“Membangun Keluarga Tangguh: Memahami QS. At-Tahrim: 6 dalam Perspektif Parenting Modern”
Penulis: Irfan Soleh
Di tengah arus perubahan zaman yang semakin cepat, setiap orang tua tentu merasakan tantangan yang semakin besar dalam membimbing anak-anaknya. Godaan digital, pergaulan yang tak selalu mudah dikendalikan, hingga tuntutan akademik yang terus meningkat, semuanya menuntut orang tua untuk lebih cermat dalam mendidik dan membina keluarga. Dalam situasi ini muncul pertanyaan besar: bagaimana orang tua dapat menjaga diri dan keluarganya agar tetap berada pada jalan yang lurus, kokoh, dan selamat dari kesalahan yang dapat merusak masa depan mereka? Pertanyaan ini sejatinya telah dijawab oleh Allah SWT dengan sangat padat namun mendalam dalam QS. At-Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Ayat ini tidak hanya menjadi peringatan, melainkan juga sebuah konsep dasar tentang pendidikan keluarga. Para mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa menjaga keluarga dari api neraka berarti mengajarkan mereka ilmu agama, memberikan bimbingan tentang halal dan haram, serta mengarahkan mereka kepada akhlak yang benar. Al-Qurtubi menambahkan bahwa menjaga keluarga mencakup perintah, larangan, pengawasan, dan pendidikan yang berkelanjutan. Sementara itu, Tafsir Al-Maraghi menekankan bahwa tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada memberi nafkah, tetapi mencakup pembinaan mental, spiritual, dan kepribadian anak. Dengan demikian, ayat ini tidak sekadar perintah teologis, tetapi sebuah kerangka pendidikan keluarga yang sangat lengkap.
Ketika ayat ini dikaitkan dengan teori parenting modern, terlihat bahwa nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya sejalan dengan temuan para ahli tentang pola asuh yang efektif. Salah satu teori paling berpengaruh adalah konsep authoritative parenting yang diperkenalkan oleh Diana Baumrind. Pola asuh ini menekankan keseimbangan antara kehangatan dan ketegasan: orang tua memberikan kasih sayang yang cukup, komunikasi yang hangat, tetapi juga menetapkan batasan yang jelas dan konsisten. Bukankah ini sangat mirip dengan konsep “qû anfusakum wa ahlîkum nâran” yang menuntut orang tua untuk memberikan arahan tanpa melupakan kelembutan, membimbing tanpa mengekang, serta mendisiplinkan tanpa menghilangkan kasih?
Tafsir Al-Alusi, dalam Ruh Al-Ma’ani, menjelaskan bahwa menjaga keluarga mencakup upaya orang tua untuk memberikan contoh yang baik, sebab akhlak tidak hanya lahir dari nasihat tetapi dari keteladanan. Ini selaras dengan teori social learning dari Albert Bandura yang menyatakan bahwa anak-anak belajar terutama melalui observasi dan imitasi terhadap figur yang mereka anggap signifikan, yaitu orang tua. Ketika orang tua menjaga diri dari perilaku buruk, anak secara otomatis meniru kebaikan tersebut. Maka ayat ini bukan hanya memerintahkan orang tua “mengajarkan”, tetapi lebih jauh “menjadi contoh hidup”.
Di sisi lain, parenting modern juga menegaskan pentingnya komunikasi yang hangat dalam keluarga. John Gottman, seorang pakar hubungan keluarga, memperkenalkan konsep emotion coaching, yakni kemampuan orang tua untuk membantu anak mengenal, memahami, dan mengelola emosinya. Jika kita melihat tafsir Ibnu Katsir, menjaga keluarga dari api neraka termasuk memberikan nasihat yang lembut dan mengarahkan mereka dengan penuh kasih. Ini menunjukkan bahwa Islam sejak awal sudah mengajarkan bentuk komunikasi yang empatik dan penuh perhatian, bukan penuh amarah atau ancaman.
Ayat ini juga sangat relevan dengan prinsip positive discipline yang diperkenalkan Jane Nelsen. Dalam teori ini, disiplin bukan berarti hukuman fisik atau bentakan, tetapi membangun kesadaran anak atas tindakannya, menguatkan perilaku baik, dan membantu anak mengembangkan kemampuan membuat keputusan. Tafsir Al-Qurtubi menyebutkan bahwa mendidik adalah memberikan petunjuk, bukan sekadar memaksa. Maka didikan yang lahir dari kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan justru lebih efektif dalam menjaga mereka dari kesalahan yang dapat menjerumuskan masa depan mereka.
Jika dilihat lebih dalam, QS. At-Tahrim ayat 6 juga berbicara tentang tanggung jawab orang tua terhadap lingkungan perkembangan anak. Dalam teori ekologi perkembangan dari Urie Bronfenbrenner, anak tumbuh dalam lingkaran-lingkaran lingkungan: keluarga, sekolah, masyarakat, dan dunia digital. Allah memerintahkan menjaga diri dan keluarga bukan hanya dari perilaku lahiriah tetapi dari pengaruh lingkungan yang buruk. Ini membuka wawasan bahwa orang tua Muslim harus waspada terhadap tontonan, gawai, pergaulan, hingga tempat belajar anak-anak mereka. Bahkan, pesantren seperti Raudhatul Irfan menjadi bagian dari lingkungan positif yang membantu orang tua menjalankan amanah ayat ini.
Ayat ini juga menekankan pentingnya kesadaran diri orang tua sebelum mendidik anak. Allah memerintahkan, “Peliharalah dirimu dan keluargamu.” Urutannya disebutkan diri sendiri terlebih dahulu, karena pendidikan anak tidak mungkin berjalan baik jika orang tuanya tidak memperbaiki diri. Parenting modern menggambarkan hal ini dengan istilah self-regulation dan parental well-being, yaitu pentingnya kondisi emosional orang tua yang stabil agar dapat mendidik dengan bijaksana. Orang tua yang penuh tekanan, tidak mampu mengontrol amarah, atau tidak disiplin, akan sulit mengharapkan anaknya tumbuh dengan akhlak baik.
Ketika seluruh konsep ini dijahit menjadi satu kesadaran utuh, maka QS. At-Tahrim ayat 6 dapat dipahami sebagai ayat yang memadukan spiritualitas, psikologi, dan pendidikan keluarga. Ia memerintahkan orang tua untuk aktif, bukan pasif; untuk memimpin, bukan hanya berharap; untuk membimbing dengan ilmu, bukan sekadar larangan; untuk menumbuhkan cinta, bukan ketakutan; serta mencegah keburukan dengan keteladanan, bukan dengan ancaman.
Pada akhirnya, ayat ini mengajarkan bahwa keluarga adalah amanah yang memerlukan ilmu, strategi, kesabaran, dan doa. Dalam konteks pesantren, orang tua dan guru bersatu menjalankan tugas ini: pesantren mendidik jiwa dan akhlak, sementara keluarga memperkuat pondasi emosional dan spiritual anak-anak. Jika kedua institusi ini berjalan seiring, maka insyaAllah akan lahir generasi beriman, cerdas, mandiri, dan berakhlak mulia, yang tidak hanya terjaga dari api neraka tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman dengan karakter yang kokoh.
Pesantren Raudhatul Irfan, 16 November 2025
.png)
0 Komentar