Ketika Lisan Digerakkan untuk Meminta: Tanda Allah Hendak Memberi (Refleksi Hikmah Ibnu ‘Athoillah untuk Santri, Guru, Pengurus, dan Wali Santri Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis)
Penulis: Irfan Soleh
Ada saat-saat dalam hidup ketika doa terasa berulang, permintaan terasa sama, dan jawaban yang diharapkan belum juga tampak. Hati mulai bertanya pelan, apakah doa ini didengar? Apakah permohonan ini akan berbuah? Dalam keadaan seperti itulah hikmah dari Ibnu ‘Athoillah as-Sakandari menyalakan cahaya pengharapan. Beliau mengajarkan satu kalimat yang dalam maknanya: “Ketika lisanmu digerakkan untuk meminta, berarti Allah hendak memberimu.”
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan indah, melainkan fondasi tauhid yang kokoh. Dalam Syarah al-Hikam, para ulama menjelaskan bahwa doa bukan hanya sarana untuk memperoleh sesuatu, tetapi tanda bahwa Allah sedang memperhatikan hamba-Nya. Karena tidak semua orang digerakkan untuk berdoa. Banyak yang hidup dalam kelalaian, merasa cukup dengan dirinya, merasa mampu tanpa Tuhan. Maka ketika hati gelisah lalu lisan terangkat memohon, itu sendiri sudah merupakan karunia.
Hakikatnya, sebelum permintaan dikabulkan dalam bentuk nyata, pemberian itu telah dimulai sejak doa itu lahir. Allah yang menggerakkan hati untuk merasa butuh. Allah yang membuka lisan untuk meminta. Dan Allah pula yang menyiapkan bentuk jawaban yang paling tepat menurut hikmah-Nya. Di sini, doa bukan sekadar permintaan manusia kepada Tuhan, tetapi undangan dari Tuhan agar hamba mendekat kepada-Nya.
Hikmah ini terasa sangat hidup dalam keseharian Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis. Seorang santri yang setiap malam berdoa agar dimudahkan menghafal Al-Qur’an mungkin merasa hafalannya lambat bertambah. Ia mengulang ayat yang sama, berkali-kali lupa, berkali-kali memperbaiki. Namun jika lisannya tetap tergerak untuk berkata, “Ya Allah, kuatkan hafalanku,” maka sesungguhnya Allah sedang memberi. Bisa jadi belum berupa kelancaran hafalan, tetapi berupa kesadaran bahwa dirinya lemah dan membutuhkan pertolongan-Nya. Kesadaran inilah inti ubudiyah.
Ada pula santri yang berdoa agar betah mondok, agar kuat menahan rindu rumah, agar mampu istiqamah dalam disiplin pesantren. Doa-doa itu lahir dari kegelisahan yang jujur. Menurut penjelasan dalam syarah Hikam, kegelisahan yang dibawa kepada Allah adalah tanda bahwa Allah sedang membimbing hamba-Nya naik satu tingkat dalam kedewasaan ruhani. Jika Allah tidak menghendaki kebaikan, niscaya Dia biarkan hati itu kering tanpa doa. Justru karena Allah hendak memberi, Dia gerakkan lisan itu untuk terus mengetuk.
Hikmah ini juga menyentuh para guru. Seorang guru yang setiap selesai mengajar berdoa agar ilmunya bermanfaat, agar nasihatnya menembus hati santri, mungkin tidak langsung melihat perubahan besar. Ada santri yang masih lalai, ada yang lambat memahami. Namun selama lisannya tergerak untuk memohon kebaikan bagi murid-muridnya, itu tanda bahwa Allah sedang menanamkan keikhlasan dalam hatinya. Bisa jadi perubahan santri belum tampak hari ini, tetapi Allah sedang memberi sang guru pahala kesabaran, kelapangan dada, dan derajat yang tinggi karena keikhlasannya mendidik.
Para pengurus pesantren pun hidup dalam hikmah yang sama. Mereka memikirkan kebutuhan operasional, kedisiplinan santri, keberlangsungan lembaga, dan berbagai persoalan yang kadang tidak sederhana. Ketika di tengah kelelahan mereka berdoa, “Ya Allah, mudahkan amanah ini,” maka doa itu sendiri adalah tanda pemberian. Bisa jadi belum ada solusi instan, belum ada tambahan fasilitas, tetapi Allah sedang memberi kekuatan kolektif, persatuan hati, dan keberkahan yang membuat pesantren tetap tegak meski dengan segala keterbatasannya.
Begitu pula para wali santri. Mereka mungkin paling sering berdoa dalam diam. Seorang ayah yang bekerja keras agar anaknya tetap bisa mondok. Seorang ibu yang setiap malam menyebut nama anaknya dalam sujudnya. Mereka khawatir, mereka berharap, mereka menanti perubahan. Dalam cahaya hikmah Ibnu ‘Athoillah, doa-doa orang tua itu bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kasih sayang Allah. Karena jika Allah tidak menghendaki kebaikan bagi anak itu, niscaya Dia biarkan orang tuanya berhenti berdoa dan tenggelam dalam keputusasaan. Justru karena Allah hendak memberi, Dia jaga hati orang tua tetap terhubung melalui doa.
Kadang pemberian Allah tidak langsung berupa apa yang diminta. Santri meminta kelancaran hafalan, Allah memberi kesabaran. Guru meminta perubahan cepat, Allah memberi keikhlasan yang dalam. Pengurus meminta kemudahan materi, Allah memberi keteguhan dan solidaritas. Wali santri meminta hasil yang nyata, Allah memberi ketenangan dan tawakkal. Namun semua itu tetaplah pemberian, bahkan sering kali lebih berharga daripada yang diminta.
Ibnu ‘Athoillah mengajarkan kita untuk melihat doa bukan dari hasil akhirnya, tetapi dari prosesnya. Selama lisan masih digerakkan untuk meminta, berarti pintu belum tertutup. Selama hati masih berharap kepada Allah, berarti Dia masih memanggil kita untuk dekat. Maka jangan ukur doa hanya dari cepat atau lambatnya terkabul. Ukurlah dari sejauh mana doa itu membuat kita semakin sadar akan kebutuhan kita kepada-Nya.
Di Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, hikmah ini menjadi fondasi spiritual bersama. Santri belajar bahwa perjuangan hafalan adalah jalan mendekat. Guru belajar bahwa mendidik adalah ibadah yang ditopang doa. Pengurus belajar bahwa amanah adalah ladang tawakkal. Wali santri belajar bahwa pengorbanan adalah bentuk cinta yang disertai keyakinan kepada Allah.
Pada akhirnya, pemberian terbesar bukan sekadar tercapainya permintaan, tetapi terjaganya hubungan dengan Allah. Dan selama lisan masih digerakkan untuk berkata, “Ya Allah,” maka sesungguhnya karunia itu telah lebih dulu turun—dalam bentuk kedekatan, kesadaran, dan harapan yang tak pernah padam.
Selalu Butuh, Selalu Menuju-Nya
(Syarah Hikmah ke-104 Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari)
ٱلْعَارِفُ لَا يَزُولُ ٱضْطِرَارُهُ، وَلَا يَكُونُ مَعَ غَيْرِ ٱللَّهِ قَرَارُهُ
“Seorang arif tidak pernah hilang rasa butuhnya, dan tidak pernah ada ketenangannya bersama selain Allah.”
Di antara tanda orang yang mengenal Allah bukanlah ia merasa cukup, melainkan justru ia merasa semakin fakir. Bukan merasa kuat, melainkan semakin sadar betapa lemahnya ia tanpa pertolongan-Nya. Inilah paradoks spiritual dalam jalan ma’rifat: semakin tinggi maqam seorang hamba, semakin dalam rasa idhthirarnya—rasa butuh dan terdesaknya kepada Allah.
Ibnu ‘Athaillah dalam syarah para ulama menjelaskan bahwa idhthirar bukan sekadar kondisi saat tertimpa musibah. Ia bukan hanya keadaan ketika seseorang sakit, bangkrut, gagal, atau tertimpa masalah. Idhthirar yang dimaksud dalam hikmah ini adalah kesadaran eksistensial: bahwa setiap detik hidup kita bergantung sepenuhnya kepada Allah. Nafas kita, denyut jantung kita, kemampuan berpikir, bahkan kemampuan untuk taat—semuanya adalah pemberian yang tidak pernah lepas dari pengaturan-Nya.
Orang awam merasa butuh kepada Allah ketika terjepit keadaan. Ketika ujian datang, ia menangis. Ketika masalah selesai, ia kembali merasa kuat. Tetapi seorang arif tidak menunggu musibah untuk merasa butuh. Ia sadar bahwa dirinya sendiri adalah “makhluk”—dan makhluk secara hakikat adalah faqir. Sebagaimana firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ ٱلْفُقَرَاءُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلْغَنِيُّ ٱلْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kalianlah yang fakir kepada Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)
Dalam pandangan para sufi, kefakiran ini bukan aib. Ia adalah kemuliaan. Karena saat seorang hamba sadar dirinya fakir, di situlah ia sedang dekat dengan hakikat dirinya. Dan ketika ia dekat dengan hakikat dirinya, ia sedang dekat dengan Tuhannya.
Idhthirar yang Tidak Pernah Hilang
Mengapa “al-‘arifu la yazulu idhthiraruhu”? Karena ma’rifat membuka mata batin. Orang yang mengenal Allah menyaksikan bahwa setiap gerak hidup berada dalam genggaman-Nya. Ia tidak melihat sebab sebagai penentu, tetapi sebagai sarana. Ia tidak bersandar pada kepandaian, jabatan, atau relasi, tetapi pada Musabbibul Asbab.
Dalam syarah Hikam disebutkan: orang kebanyakan merasa butuh karena adanya sebab-sebab lahiriah. Jika sebab itu hilang, hilang pula rasa butuhnya. Tetapi orang arif menyaksikan bahwa sebab itu sendiri tidak berdiri. Sebab pun bergantung kepada kehendak Allah. Maka rasa butuhnya tidak pernah putus.
Ia tidak pernah merasa aman dari ujian, dan tidak pernah merasa mampu berdiri sendiri. Bahkan dalam ketaatannya pun ia merasa butuh pertolongan Allah agar istiqamah. Dalam ilmunya, ia merasa butuh cahaya Allah agar tidak tersesat. Dalam dakwahnya, ia merasa butuh taufik Allah agar tidak jatuh pada riya’.
Tidak Tenang Selain Bersama-Nya
“Wa la yakunu ma‘a ghairillāh qarāruhu” — tidak ada ketenangan baginya bersama selain Allah.
Seorang arif boleh saja hidup di tengah manusia, bekerja, belajar, memimpin, berdakwah. Tetapi hatinya tidak bersandar kepada mereka. Ia boleh memiliki banyak aktivitas, tetapi hatinya hanya memiliki satu orientasi.
Ia tahu bahwa makhluk terbatas. Manusia bisa mengecewakan. Harta bisa habis. Jabatan bisa lepas. Bahkan kesehatan pun bisa hilang. Maka bagaimana mungkin hati bersandar pada sesuatu yang fana?
Ketenangan sejati bukan pada kepemilikan, melainkan pada kebersamaan dengan Allah. Sebagaimana firman-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. ar-Ra‘d: 28)
Kata qarar dalam hikmah ini berarti menetap, bersandar, merasa stabil. Seorang arif tidak menjadikan dunia sebagai tempat menetapnya hati. Dunia hanya tempat singgah, bukan tempat tinggal ruhani.
Relevansi untuk Santri Raudhatul Irfan
Di lingkungan pesantren, hikmah ini sangat hidup dan kontekstual.
1. Santri dan Rasa Butuh dalam Belajar
Seorang santri mungkin merasa cerdas karena cepat memahami kitab. Tetapi jika ia benar-benar arif, ia sadar bahwa kefahaman itu bukan hasil otaknya semata. Ia adalah futuh dari Allah.
Santri Raudhatul Irfan yang sedang menghafal Al-Qur’an misalnya—kadang hafalan lancar, kadang terasa berat. Jika ia hanya mengandalkan metode, ia akan frustrasi ketika sulit. Tetapi jika ia sadar bahwa hafalan adalah karunia, maka setiap kesulitan membuatnya semakin mengetuk pintu Allah.
Ia tidak berkata, “Saya sudah pintar.”
Ia berkata, “Ya Allah, tanpa Engkau saya tidak bisa satu ayat pun.”
Di situlah idhthirar tumbuh.
2. Saat Ujian Datang
Santri kadang diuji dengan rindu orang tua, konflik pertemanan, kelelahan belajar, atau rasa jenuh. Orang biasa mungkin berkata, “Saya capek, saya ingin pulang.” Tetapi santri yang mulai menapaki jalan ma’rifat berkata dalam hatinya:
“Ya Allah, Engkau yang menempatkan saya di sini. Engkau pula yang akan menguatkan saya.”
Rasa butuh itu tidak membuatnya lemah. Justru membuatnya kuat—karena sandarannya tidak rapuh.
3. Pengurus dan Guru Pesantren
Bagi para asatidz dan pengurus, hikmah ini lebih dalam lagi. Mengelola pesantren bukan perkara mudah: mengurus santri, kurikulum, ekonomi, kepercayaan wali santri.
Jika bersandar pada strategi semata, hati akan gelisah.
Tetapi jika sadar bahwa pesantren ini milik Allah, dan kita hanya khadim, maka rasa idhthirar menjadi sumber ketenangan.
Kita bekerja maksimal, tetapi hati berkata:
“Ya Allah, Engkau yang menggerakkan hati para wali santri. Engkau yang menjaga lembaga ini. Kami hanya perantara.”
4. Wali Santri
Bahkan bagi wali santri, hikmah ini relevan. Kadang orang tua berharap perubahan cepat pada anaknya. Jika belum tampak, timbul gelisah.
Tetapi orang tua yang arif akan berkata:
“Ya Allah, anak ini milik-Mu sebelum milik saya. Saya titipkan ia di jalan-Mu.”
Di situ ada idhthirar yang indah—bukan putus asa, tetapi tawakal yang sadar.
Menuju Maqam Arif
Menjadi arif bukan berarti harus menjadi wali besar. Ia dimulai dari kesadaran kecil namun konsisten:
Mengakui kelemahan diri.
Tidak merasa cukup dengan amal.
Tidak bersandar pada pujian manusia.
Menjadikan Allah sebagai tujuan akhir setiap aktivitas.
Santri Raudhatul Irfan yang setiap malam bangun tahajud, lalu berdoa dengan hati bergetar—itulah latihan idhthirar.
Santri yang setelah ujian berkata, “Ya Allah, Engkau yang menentukan hasilnya”—itulah latihan tidak bersandar pada selain-Nya.
Penutup: Fakir yang Mulia
Hikmah ini mengajarkan bahwa kemuliaan bukan pada merasa kuat, tetapi pada merasa butuh. Semakin seorang hamba merasa fakir kepada Allah, semakin dekat ia kepada-Nya. Dan semakin ia dekat, semakin ia tidak menemukan ketenangan kecuali bersama-Nya.
Di Pesantren Raudhatul Irfan, mari kita didik diri dan santri bukan hanya menjadi pintar, tetapi menjadi fakir yang sadar. Bukan hanya menjadi disiplin, tetapi menjadi hamba yang bergantung. Bukan hanya menjadi sukses duniawi, tetapi menjadi hati yang tidak pernah lepas dari Allah.
Karena pada akhirnya,
yang paling selamat bukan yang paling hebat,
tetapi yang paling merasa butuh kepada-Nya.
.png)
0 Komentar