PEMANFAATAN KULIT PISANG SEBAGAI PUPUK ORGANIK CAIR UNTUK TANAMAN BUDIDAYA

 

Yang dipersiapkan dan disusun oleh:

No

Nama

NISN

1.

Cesy Shakila Ramadhani

3093379701

2.

Haya Madihatul Ismah

3109814391

3.

Merry Sri Nur Rahayu

0107353040

4.

Nazwa Herdiana Putri

3106448610

 

 

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah 

Masalah sampah organik menjadi isu lingkungan yang semakin mendesak. Sampah organik, seperti sisa makanan, daun, dan limbah tanaman, sering kali tidak dikelola dengan baik, sehingga berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) yang dapat menghasilkan gas metana berbahaya dan mencemari udara. Selain itu, proses penguraian sampah organik di TPA yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan kontaminasi tanah dan air. 

Padahal, sampah organik sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah menjadi kompos yang berguna untuk pertanian, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta mengurangi jumlah sampah yang mencemari lingkungan. Penyuluhan dan fasilitas pengelolaan sampah yang lebih baik sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini secara efektif.

Selain itu, partisipasi aktif masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah menjadi kunci utama dalam mendukung sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Dengan edukasi yang tepat dan dukungan dari pemerintah maupun sektor swasta, budaya mengolah sampah organik menjadi kompos dapat tumbuh dan berkembang, menciptakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam upaya mencari solusi pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, berbagai inovasi terus dikembangkan untuk memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna. Salah satu fokus utama adalah pemanfaatan limbah organik yang jumlahnya terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan konsumsi masyarakat. Limbah organik yang selama ini dianggap sebagai sampah tak berguna, ternyata menyimpan potensi besar jika dikelola dengan baik. Dengan pendekatan yang tepat, limbah organik dapat diubah menjadi pupuk alami yang tidak hanya murah, tetapi juga aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Pemanfaatan limbah organik sebagai pupuk juga menjadi bagian dari strategi mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang harganya cenderung mahal dan dapat merusak struktur tanah dalam jangka panjang. Salah satu bahan organik yang menarik perhatian adalah kulit pisang, yang kerap kali dibuang begitu saja setelah dikonsumsi. Padahal, kulit pisang mengandung berbagai nutrisi penting yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Hal ini mendorong munculnya berbagai inisiatif di masyarakat untuk mengolah kulit pisang menjadi pupuk organik cair yang dapat digunakan secara langsung di lahan pertanian atau pekarangan rumah.

Pemanfaatan limbah organik seperti kulit pisang sebagai pupuk organik cair semakin mendapat perhatian di kalangan petani dan masyarakat umum. Kulit pisang, yang biasanya dibuang sebagai limbah, mengandung berbagai unsur hara penting seperti kalium, fosfor, dan magnesium, yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Beberapa unsur hara mineral yang dibutuhkan oleh tanmanan terkandung dalam kulit pisang. 

Tabel. 1 Kandungan Kulit Pisang

Parameter

Hasil Analisa

Kadar air{%}

82,12

Kadar C-organik{%}

7,32

Nitrogen total {%}

0,21

Nisba C/N {%}

35

P2O5 {%}

0,07

K2O{%}

0,88

    Sumber: Sriharti dan Takiyah, 2008.

 

 Dalam pengolahan limbah kulit pisang menjadi pupuk organik cair, proses fermentasi dapat meningkatkan ketersediaan unsur-unsur hara tersebut, sehingga memberikan manfaat lebih bagi pertumbuhan tanaman. Namun, meskipun kulit pisang memiliki potensi yang besar, pemanfaatannya secara optimal dalam skala pertanian masih terbatas dan belum banyak diterapkan secara luas.

 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, dapat dikemukaan permasalahan pokok yang dihadapi dalam penelitian yaitu:

1.                   Bagaimana proses pembuatan pupuk organik cair dari kulit pisang?

2.                   Bagaimana perubahan fisik yang terjadi selama proses fermentasi kulit pisang untuk menjadi pupuk organik cair?

1.3               Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan pupuk organik cair berbahan dasar kulit pisang dan mengamati perubahan warna, aroma, dan tekstur selama proses fermentasi pupuk organik cair dari kulit pisang.

 

1.4               Manfaat Penelitian

1.                   Manfaat Teoritis

Memberikan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan ilmu di bidang pertanian organik, khususnya dalam pemanfaatan limbah organik seperti kulit pisang sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik cair.

2.                   Manfaat Praktis:

Memberikan solusi alternatif dalam pengelolaan limbah rumah tangga melalui inovasi pembuatan pupuk organik cair, serta memberikan pilihan pupuk alami yang ramah lingkungan untuk mendukung pertumbuhan tanaman budidaya.

 

 

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Tanaman Pisang

Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna berukuran besar dengan daun memanjang dan besar yang tumbuh langsung dari bagian tangkai. Batang pisang bersifat lunak karena terbentuk dari lapisan pelepah yang lunak dan panjang. Batang yang agak keras berada di bagian permukaan tanah. Pisang memiliki daun bertangkai yang berpencar dengan bagian batang yang meruncing.

 Ukuran daun pada tiap spesies pisang juga berbeda-beda. Tangkai pisang menghasilkan bunga dalam jumlah yang banyak. Bagian bunga pada pisang akan membentuk buah yang disebut sisir. Buah pisang berkelompok dalam satu bunga majemuk dengan ukuran yang makin ke bawah makin mengecil.  Adapun morfologi pisang dijelaskan pada gambar 1.1, sebagai berikut:


 

Gambar 1.1 Morfologi Pisang Sumber: www.uin-suska.ac.id, 2025.

 

Pisang (Musa Paradisiaca sp.) merupakan tanaman herba raksasa yang termasuk dalam keluarga Musaceae. Morfologi tanaman pisang terdiri atas beberapa bagian utama, yaitu akar, batang, daun, bunga, dan buah. Akar pisang merupakan akar serabut yang tumbuh menyebar di permukaan tanah dengan kedalaman sekitar 30–60 cm. Batangnya sebenarnya adalah batang semu, yang terbentuk dari kumpulan pelepah daun yang saling menumpuk dan membentuk struktur silindris tegak. Di dalam batang semu ini terdapat batang sejati yang berukuran kecil dan tumbuh vertikal dari umbi batang (rhizoma) di bawah tanah.

Daun pisang berbentuk memanjang dengan helai daun yang lebar dan urat daun sejajar. Daunnya tumbuh spiral dari batang semu dan seringkali sobek karena tiupan angin. Tanaman pisang menghasilkan bunga majemuk yang muncul dari batang sejati dan keluar melalui ujung batang semu. Bunga ini dikenal sebagai jantung pisang dan terdiri atas bunga jantan dan betina yang tersusun spiral. Setelah proses penyerbukan, bunga betina akan berkembang menjadi buah pisang yang tersusun dalam satu tandan, terdiri atas beberapa sisir. Buah pisang berbentuk lonjong melengkung dengan kulit tebal yang mudah dikupas, dan daging buah yang lunak serta kaya akan nutrisi.

Dalam taksonomi, pisang termasuk dalam genus Musa dan famili Musaceae, Beragam spesies pisang tersebar di kawasan Malenesia. Spesies pisang yang paling banyak dibudidayakan di dunia adalah pisang hutan. Jenis pisang hutan dapat tumbuh di hutan, bukit maupun di dataran rendah, Selain itu, pisang juga dapat ditanam bersama dengan tanaman lain seperti jagung dan ketela pohon,

Pisang dapat dipanen kapan saja, karena pertumbuhannya yang sesuai dengan segala jenis musim. Kematian pohon pisang hanya terjadi ketika berbuah hanya sekali semasa hidupnya, Buah pisang dapat langsung dimakan atau dimasak terlebih dahulu. Nutrisi di dalam pisang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia dan dapat pula dibuat sebagai obat tradisional,

Pada awalnya, pisang merupakan tumbuhan asli yang berasal dari kawasan Asia Tenggara, kemudian menyebar ke seluruh wilayah dunia. Dari arah barat, pisang menyebar mulai dari Samudra Atlantik menuju ke Pulau Madagaskar lalu ke Benua Afrika dan menuju ke Amerika Latin dan Amerika Tengah. Sementara itu, pisang yang menyebar dari arah timur melalui Samudra Pasifik menuju ke Hawai.

 

2.2 Manfaat Kulit Pisang

Kulit pisang, yang sering kali dianggap sebagai limbah, sebenarnya mengandung berbagai manfaat yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari pertanian hingga kesehatan. Beberapa manfaat utama kulit pisang adalah sebagai berikut:

1.                   Pupuk Organik

Kulit pisang kaya akan nutrisi seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan magnesium yang sangat bermanfaat dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Kandungan ini menjadikannya pilihan yang ramah lingkungan sebagai pupuk organik, yang dapat meningkatkan kualitas tanah dan memperbaiki struktur tanah tanpa mengandalkan bahan kimia.

2.                   Pengobatan Tradisional

Dalam pengobatan tradisional, kulit pisang telah digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit. Kulit pisang dipercaya dapat meredakan gejala demam, sakit kepala, dan nyeri perut. Selain itu, ekstrak kulit pisang juga dikenal dapat digunakan untuk membantu mengurangi peradangan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

3.                   Sifat Anti-Inflamasi

Kulit pisang mengandung senyawa alami yang memiliki sifat anti-inflamasi, yang dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh. Konsumsi atau penggunaan kulit pisang secara topikal dapat membantu meredakan nyeri dan pembengkakan yang terkait dengan berbagai kondisi peradangan.

4.                   Sifat Antibakteri

Penelitian menunjukkan bahwa kulit pisang memiliki sifat antibakteri yang efektif dalam menghambat pertumbuhan beberapa jenis patogen. Hal ini membuat kulit pisang bermanfaat dalam membantu melawan infeksi bakteri serta menjaga kebersihan dan kesehatan kulit.

5.                   Antioksidan

Kulit pisang kaya akan antioksidan, seperti flavonoid dan polifenol, yang berperan dalam melindungi tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Dengan demikian, kulit pisang dapat berperan dalam mendukung pencegahan penyakit degeneratif, seperti kanker dan penyakit jantung, serta memperlambat proses penuaan.

Secara keseluruhan, pemanfaatan kulit pisang dapat memberikan manfaat yang luas dan dapat digunakan sebagai alternatif yang ramah lingkungan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan berkelanjutan dalam memanfaatkan sumber daya alam secara maksimal.

2.3 Manfaat Pupuk Organik Cair Kulit Pisang

Pupuk organik cair yang dibuat dari kulit pisang merupakan salah satu alternatif pupuk ramah lingkungan yang kaya akan berbagai nutrisi penting untuk pertumbuhan tanaman. Proses pembuatan pupuk cair ini mengandalkan senyawasenyawa alami yang terkandung dalam kulit pisang, yang memberikan manfaat signifikan bagi tanaman, tanah, serta lingkungan. Beberapa manfaat utama pupuk organik cair dari kulit pisang adalah sebagai berikut:

1.                   Meningkatkan Kualitas Tanah

Pupuk organik cair dari kulit pisang mengandung unsur hara seperti kalium, fosfor, nitrogen, dan magnesium yang sangat diperlukan oleh tanaman. Unsurunsur ini membantu meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan daya tahan tanah terhadap erosi. Penggunaan pupuk organik cair ini secara rutin dapat meningkatkan kualitas tanah secara berkelanjutan tanpa mengandalkan bahan kimia sintetis yang dapat merusak ekosistem tanah.

2.                   Mendukung Pertumbuhan Tanaman.

Pupuk organik cair dari kulit pisang merangsang pertumbuhan tanaman secara optimal. Kandungan kalium dalam pupuk ini berperan penting dalam memperkuat daya tahan tanaman terhadap penyakit, meningkatkan pembungaan, dan mempercepat proses pematangan buah. Selain itu, fosfor dalam pupuk ini mendukung pembentukan akar yang sehat dan memperbaiki proses fotosintesis pada tanaman.

3.                   Meningkatkan Daya Serap Nutrisi oleh Tanaman.

Salah satu keunggulan pupuk organik cair adalah kemampuannya untuk meningkatkan daya serap nutrisi oleh tanaman. Proses fermentasi yang terjadi dalam pembuatan pupuk cair kulit pisang memungkinkan tanaman untuk lebih mudah menyerap unsur hara yang ada dalam pupuk, sehingga tanaman dapat tumbuh lebih sehat dan kuat.

4.                   Meningkatkan Kesehatan Tanaman

Pupuk organik cair dari kulit pisang mengandung antioksidan alami yang berfungsi melindungi tanaman dari stres lingkungan, seperti perubahan suhu ekstrem, kekeringan, dan serangan patogen. Dengan meningkatkan kekebalan tanaman, pupuk ini dapat mengurangi kebutuhan akan pestisida dan bahan kimia lainnya, yang pada gilirannya akan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.

5.                   Ramah Lingkungan

Pupuk organik cair dari kulit pisang merupakan solusi yang ramah lingkungan karena bahan bakunya terbuat dari limbah organik yang dapat dimanfaatkan kembali. Penggunaan pupuk ini mengurangi jumlah sampah organik yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan yang mengurangi pencemaran lingkungan.

Secara keseluruhan, pupuk organik cair dari kulit pisang menawarkan banyak manfaat bagi pertanian berkelanjutan dengan cara yang lebih alami dan ramah lingkungan. Pemanfaatan pupuk ini tidak hanya memberikan keuntungan dalam hal peningkatan hasil pertanian, tetapi juga membantu menjaga kesehatan tanah dan ekosistem secara keseluruhan. 

 

METODE PENELITIAN

3.1 Metode yang Digunakan 

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode literatur dan metode eksperimen.  Metode literatur atau studi pustaka adalah metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, membaca, dan

menganalisis informasi dari berbagai sumber tertulis yang relevan dengan topik penelitian. Metode literatur atau studi pustaka adalah metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, membaca, dan menganalisis informasi dari berbagai sumber tertulis yang relevan dengan topik penelitian. 

Metode eksperimen adalah metode penelitian yang dilakukan dengan melakukan percobaan secara langsung untuk mengetahui hubungan sebab-akibat antara variabel. Melalui metode eksperimen tersebut, siswa diberi kesempatan untuk belajar sendiri, mengikuti proses, mengamati objek, menganalisis, menarik pembuktian, dan mengambil kesimpulan sendiri dari proses yang dilakukan.  

Metode yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik cair dari kulit pisang adalah metode fermentasi anaerob, yaitu proses penguraian bahan organik oleh mikroorganisme tanpa adanya oksigen. Metode ini dipilih karena sederhana, tidak memerlukan peralatan rumit, dan dapat dilakukan oleh siapa saja, baik di lingkungan rumah tangga maupun komunitas pertanian. Fermentasi anaerob memungkinkan mikroorganisme menguraikan kandungan kulit pisang secara perlahan untuk menghasilkan cairan kaya nutrisi yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. Proses ini juga membantu menekan pertumbuhan mikroba patogen dan memperpanjang daya simpan pupuk.

3.2 Langkah-Langkah Membuat Pupuk Organik Cair Kulit Pisang

Pembuatan pupuk organik cair dari kulit pisang merupakan salah satu cara mudah dan ramah lingkungan untuk memanfaatkan limbah dapur menjadi produk yang bermanfaat bagi tanaman. Kulit pisang yang kaya akan unsur hara seperti kalium, fosfor, dan magnesium, dapat difermentasi menjadi pupuk cair yang berguna untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tanaman. Proses pembuatannya cukup sederhana, yaitu dengan memotong kecil-kecil kulit pisang lalu memasukkannya ke dalam wadah tertutup, kemudian ditambahkan air secukupnya dan bahan tambahan seperti gula merah atau molase untuk mempercepat proses fermentasi. Wadah tersebut kemudian disimpan di tempat teduh selama 7–14 hari, sambil sesekali dibuka untuk melepaskan gas hasil fermentasi.

Setelah proses fermentasi selesai, cairan hasil rendaman kulit pisang disaring untuk memisahkan ampasnya. Pupuk cair yang dihasilkan dapat langsung digunakan dengan cara diencerkan terlebih dahulu sebelum disiramkan ke tanaman. Biasanya, perbandingan pengenceran adalah 1:10 (satu bagian pupuk cair, sepuluh bagian air). Pupuk ini sangat cocok digunakan untuk tanaman sayuran, buahbuahan, dan tanaman hias karena kandungan nutrisinya yang mendukung pertumbuhan daun, bunga, dan buah. Selain meningkatkan kesuburan tanah, penggunaan pupuk organik cair dari kulit pisang juga membantu mengurangi sampah organik dan mengajarkan praktik pertanian yang berkelanjutan di lingkungan rumah tangga. 

Adapun secara spesifik rahapan Pupuk Organik Cair dari kulit pisang, sebagai berikut:

1.                   Menyiapkan kulit pisang 100 gr. 

2.                   Menyiapkan 250 ml air. 

3.                   Kulit pisang.

4.                   Selanjutnya larutkan EM4 dicampurkan kedalam kulit pisang dan air yang telah bercampur dengan rata.

5.                   Pupuk ini didiamkan selama 14 hari lamanya. 

3.3               Sumber Data

Sumber data dalam kegiatan pembuatan pupuk organik cair dari kulit pisang diperoleh dari dua jenis data utama, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan langsung melalui kegiatan observasi, eksperimen, dan dokumentasi selama proses pembuatan pupuk berlangsung. Observasi dilakukan untuk mencatat perubahan fisik selama fermentasi, seperti warna, aroma, dan tekstur cairan. Selain itu, eksperimen dilakukan dengan mencoba beberapa variasi bahan tambahan (seperti gula merah atau EM4) serta durasi fermentasi yang berbeda untuk melihat pengaruhnya terhadap kualitas pupuk cair yang dihasilkan.

Sementara itu, data sekunder diperoleh dari berbagai literatur seperti buku pertanian organik, jurnal ilmiah, artikel dari internet yang terpercaya, serta panduan pembuatan pupuk dari lembaga pertanian atau dinas terkait. Data sekunder ini digunakan untuk memperkuat landasan teori, membandingkan metode, dan memastikan bahwa proses yang dilakukan sesuai dengan prinsip ilmiah dan praktik yang sudah terbukti. Dengan menggabungkan data primer dan sekunder, analisis yang dilakukan menjadi lebih komprehensif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

3.4               Alat Pengumpulan Data

Dalam kegiatan pembuatan pupuk organik cair dari kulit pisang, alat pengumpulan data yang digunakan terdiri dari berbagai instrumen sederhana namun efektif untuk mendukung proses observasi dan pencatatan. Salah satu alat utama adalah lembar observasi, yang digunakan untuk mencatat setiap tahapan proses pembuatan pupuk, mulai dari pencacahan bahan, penambahan bahan fermentasi, hingga perubahan yang terjadi selama masa fermentasi seperti warna, bau, dan tekstur. Selain itu, kamera atau ponsel berkamera digunakan untuk mendokumentasikan proses secara visual sebagai data pendukung.

3.5               Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian: Pondok pesantren Raudhatul Irfan, Kertasari, Ciamis.

Waktu penelitian : Maret – April 2025. 

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil Penelitian

Hasil penelitian mengenai pembuatan pupuk organik cair dari kulit pisang menunjukkan bahwa proses fermentasi berhasil menghasilkan pupuk cair dengan kualitas yang cukup baik dan layak digunakan untuk tanaman. Setelah melalui proses fermentasi selama 14 hari, cairan yang dihasilkan berwarna cokelat tua, beraroma asam khas fermentasi, dan tidak menimbulkan bau busuk. Pupuk ini kemudian diuji coba pada tanaman pisang dalam skala kecil untuk mengamati dampak penggunaannya terhadap pertumbuhan tanaman.

Dikarenakan keterbatasan waktu dalam penelitian ini, implementasi hasil dari pupuk organik cair pada tanaman pisang tidak dapat dilakukan. Penelitian ini hanya fokus pada pembuatan dan karakteristik fisik pupuk organik cair yang dihasilkan dari kulit pisang. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan dilakukan uji aplikasi langsung pada tanaman untuk mengevaluasi efektivitas pupuk tersebut terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman budidaya, sehingga manfaat praktis dari pupuk ini dapat dibuktikan secara lebih komprehensif.

1. Hasil Produk Pupuk Organik Cair

Pupuk organik cair yang dihasilkan dari proses fermentasi kulit pisang memiliki warna cokelat tua hingga kehitaman, tergantung dari lama fermentasi dan bahan tambahan yang digunakan, seperti gula merah atau molase. Cairan ini biasanya memiliki aroma khas hasil fermentasi, agak asam namun tidak menyengat. Teksturnya cair dan mudah larut dalam air, sehingga sangat praktis digunakan sebagai pupuk semprot daun maupun siraman akar. Setelah proses penyaringan, pupuk cair ini dapat disimpan dalam botol tertutup dan bertahan selama beberapa minggu hingga satu bulan jika disimpan di tempat sejuk dan terlindung dari sinar matahari langsung.


 

 

Gambar 1.2 Pupuk Organik Cair Kulit Pisang Sumber: Dok. Pribadi, 2025.

Dari segi kandungan, pupuk organik cair dari kulit pisang mengandung unsur hara makro dan mikro yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman, terutama kalium yang berfungsi meningkatkan pembentukan bunga dan buah. Selain itu, kandungan fosfor mendukung pertumbuhan akar dan magnesium membantu proses fotosintesis. Kandungan ini membuat pupuk cair ini sangat cocok untuk diaplikasikan pada tanaman hortikultura, seperti cabai, tomat, bayam, dan tanaman buah lainnya. Pupuk ini juga berpotensi memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah secara alami.

Secara keseluruhan, hasil produk pupuk organik cair dari kulit pisang menunjukkan efektivitas yang cukup tinggi sebagai alternatif pengganti pupuk kimia. Selain efisien dalam biaya, pupuk ini juga ramah lingkungan dan mudah diproduksi secara mandiri di rumah atau skala kecil di komunitas pertanian. Keberhasilan pemanfaatan produk ini diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian, juga memberikan solusi nyata dalam pengelolaan limbah organik rumah tangga, menjadikannya sebagai langkah nyata menuju pertanian berkelanjutan.

 

 2. Penerapan Pupuk Organik Cair

Kulit pisang merupakan limbah organik yang kaya akan nutrisi penting seperti kalium, fosfor, magnesium, dan kalsium, yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Pemanfaatan kulit pisang sebagai bahan dasar pupuk organik cair bertujuan untuk mengurangi limbah, meningkatkan kesuburan tanah, dan menyediakan nutrisi tambahan bagi tanaman secara alami.

Proses pembuatan pupuk cair ini umumnya dilakukan melalui fermentasi kulit pisang yang telah dipotong kecil-kecil dan dicampur dengan air serta bahan pendukung lain seperti gula merah atau molase untuk mempercepat aktivitas mikroorganisme. Setelah difermentasi selama 7–14 hari, cairan hasilnya dapat digunakan langsung sebagai pupuk dengan cara disemprotkan ke daun (aplikasi foliar) atau disiramkan ke tanah di sekitar akar tanaman.

 


 

Gambar 4.1 Implementasi POC Sumber: Dok. Pribadi, 2025.

 

Penerapan pupuk organik cair dari kulit pisang diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, memperkuat ketahanan terhadap penyakit, serta membantu pembentukan bunga dan buah karena kandungan kaliumnya yang tinggi. Selain itu, penggunaan pupuk ini membantu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan mendukung pertanian ramah lingkungan. 

3.2 Pembahasan

Pupuk organik cair (POC) dari kulit pisang merupakan inovasi ramah lingkungan yang memanfaatkan limbah organik menjadi sumber nutrisi bagi tanaman. Berdasarkan hasil observasi selama 14 hari, terjadi perubahan warna, aroma, dan tekstur cairan yang menandakan proses fermentasi berjalan dengan baik. Pada awal fermentasi, cairan berwarna coklat muda dengan aroma manis pisang dan tekstur agak kental. Seiring waktu, cairan berubah menjadi coklat tua hingga kehitaman, dengan aroma asam menyengat dan tekstur semakin keruh serta berbusa, menandakan aktivitas mikroorganisme yang tinggi. Memasuki hari ke-8 hingga hari ke-14, fermentasi mulai stabil, aroma menjadi netral, dan cairan perlahan menjadi lebih jernih dengan endapan di dasar, menandakan POC siap digunakan. Adapun hasil dari eksperimen pembuatan POC disajikan dalam tabel berikut ini:

 

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Pupuk Organik Cair Kulit Pisang

Hari ke-

Tanggal

Warna Cairan

Aroma

Tekstur/Kekeruhan

1

24 Maret 2025

Coklat muda

Aroma manis pisang, agak segar

Agak kental, sedikit keruh

2

25 Maret 2025

Coklat

Sedikit asam, masih ada aroma pisang

Lebih keruh, ada gelembung kecil

3

26 Maret 2025

Coklat tua

Aroma

fermentasi mulai terasa

Semakin keruh dan berbusa

4

27 Maret 2025

Coklat tua

Asam kuat, menyengat

Keruh, mulai terbentuk endapan

5

28 Maret 2025

Coklat kehitaman

Fermentasi

kuat, sedikit busuk

Sangat keruh, berbusa

6

29 Maret 2025

Coklat kehitaman

Aroma stabil, fermentasi maksimal

Keruh dan berbusa

7

30 Maret 2025

Coklat kehitaman

Aroma sedikit

menurun

Sedikit lebih jernih di bagian atas

8

31 Maret 2025

Coklat tua

Asam ringan, tidak menyengat

Endapan mulai mengendap

 

 

Hari ke-

Tanggal

Warna Cairan

Aroma

Tekstur/Kekeruhan

9

1 April 2025

Coklat tua

Aroma

normal,

fermentasi menurun

Cairan mulai homogen

10

2 April 2025

Coklat

Aroma agak

netral

Tidak terlalu keruh

11

3 April 2025

Coklat muda

Hampir tidak berbau

Cukup jernih

12

4 April 2025

Coklat muda

Netral

Jernih, endapan di dasar

13

5 April 2025

Coklat muda

Netral

Siap disaring

14

6 April 2025

Coklat muda

Netral

Jernih, siap digunakan

 

Penerapan pupuk organik cair dari kulit pisang ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman karena kandungan kalium, fosfor, dan magnesium yang tinggi. Untuk penggunaan, cairan sebaiknya disaring dan diencerkan terlebih dahulu dengan air sebelum disemprotkan ke daun atau disiramkan ke tanah. Aplikasi POC ini tidak hanya memberikan nutrisi tambahan bagi tanaman, tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Dengan metode sederhana dan bahan yang mudah diperoleh, pembuatan pupuk cair ini dapat menjadi solusi efektif dalam pengelolaan limbah organik di lingkungan sekitar.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang pembuatan pupuk organik cair dari kulit pisang, dapat disimpulkan bahwa proses fermentasi kulit pisang berhasil menghasilkan pupuk cair yang kaya akan unsur hara penting seperti kalium, fosfor, dan magnesium, yang bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk ini diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan tanaman, meningkatkan kualitas daun, serta mendukung pembentukan bunga dan buah pada tanaman budidaya. Penggunaan pupuk cair ini juga diharapkan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan memberikan solusi ramah lingkungan melalui pemanfaatan limbah rumah tangga yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.

Dengan demikian, penerapan pupuk organik cair dari kulit pisang merupakan pola pertanian organik yang mendorong terciptanya pola hidup yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Inisiatif sederhana ini membuktikan bahwa pengelolaan limbah rumah tangga dapat memberikan manfaat nyata bagi pertanian sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem.

 

5.2 Saran

Untuk mendapatkan hasil fermentasi pupuk organik cair yang maksimal, disarankan untuk menjaga kebersihan wadah fermentasi dan memastikan perbandingan bahan serta air sesuai takaran. Selama proses fermentasi, sebaiknya cairan diaduk secara berkala agar mikroorganisme bekerja lebih merata. Selain itu, penting untuk menyimpan pupuk cair di tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung agar kualitas nutrisi tetap terjaga. Ke depan, diharapkan penggunaan pupuk organik cair ini dapat lebih diperluas ke berbagai jenis tanaman dan dipadukan dengan metode pertanian organik lainnya guna mendukung ketahanan pangan yang ramah lingkungan.

Dalam implementasi pupuk organik cair kulit pisang diperlukan penelitian lebih lanjut, khususnya pengaruh pupuk organik cair kulit pisang terhadap tanaman budidaya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas pupuk organik cair kulit pisang terhadap pertumbuhan tanaman budidaya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M., & Ismail, M. R. (2016). Pemanfaatan Limbah Organik dalam Pertanian Berkelanjutan. Penerbit AgroScience.

Ahmad, R., & Ranjan, S. (2018). "Penggunaan Pupuk Organik Cair dalam Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman." Jurnal Pertanian dan Teknologi, 10(3), 101-110.

Budianto, H. (2017). Kompos dan Pupuk Organik: Teori dan Praktik di Lapangan. Penerbit Tani Jaya.

Carleton, G., & Pratama, I. (2019). "Fermentasi Limbah Organik Sebagai Sumber Pupuk Cair." Jurnal Kimia dan Lingkungan, 14(2), 45-56.

Djamaluddin, D. (2020). "Penyuluhan Pemanfaatan Limbah Dapur untuk Pupuk Cair." Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 6(1), 98-106.

Haryono, A. (2018). "Pupuk Organik Cair: Potensi dan Aplikasinya dalam Pertanian." Jurnal Agronomi Indonesia, 15(4), 135-142.

Kusumawati, S., & Suryanto, W. (2021). "Peningkatan Kualitas Tanaman dengan Pupuk Organik Cair dari Limbah Dapur." Jurnal Teknologi Pertanian, 13(2), 88-95.

Sriharti, Takiyah Salim., 2008, Pemanfaatan Limbah Pisang Untuk Pembuatan

Kompos Menggunakan Komposter Rotary Drum. Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2008 Bidang Teknik Kimia dan Tekstil.ISBN : 978-9793980-15-7 Yogyakarta.

 

 

LAMPIRAN

 

Gambar.  1 Alat dan Bahan Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Sumber: Dok. Pribadi, 2025.

 

 


Gambar.  2 Hasil Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Hari ke- 1 Sumber: Dok. Pribadi, 2025.

 

Gambar.  3 Hasil Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Hari ke- 3 Sumber: Dok. Pribadi, 2025.



 

Gambar.  3 Hasil Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Hari ke- 14 Sumber: Dok. Pribadi, 2025.

 


 

Gambar.  4 Aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) pada tanaman pisang

Sumber: Dok. Pribadi, 2025.