“Ketika Hati Dijemukan dari Makhluk: Jalan Sunyi Menuju Mesra dengan Allah”
Penulis: Irfan Soleh
Ada satu hikmah halus dari Ibnu Athaillah As-Sakandari yang sering kali baru terasa maknanya ketika hati benar-benar letih. Beliau mengatakan bahwa apabila Allah telah membuatmu jemu dengan makhluk, maka ketahuilah bahwa Allah sedang hendak membukakan untukmu pintu kemesraan dengan-Nya. Hikmah ini tidak berbicara tentang kebencian kepada manusia, apalagi keputusasaan sosial, tetapi tentang perpindahan pusat sandaran hati dari makhluk menuju Sang Khaliq.
Rasa jemu terhadap makhluk sering hadir tanpa diundang. Ia muncul ketika seseorang terlalu lama menggantungkan harapan kepada manusia. Santri yang berharap sepenuhnya kepada pujian ustadz, pengakuan teman, atau perhatian lingkungan, suatu saat akan merasakan pahitnya kecewa. Ada santri yang rajin membantu, tetapi tak pernah dianggap. Ada yang berusaha menjaga rahasia dan amanah, namun justru disalahpahami. Ada yang merasa lelah harus terus tampil baik di hadapan manusia, sementara batinnya kosong dan lemah. Kejemuan ini bukan kesalahan, selama ia tidak berujung pada putus asa. Justru di situlah Allah sedang bekerja secara lembut.
Di Pesantren Raudhatul Irfan, santri hidup dalam ritme kebersamaan yang padat. Bangun sebelum subuh, antri kamar mandi, shalat berjamaah, mengaji, belajar, khidmah, hingga malam hari kembali mengulang pelajaran. Dalam kebersamaan seperti ini, interaksi manusia sangat intens. Santri saling mengenal, saling menilai, saling membandingkan. Pada titik tertentu, sebagian santri merasakan kejenuhan. Ada yang muak melihat perilaku temannya yang terus mengulang kesalahan. Ada yang lelah menghadapi komentar, cibiran, atau penilaian yang terasa tidak adil. Ada pula yang diam-diam menyimpan luka karena rahasia yang dijaganya justru menjadi bahan pembicaraan orang lain.
Ketika rasa jemu itu datang, banyak yang mengira imannya sedang menurun. Padahal bisa jadi sebaliknya. Bisa jadi Allah sedang mencabut ketergantungan halus yang selama ini bersarang di hati. Ketika santri mulai merasa bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya memahami, tidak selalu menepati harapan, dan tidak sanggup mencukupi kebutuhan batinnya, saat itulah Allah sedang mengajarinya satu pelajaran penting. Jangan jadikan makhluk sebagai tempat bersandar terakhir.
Ada santri yang suatu malam memilih duduk lebih lama di masjid setelah teman-temannya kembali ke asrama. Bukan karena ingin terlihat alim, tetapi karena hatinya terasa penuh dan lelah. Ia merasa tidak ingin bercerita kepada siapa pun. Di situlah ia mulai belajar mengadu kepada Allah. Bukan dengan kalimat yang indah, tetapi dengan keluhan yang jujur. Ia merasa aneh, karena justru dalam kesendirian itu hatinya terasa lebih tenang. Tidak ada tuntutan untuk terlihat kuat, tidak ada keharusan untuk dipahami. Hanya ada dirinya dan Allah.
Inilah yang dimaksud Ibnu Athaillah sebagai pintu kemesraan. Ketika Allah menutup pintu sandaran kepada makhluk, bukan berarti Allah hendak menyakiti, tetapi justru hendak mendekatkan. Allah ingin menjadi tempat curhat yang utama, tempat bergantung yang paling aman. Selama hati masih terlalu ramai oleh manusia, suara panggilan Allah sering tenggelam. Maka Allah sunyikan hati itu dari ketergantungan sosial agar ruang untuk-Nya menjadi lapang.
Di kehidupan pesantren, fase ini sering dialami santri senior. Ketika semangat awal sudah berlalu dan realitas kehidupan bersama mulai terasa berat, santri dihadapkan pada pilihan. Ia bisa larut dalam kejengkelan dan sinisme, atau ia bisa menjadikan kejenuhan itu sebagai tangga naik menuju kedewasaan ruhani. Santri yang memilih jalan kedua biasanya mulai berubah caranya beribadah. Shalatnya menjadi lebih tenang, bukan karena ingin dilihat. Dzikirnya menjadi lebih jujur, bukan sekadar rutinitas. Ia tidak lagi terlalu sibuk mengoreksi manusia, karena ia sibuk menata hatinya sendiri.
Jika Allah telah membuka pintu itu dan menyeru dengan panggilan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam hikmah tersebut, maka seseorang akan menjadi milik Allah semata. Ini bukan berarti membenci manusia secara fisik atau memutus hubungan sosial. Yang dibenci adalah ketergantungan hati kepada selain Allah. Santri tetap bergaul, tetap khidmah, tetap taat kepada guru, tetapi hatinya tidak lagi bergantung pada respon mereka. Ia tidak runtuh ketika tidak dipuji, dan tidak terbang ketika dipuja.
Inilah kemerdekaan batin yang sering lahir dari rasa jemu. Rasa jemu terhadap makhluk ternyata bukan akhir perjalanan, melainkan gerbang. Gerbang menuju hati yang lebih jujur, lebih tenang, dan lebih terhubung dengan Allah. Pesantren menjadi tempat yang sangat subur untuk proses ini, karena di sanalah santri belajar bahwa hidup bersama manusia tidak selalu nyaman, tetapi selalu bermakna bila dijalani bersama Allah.
Maka ketika suatu hari seorang santri Raudhatul Irfan merasa lelah dengan manusia, jangan tergesa-gesa menilai dirinya buruk. Bisa jadi itu adalah undangan halus dari Allah. Undangan untuk masuk lebih dalam, lebih dekat, dan lebih mesra. Undangan untuk memindahkan sandaran dari makhluk yang terbatas menuju Allah yang Maha Mencukupi. Di situlah hati menemukan rumahnya yang sejati.
Hikmah ini tidak hanya berlaku bagi santri yang hidup di dalam pesantren, tetapi juga menyentuh hati para wali santri yang setia mengantarkan anaknya menempuh jalan pendidikan dan pengasuhan ruhani. Banyak orang tua yang pada suatu fase merasa sangat lelah memondokan anaknya. Lelah bukan karena tidak cinta, tetapi karena perjuangan itu panjang dan sunyi. Ada wali santri yang setiap bulan harus memutar otak mencari nafkah, menunda kebutuhan pribadi, menahan gengsi, bahkan berutang demi memastikan anaknya tetap mondok dan belajar. Ada pula yang lelah secara batin karena belum melihat perubahan yang signifikan pada akhlak, kedisiplinan, atau kesungguhan ibadah anaknya.
Sebagian wali santri datang ke pesantren dengan hati yang berat. Mereka bertanya dalam diam, apakah keputusan ini benar, apakah pengorbanan ini sepadan, dan sampai kapan harus bersabar. Ada yang kecewa karena anaknya masih sulit diatur saat pulang, masih lalai shalat, atau belum menunjukkan tanda-tanda menjadi pribadi yang lebih matang. Pada titik inilah rasa jemu terhadap makhluk sering muncul. Jemu terhadap keadaan, terhadap hasil yang belum tampak, bahkan terhadap diri sendiri yang merasa telah berusaha maksimal namun belum melihat buahnya.
Namun dalam perspektif hikmah Ibnu Athaillah, kelelahan batin para wali santri ini bisa jadi bukan tanda kegagalan, melainkan tanda panggilan. Allah sedang menarik hati mereka dari ketergantungan kepada hasil yang kasat mata. Allah seakan berbisik bahwa perubahan bukan sepenuhnya berada di tangan manusia, dan pendidikan bukan sekadar proses cepat yang bisa diukur dengan hitungan waktu. Ketika wali santri mulai merasa bahwa usaha, biaya, dan perhatian mereka tidak sepenuhnya mampu mengubah anaknya, di situlah Allah sedang mengajarkan makna tawakkal yang lebih dalam.
Ada wali santri yang akhirnya hanya bisa menangis dalam doa. Tidak lagi banyak menuntut, tidak lagi sibuk membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Ia mulai belajar menyerahkan anaknya kepada Allah, bukan hanya kepada pesantren. Ia mulai memahami bahwa pesantren adalah wasilah, sedangkan yang membolak-balikkan hati adalah Allah. Di titik itu, kelelahan berubah menjadi kepasrahan yang menenangkan. Doa menjadi lebih jujur, lebih sunyi, dan lebih dalam.
Sebagaimana santri yang dijemukan dari makhluk agar mesra dengan Allah, wali santri pun sering dijemukan dari hasil agar mesra dengan doa. Ketika Allah membuka pintu ini, orang tua tidak lagi mengukur keberhasilan hanya dari perubahan yang cepat terlihat, tetapi dari keyakinan bahwa setiap langkah anaknya di pesantren sedang dicatat sebagai amal, sedang diproses dalam waktu Allah, bukan waktu manusia.
Maka kelelahan wali santri bukan sesuatu yang sia-sia. Ia adalah ladang keikhlasan. Ia adalah bentuk ibadah yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat dirasakan oleh Allah. Ketika wali santri tidak lagi menggantungkan harapannya sepenuhnya pada pesantren, guru, atau sistem, melainkan pada Allah Yang Maha Mendidik, di situlah lahir kemesraan yang tenang. Kemesraan orang tua yang percaya bahwa Allah lebih mencintai anaknya daripada siapa pun, dan bahwa tidak ada satu pun pengorbanan yang luput dari perhatian-Nya.
Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis, 22 januari 2026
.png)
0 Komentar