ANALISA FAKTOR EKSTERNAL (PAKAN DAN CUACA) YANG MEMPENGARUHI KUALITAS AIR PADA SISTEM BIOFLOK

 

Daftar Kelompok Penyusun:

 

No

Nama

NISN

1

Randra Kustiandar

 

2

Muhammad Maulana Majid

 

3

Muhammad Haikal

 

4

Satria Pratama

 

 

 

PENDAHULUAN

Sistem bioflok merupakan salah satu teknologi budidaya perikanan yang ramah lingkungan dan efisien, terutama dalam pemanfaatan ruang serta pengelolaan limbah organik. Teknologi ini memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk mengolah limbah organik, seperti sisa pakan dan kotoran ikan, menjadi biomassa yang dapat dikonsumsi kembali oleh ikan. Keberhasilan sistem bioflok sangat bergantung pada stabilitas dan kualitas udara, karena kondisi lingkungan yang tidak ideal dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme dan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ikan.

Dalam praktiknya, kualitas udara pada sistem bioflok sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, di antaranya pakan dan cuaca . Pakan merupakan salah satudan cuaca . Pakan merupakan salah satu input utama dalam sistem budidaya, dan pemberian pakan yang tidak tepat baik dari segi jumlah maupun frekuensi dapat menyebabkan penumpukan bahan organik yang berlebihan, yang kemudian mengganggu keseimbangan flok dan kualitas udara. Sementara itu, faktor cuaca sepertiseperti suhu udara, intensitas cahaya, dan curah hujan dapat mempengaruhi suhu udara, kadar oksigen terlarut, serta aktivitas mikroorganisme dalam sistem bioflok.

Oleh karena itu, analisis terhadap pengaruh pakan dan cuaca sebagai faktor eksternal menjadi penting untuk memahami dinamika kualitas udara dalam sistem bioflok. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana kedua faktor tersebut mempengaruhi parameter kualitas udara, serta bagaimana pengelolaan yang tepat dapat diterapkan untuk menjaga kestabilan sistem dan mendukung keberhasilan budidaya.

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam budidaya perikanan modern, sistem bioflok telah menjadi solusi alternatif yang efektif untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Sistem ini mengandalkan aktivitas mikroorganisme untuk mengolah limbah organik menjadi flok, yang dapat dimanfaatkan kembali oleh ikan sebagai sumber pakan tambahan. Namun meskipun sistem bioflok menawarkan banyak keunggulan, pengelolaannya memerlukan pemahaman yang mendalam terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi keseimbangannya, terutama kualitas udara.

Kualitas udara merupakan aspek vital dalam sistem bioflok. Udara yang tidak terjaga kualitasnya dapat menyebabkan stres pada ikan, menurunkan nafsu makan, memperlambat pertumbuhan, bahkan meningkatkan risiko kematian. Salah satu penyebab utama terganggunya kualitas udara dalam sistem ini adalah faktor eksternal, khususnya pakan dan cuaca. Pemberian pakan yang tidak sesuai dosis atau frekuensi dapat meningkatkan kandungan bahan organik dalam udara, memperberat kerja mikroorganisme, dan menyebabkan peningkatan kadar amonia serta turunnya kadar oksigen terlarut. Di sisi lain, kondisi cuaca yang tidak menentu, seperti hujan deras atau suhu ekstrem, juga dapat mempengaruhi parameter fisik dan kimia udara secara signifikan.

Permasalahan ini sering kali dihadapi oleh para pembudidaya, terutama yang belum memiliki pemahaman teknis yang cukup mengenai dinamika sistem bioflok. Ketidaktahuan dalam mengelola pemberian pakan dan menyikapi perubahan cuaca dapat berujung pada kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Oleh karena itu, perlu dilakukan terhadap analisis pengaruh kedua faktor eksternal ini guna memberikan gambaran ilmiah mengenai dampaknya terhadap kualitas udara serta memberikan rekomendasi pengelolaan yang tepat.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.                Bagaimana pengaruh jumlah dan frekuensi pemberian pakan terhadap kualitas air pada sistem bioflok?

2.                Bagaimana pengaruh kondisi cuaca (suhu dan curah hujan) terhadap kualitas air pada sistem bioflok?

3.                Faktor eksternal mana yang lebih dominan mempengaruhi perubahan kualitas air dalam sistem bioflok?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1.                Menganalisis pengaruh pemberian pakan terhadap kualitas air dalam sistem bioflok.

2.                Menganalisis pengaruh kondisi hujan terhadap parameter kualitas air dalam sistem bioflok.

3.                Menentukan faktor eksternal yang paling berpengaruh terhadap perubahan kualitas air dalam sistem bioflok.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat:

1.                Memberikan informasi ilmiah kepada pembudidaya mengenai pengaruh pakan dan cuaca terhadap kualitas air pada sistem bioflok.

2.                Menjadi dasar bagi sistem pengelolaan bioflok yang lebih efisien dan berkelanjutan.

3.                Membantu mengurangi risiko kegagalan budidaya akibat penurunan kualitas air melalui strategi pakan dan adaptasi terhadap kondisi cuaca.

 

TINJAUAN PUSTAKA

1.                Sistem Bioflok

Sistem bioflok merupakan teknologi budidaya yang mengandalkan mikroorganisme untuk mengubah limbah organik seperti sisa pakan dan feses menjadi flok yang dapat dimanfaatkan kembali oleh ikan sebagai pakan tambahan. Bioflok terbentuk dari kombinasi mikroorganisme (bakteri heterotrof), bahan organik, dan padatan tersuspensi yang menggumpal karena aerasi yang terus-menerus (Avnimelech, 2009). Keunggulan sistem ini antara lain efisiensi pakan yang tinggi, penghematan penggunaan udara, serta peningkatan pertumbuhan ikan atau udang.

2.            Pengaruh Pakan terhadap Kualitas Air

Karbon terhadap nitrogenPemberian pakan secara berlebihan atau tidak tepat dosis dapat menyebabkan akumulasi limbah organik dalam sistem, yang berujung pada peningkatan kadar amonia dan nitrit yang bersifat toksik bagi ikan (Ekasari et al., 2014). Selain itu, rasio C :N (karbon terhadap nitrogen) menjadi faktor penting dalam pembentukan flok. Jika rasio ini tidak seimbang, aktivitas bakteri heterotrof akan menurun, sehingga efisiensi pengolahan limbah menurun dan kualitas udara menurun.

4.            Penelitian Terkait

Penelitian oleh Wahyudi dkk. (2019) menunjukkan bahwa kualitas air dalam sistem bioflok sangat dipengaruhi oleh manajemen pemberian pakan. Pemberian pakan yang sesuai kebutuhan dapat menekan peningkatan amonia dan mempertahankan kestabilan flok. Selain itu, penelitian Sari & Yuliana (2021) menunjukkan bahwa perubahan suhu akibat cuaca ekstrem berdampak pada fluktuasi DO dan pH air, yang selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan ikan dalam sistem bioflok.

1.            Pengaruh Cuaca terhadap Kualitas Air dalam Sistem Bioflok

Faktor cuaca, seperti suhu udara, curah hujan, dan intensitas cahaya, berpengaruh terhadap kualitas air dalam sistem bioflok. Suhu yang terlalu tinggi atau rendah dapat mempengaruhi aktivitas metabolisme ikan dan mikroorganisme, yang pada gilirannya berdampak pada kualitas air.Effendi (2003) mencatat bahwa suhu yang ekstrem dapat menurunkan kadar oksigen terlarut (DO) dalam air, memperlambat metabolisme mikroorganisme, dan mengaktifkan kondisi sistem bioflok. Selain itu, curah hujan yang tinggi dapat mengencerkan flok, menyebabkan fluktuasi pH, serta mengubah konsentrasi nutrisi dalam udara. Perubahan suhu dan pH yang signifikan dapat mempengaruhi kestabilan sistem bioflok dan menyebabkan penurunan efisiensi konversi limbah menjadi pakan (Sari & Yuliana, 2021).

 

METODE PENELITIAN

1.                   Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan survei lapangan untuk mengumpulkan data secara untuk mengumpulkan data secara langsung di lokasi penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara faktor eksternal, yaitu pemberian pakan dan kondisi cuaca , terhadap kualitas udara dan kondisi cuaca , terhadap kualitas udara ,zat atau campuran apapun pada sistem bioflok, tanpa penambahan zat atau campuran apapun ke dalam air.

 

2.            Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di kolam bioflok milik Pondok Pesantren Raudhatul Irfan yang berlokasi di Kertasari Ciamis , dilakukan selama satu bulan yaitu bulan April 2025.

A.                 Wawancara

Metode ini dilakukan kepada pengelola kolam yaitu:

 

Nama                  :Ade Yoga

 

Alamat               :Pondok Pesantren Raudhatul Irfan Kertasari, Ciamis

Umur                  :27 tahun

Kami memperoleh informasi mengenai pola pemberian pakan dan perlakuan terhadap kolam.Maka dari itu kami menanyakan beberapa pertanyaan yakni:

                           Apa merek pakan yang digunakan dikolam ini?

                           Apakah pakan yang digunakan mempengaruhi kualitas air?

                           Apa penyebab kematian ikan?

                           Apakah air di kolam bioflok ini menggunakan campuran dzat lain?

                           Apakah hujan dapat mempengaruhi air di kolam ini?


Jawabannya:

 

                           HI-PRO-VITE

                           Ya, jika terlalu banyak memberikan pakan, pakan tersebut tidak akan dimakan dan membusuk sehingga menyebabkan bau tidak sedap di kolam

                           Kualitas air buruk, pemberian pakan tidak tepat, kepdatan ikan terlalu tinggi,

                           Tidak menggunakan campuran apapun

                           Ya

 

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh faktor eksternal berupa pakan dan cuaca terhadap kualitas air pada sistem bioflok. Selama periode 30 hari.

1.      Pengaruh Pemberian Pakan Hasil pengamatan menunjukkan bahwa frekuensi dan jumlah pemberian pakan berpengaruh langsung terhadap peningkatan kadar am

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa frekuensi dan jumlah pemberian pakan berpengaruh langsung terhadap peningkatan kadar amonia dalam udara.

                           Pada hari-hari dengan pemberian pakan berlebih (lebih dari 3% berat biomassa), terjadi peningkatan kadar amonia sebesar 0,3–0,5 mg/L dari kondisi normal menurut studi empiris.

                           Selain itu, TSS juga meningkat seiring akumulasi sisa pakan yang tidak dimakan, menyebabkan kualitas air menjadi memburuk menurut E-Journal Undip.

                           Kolam bioflok di Pondok Pesantren Raudhatul Irfan ada 8, dan diberi pakan 2

kali 1 hari, setiap 1 kali pemberian pakan pada 1 kolam menggunakan 500 gram pakan.Dalam 1 hari menggunakan 1 kilo gram pakan pada setiap 1 kolam,berarti pakan yang digunakan 8 kilo gram untuk setiap harinya pada 8 kolam dengan 2 kali pemberian pakan dari narasumber.

2.            Pengaruh Cuaca

Cuaca, terutama suhu udara dan intensitas hujan, memberikan dampak nyata terhadap suhu udara dan pH:

                           Pada hari-hari hujan, suhu udara turun rata-rata 2–3°C dibandingkan hari cerah.di Kertasari, Kabupaten Ciamis, pada bulan April, suhu rata-rata di siang hari biasanya berkisar antara 23-28°C menurut BMKG.

                           Fluktuasi suhu dan pH ini berdampak pada kestabilan mikroorganisme dalam bioflok, sehingga pada beberapa hari terjadi penurunan aktivitas flok pembentuk menurut Avnimelech.

                           Bila hujan sedang turun maka air di dalam kolam bioflok suhunya akan menjadi lebih dingin,bakteri pada kolam bioflok akan semakin bertambah karena air hujan juga mengandung bakteri, ph nya juga akan bertambah karena air hujan juga mengandung ph, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO).

 

KESIMPULAN

Penelitian mengenai sistem bioflok di Pondok Pesantren Raudhatul Irfan, Kertasari, Ciamis, menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti pemberian pakan dan kondisi cuaca memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas air dalam kolam bioflok.

Dari hasil observasi dan wawancara, pemberian pakan yang berlebihan terbukti

menjadi penyebab utama penurunan kualitas air, ditandai dengan peningkatan kadar amonia (0,3–0,5 mg/L) dan penumpukan TSS, yang berdampak negatif pada kesehatan ikan serta menimbulkan bau tidak sedap pada air. Pengelolaan pakan yang kurang tepat juga menyebabkan ketidakseimbangan rasio karbon terhadap nitrogen (C:N), yang dapat menghambat pembentukan flok dan meningkatkan akumulasi limbah berbahaya seperti amonia dan nitrit.

Selain itu, faktor cuaca, khususnya suhu dan curah hujan, turut memengaruhi kestabilan sistem bioflok. Penurunan suhu udara 2–3°C saat hujan dapat memengaruhi pH dan menurunkan aktivitas mikroorganisme pembentuk flok, sehingga berdampak pada efisiensi sistem.

Secara keseluruhan, pemberian pakan terbukti menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan cuaca dalam mempengaruhi kualitas air. Oleh karena itu, pengelolaan pakan yang tepat dan adaptasi terhadap perubahan cuaca menjadi kunci utama dalam menjaga keberhasilan dan kestabilan budidaya ikan dengan sistem bioflok.

 

LAMPIRAN