Konsep-Konsep Kunci Parenting dalam Psikologi Modern dan Contohnya bagi Wali Santri Pesantren Raudhatul Irfan
Penulis: Irfan Soleh
Di tengah dinamika kehidupan modern, teori-teori parenting hadir untuk membantu orang tua memahami kebutuhan perkembangan anak secara lebih utuh. Setiap konsep menawarkan kacamata berbeda dalam melihat tumbuh kembang anak, termasuk anak-anak yang menempuh pendidikan di pesantren seperti Raudhatul Irfan. Dengan memahami pendekatan yang tepat, wali santri dapat menjadi mitra terbaik bagi pesantren dalam mendampingi perkembangan spiritual, emosional, dan sosial anak.
Teori pola asuh otoritatif (authoritative parenting) dari Diana Baumrind menekankan keseimbangan antara kehangatan dan ketegasan. Orang tua membangun hubungan yang hangat, menghargai pandangan anak, tetapi tetap memberikan batasan dan aturan. Komunikasi berlangsung dua arah, sehingga anak tumbuh dengan rasa aman sekaligus bertanggung jawab. Gaya asuh ini dipandang sebagai bentuk parenting paling efektif karena menumbuhkan disiplin yang sehat dan kemandirian, tanpa menciptakan ketakutan atau tekanan berlebihan.
Bagi wali santri Pesantren Raudhatul Irfan, contoh penerapan pola asuh otoritatif bisa terlihat ketika orang tua menetapkan aturan tentang penggunaan gawai saat anak pulang ke rumah. Alih-alih melarang total atau membiarkan tanpa batas, wali santri dapat membuat kesepakatan, misalnya penggunaan gawai hanya setelah anak menyelesaikan tugas madrasah atau hafalan. Ketika anak bertanya alasan aturan tersebut, orang tua menjelaskan manfaatnya dengan bahasa yang mudah dipahami, bukan dengan bentakan. Dengan cara ini, anak merasa dihargai, tetapi tetap memahami bahwa ada batasan yang harus dipatuhi.
Social Learning Theory dari Albert Bandura menegaskan bahwa anak belajar terutama melalui pengamatan dan peniruan. Keteladanan menjadi faktor utama: apa yang dilihat anak setiap hari jauh lebih membentuk karakter mereka daripada apa yang sekadar mereka dengar. Ketika orang tua menunjukkan kesabaran, cara bicara yang lembut, atau kedisiplinan dalam ibadah, anak akan menyerap itu sebagai pola perilaku alami.
Contoh nyata bagi wali santri Raudhatul Irfan muncul ketika orang tua menjemput anak di pesantren pada akhir pekan. Jika wali santri menunjukkan sikap sabar dalam antrean, berbicara sopan kepada petugas, atau mengingatkan anak untuk salam kepada ustadz dan pengurus pesantren, maka anak akan meniru sikap tersebut tanpa perlu diperintah. Begitu pula jika di rumah orang tua menjaga adab ketika membuka kitab, menghormati waktu shalat, atau berzikir setelah magrib; anak akan memodelkan perilaku itu karena melihat teladan langsung.
Emotion Coaching dari John Gottman memfokuskan perhatian pada kemampuan orang tua membimbing anak memahami, menamai, dan mengelola emosi. Orang tua tidak meremehkan perasaan anak, tidak mengatakan “sudah, jangan menangis,” tetapi menjadikan setiap emosi sebagai kesempatan belajar. Dengan cara ini, anak tumbuh menjadi pribadi yang tenang, empatik, dan mampu mengontrol diri secara dewasa.
Contoh penerapan emotion coaching di lingkungan wali santri Raudhatul Irfan adalah ketika anak mengeluh kangen rumah atau merasa tertekan karena hafalan belum setor. Orang tua yang menjadi emotion coach tidak langsung menepis dengan ucapan “kan kamu yang mau mondok, sabar saja,” tetapi terlebih dahulu mengakui perasaan anak: “Ayah/ibu mengerti kamu sedang sedih dan kangen, itu wajar.” Setelah itu, orang tua membantu mengarahkan: “Kalau begitu, apa yang bisa membuat kamu lebih tenang? Mau telepon sebentar atau baca wirid dulu?” Dengan pendekatan ini, anak merasa dipahami tanpa dimanja.
Positive Discipline dari Jane Nelsen menekankan bahwa disiplin tidak harus keras atau menyakitkan. Disiplin yang efektif berakar pada rasa hormat, koneksi, dan pengajaran tentang tanggung jawab. Anak dibimbing memahami konsekuensi dan diajak mencari solusi, bukan dipermalukan atau dihukum berlebihan. Pendekatan ini menguatkan hubungan orang tua-anak sekaligus menanamkan kontrol diri yang sehat.
Contoh positive discipline bagi wali santri Raudhatul Irfan dapat terlihat ketika anak pulang ke rumah dan menjadi kurang disiplin dalam menjaga waktu tidur atau tidak menjaga adab terhadap saudara. Orang tua tidak langsung memarahi, tetapi mengajak anak berdiskusi: “Menurut kamu, kenapa waktu tidur penting, apalagi untuk santri?” Setelah anak menjawab, orang tua membantu membuat rencana: “Bagaimana kalau selepas Isya kamu istirahat, dan besok kita bangun lebih cepat untuk murojaah?” Anak belajar bertanggung jawab bukan karena takut, tetapi karena merasa dilibatkan dan dihargai.
Teori ekologi perkembangan dari Urie Bronfenbrenner menjelaskan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai lapisan lingkungan: keluarga, sekolah/pesantren, masyarakat, budaya, hingga kebijakan yang lebih luas. Orang tua yang memahami teori ini menyadari bahwa membesarkan anak membutuhkan kolaborasi antara rumah dan lingkungan pendidikan, serta kepekaan terhadap faktor eksternal yang mungkin memengaruhi perilaku anak.
Contoh penerapannya bagi wali santri Raudhatul Irfan tampak ketika orang tua aktif berkomunikasi dengan pengasuh, musyrif/musyrifah, atau pihak pesantren untuk memahami perkembangan anak. Jika terjadi perubahan perilaku, seperti anak menjadi lebih pendiam atau kurang semangat, wali santri tidak langsung menyalahkan pihak pesantren, tetapi mencoba memahami seluruh konteks lingkungan: bagaimana kondisi teman sekamar, bagaimana kegiatan di kelas, dan bagaimana kondisi anak di rumah sebelum kembali ke pesantren. Dengan kesadaran ekologi ini, wali santri menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang saling menguatkan.
Pada akhirnya, kelima teori parenting ini—dari ketegasan yang hangat ala Baumrind, keteladanan Bandura, kepekaan emosional Gottman, disiplin positif Nelsen, hingga kesadaran ekologi Bronfenbrenner—dapat menjadi modal penting bagi wali santri Pesantren Raudhatul Irfan. Dengan menerapkannya, orang tua bukan hanya menyerahkan pendidikan kepada pesantren, tetapi menjadi bagian aktif dalam membentuk pribadi anak yang utuh, matang, dan berakhlak mulia. Semakin kuat kolaborasi antara rumah dan pesantren, semakin kokoh pula masa depan anak-anak kita.
Pesantren Raudhatul Irfan, 16 November 2025
.png)
0 Komentar