Yang Dekat Menggerakkan yang Jauh

 Penulis: Irfan Soleh


Mengapa perang selalu tampak seperti sesuatu yang jauh—di peta, di layar berita, di wacana geopolitik—padahal akar-akarnya justru berdenyut begitu dekat, di dalam tubuh sebuah negara itu sendiri? Mengapa bangsa-bangsa memilih bertempur melintasi batas, alih-alih berdamai dengan dirinya sendiri? Apakah musuh benar-benar datang dari luar, atau ia hanya diciptakan untuk menutupi sesuatu yang tak selesai di dalam? Dan jika benar konflik internal adalah sumber dari banyak perang eksternal, apa artinya bagi cara kita membaca dunia hari ini?


Dalam sebuah kuliah di Beijing pada 19 Maret 2026, seorang profesor bernama Jiang mengajukan satu gagasan yang sederhana, tetapi mengguncang cara berpikir kita tentang perang. Ia menyebutnya sebagai The Law of Froximity—sebuah istilah yang mungkin terdengar asing, tetapi menyimpan intuisi yang sangat tua: bahwa yang paling dekat, justru paling menentukan. Dalam konteks ini, yang “dekat” bukanlah sekadar jarak geografis, melainkan kedekatan dengan pusat kekuasaan—konflik di dalam negeri, ketegangan di antara elite, kegelisahan yang tumbuh dalam tubuh politik itu sendiri.


Kita sering diajarkan untuk melihat perang sebagai respons. Seolah-olah ada ancaman di luar sana, lalu negara bereaksi. Ada musuh, lalu ada pertahanan. Ada provokasi, lalu ada pembalasan. Narasi ini terasa rapi, logis, bahkan menenangkan, karena memberi kesan bahwa dunia berjalan menurut sebab-akibat yang jelas. Namun Jiang justru mengajak kita membalikkan lensa itu. Ia tidak mulai dari luar, melainkan dari dalam. Ia tidak bertanya siapa musuhnya, tetapi apa yang sedang retak di jantung kekuasaan.


Dalam kerangka inilah perang tidak lagi tampak sebagai reaksi, melainkan sebagai strategi. Ketika sebuah negara menghadapi konflik internal—perebutan pengaruh di antara elite, krisis legitimasi, atau kegelisahan publik yang tak terkelola—maka tekanan itu membutuhkan saluran. Dan salah satu saluran paling efektif, sekaligus paling berbahaya, adalah menciptakan musuh di luar. Ancaman eksternal menjadi panggung bersama, tempat semua perbedaan internal bisa sementara disatukan. Ketika perhatian rakyat diarahkan keluar, luka di dalam seolah bisa ditunda untuk disembuhkan.


Di sinilah ironi itu bekerja dengan sangat halus. Musuh luar sering kali bukan penyebab utama, melainkan alat. Ia hadir bukan semata karena ada, tetapi karena dibutuhkan. Dalam banyak kasus, retorika tentang ancaman eksternal diperbesar, diperjelas, bahkan dipertajam, agar cukup kuat untuk menutupi kebisingan konflik domestik. Rakyat diajak melihat ke luar, sementara ketegangan di dalam ruangan kekuasaan diredam dalam senyap.


Apa yang disebut Jiang sebagai “froximity” sebenarnya adalah pengingat bahwa dalam politik, jarak bukan soal geografi, melainkan relevansi. Yang jauh bisa terasa dekat jika ia menyentuh kepentingan kekuasaan, tetapi yang paling dekat—konflik internal—selalu memiliki daya dorong paling besar. Ia seperti tekanan dalam bejana tertutup: tidak selalu terlihat, tetapi menentukan kapan dan ke mana arah ledakan akan terjadi.


Sejarah, jika dibaca dengan cara ini, tampak seperti pengulangan pola yang sama. Kekaisaran-kekaisaran lama, negara-negara modern, bahkan sistem demokrasi yang kita anggap paling rasional sekalipun, tidak sepenuhnya kebal dari logika ini. Di balik banyak perang besar, sering tersembunyi krisis yang lebih sunyi: ekonomi yang goyah, elite yang terbelah, atau rakyat yang kehilangan kepercayaan. Perang, dalam konteks ini, bukan sekadar peristiwa militer, tetapi juga peristiwa psikologis dan politis—cara sebuah sistem mencoba menyelamatkan dirinya sendiri.


Lalu bagaimana kita membaca konflik-konflik hari ini? Ketika ketegangan antarnegara meningkat, ketika retorika saling ancam mengeras, ketika dunia tampak semakin terbelah—apakah kita cukup hanya melihat peta global? Atau justru kita perlu menoleh ke dalam masing-masing negara, membaca denyut politik domestiknya, memahami siapa yang sedang berkonflik, dan apa yang sedang dipertaruhkan?

Mungkin di situlah pelajaran paling penting dari The Law of Froximity. Ia mengajak kita untuk tidak mudah terpesona oleh apa yang tampak di permukaan. Ia meminta kita untuk curiga, bukan dalam arti sinis, tetapi dalam arti reflektif: bahwa setiap konflik besar di luar sana, hampir selalu memiliki bayangan yang lebih dekat, lebih sunyi, dan lebih menentukan di dalam.


Dan pada akhirnya, kita sampai pada satu kesadaran yang tidak selalu nyaman: bahwa dunia yang tampak luas dan jauh ini, sesungguhnya digerakkan oleh sesuatu yang sangat dekat. Bukan hanya dekat secara politik, tetapi juga dekat secara manusiawi—ketakutan, ambisi, kebutuhan untuk bertahan, dan keinginan untuk tetap berkuasa. Perang mungkin terjadi di perbatasan, tetapi ia lahir di ruang-ruang yang jauh lebih intim: di dalam diri sebuah bangsa yang belum selesai berdamai dengan dirinya sendiri.