 Komentar