Menjernihkan Tauhid dan Spirit "Ilahi Anta Maqshudi, wa Ridhoka Mathlubi as our purpose"

Penulis: Irfan Soleh


Tauhid adalah inti dari seluruh ajaran Islam. Ia bukan hanya konsep teologis, tapi juga ruh spiritual yang menghidupkan hati dalam penghambaan. Surah Az-Zumar ayat 1–4 adalah salah satu bagian Al-Qur'an yang menegaskan keesaan Allah dan menolak segala bentuk syirik, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Dalam tafsir Jalalain, ayat-ayat ini dijelaskan dengan penekanan kuat pada kemurnian ibadah hanya kepada Allah. Menariknya, pesan ini sejalan dengan spirit sufistik dalam kalimat yang kami jadikan salah satu nilai IRFANI yaitu: "Ilahi anta maqshudi wa ridhoka mathlubi" – “Tuhanku, Engkaulah yang aku tuju, dan keridhaan-Mu yang aku cari.” Frasa ini merangkum esensi tauhid yang murni: bahwa tujuan tertinggi dalam hidup adalah Allah semata, bukan dunia, bukan makhluk, dan bukan kepuasan diri. Dalam artikel ini, kita akan mengulas kandungan tafsir Az-Zumar ayat 1–4 dan bagaimana ia menguatkan makna terdalam dari kalimat tersebut.


Tafsir Az-Zumar Ayat 1–4 berbicara tentang Meneguhkan Tauhid. Pada ayat 1 Allah SWT berfirman : Turunnya Al-Qur’an dari Allah Yang Maha Perkasa dan Bijaksana. "Tanzîlul-kitâbi minallâhil-‘azîzil-hakîm". Ayat ini menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan hasil ciptaan Nabi Muhammad ﷺ atau manusia lain, melainkan wahyu dari Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Ini menjadi pondasi bahwa semua ajaran dalam Al-Qur’an, termasuk perintah untuk beribadah hanya kepada-Nya, bersumber dari Zat yang sempurna. Relevansinya dengan "Ilahi anta maqshudi" adalah Jika seseorang mengakui bahwa Allah adalah sumber segala petunjuk, maka secara logis, Allah-lah satu-satunya yang layak menjadi maqshud (tujuan hidup). Allah tidak hanya Pencipta, tapi juga Penuntun dan satu-satunya yang layak diikuti.


Kemudian ayat 2 nya berbicara tentang Perintah untuk Memurnikan Ibadah. "Fa‘budillâha mukhlishan lahud-dîn". "mukhlishan" berarti memurnikan ibadah dari segala bentuk syirik dan riya’. Tidak ada unsur pencarian pujian, popularitas, atau manfaat dunia dalam ibadah yang benar. Hanya Allah sebagai tujuan. Korelasinya dengan "wa ridhoka mathlubi" adalah Orang yang ikhlas beribadah kepada Allah berarti menjadikan ridha-Nya sebagai satu-satunya tujuan. Dia tidak menyembah karena takut neraka atau berharap surga semata, tapi karena cinta dan kehendak untuk mendapatkan keridhaan Allah. Ini adalah maqam tertinggi dalam perjalanan spiritual seorang hamba.


Ayat 3 QS Az Zumar membahas tentang Penolakan terhadap Perantara dalam Ibadah. Allah SWT berfirman "Mâ na‘buduhum illâ liyuqarribûnâ ilallâhi zulfa". Orang musyrik berdalih bahwa mereka menyembah berhala hanya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun ayat diatas menolak logika ini. Allah tidak membutuhkan perantara dalam ibadah. Justru itu adalah bentuk kemusyrikan yang terselubung. Kalimat “Ilahi anta maqshudi” menghapus segala bentuk wasilah yang tidak diizinkan dalam syariat. Ketika Allah menjadi satu-satunya tujuan, maka hamba tidak membutuhkan selain-Nya sebagai jalan menuju-Nya, selain apa yang telah ditetapkan-Nya (wahyu, Rasul, dan syariat). Berhala, hawa nafsu, bahkan amal itu sendiri, tidak boleh menjadi tujuan.


Ayat 4 QS Az Zumar berbicara tentang Penegasan Keesaan Allah. "Mahasuci Allah; Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan." Dalam tafsir Jalalain, ayat ini membantah gagasan bahwa Allah memiliki anak, seperti yang diyakini sebagian kaum musyrik dan Ahlul Kitab. Allah adalah Al-Wahid (Yang Maha Esa) dan Al-Qahhar (Yang Maha Mengalahkan), sifat-sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh makhluk. Orang yang menyadari keesaan Allah tidak akan membagi cinta, harapan, atau ketundukannya kepada selain Allah. Dalam hal ini, kalimat “wa ridhoka mathlubi” menjadi peneguhan bahwa tidak ada yang lebih penting daripada ridha Zat Yang Esa, bukan keluarga, bukan harta, bukan status sosial. Ridha Allah adalah puncak dari segala pencarian.


Kesimpulannya adalah Kalimat “Ilahi anta maqshudi wa ridhoka mathlubi” bukan sekadar untaian kata puitis. Ia adalah manifestasi dari kandungan tafsir Az-Zumar ayat 1–4, yaitu ajakan untuk mengesakan Allah, memurnikan ibadah, menolak syirik, dan menjadikan Allah serta ridha-Nya sebagai satu-satunya orientasi hidup. Dalam era modern yang penuh distraksi — di mana popularitas, pengakuan, dan kesuksesan dunia menjadi “berhala” baru — pesan tauhid dalam Surah Az-Zumar dan ungkapan ini menjadi pengingat abadi: bahwa tujuan hidup bukanlah dunia atau manusia, tapi Allah semata, dan tidak ada kepuasan hakiki kecuali dalam keridhaan-Nya. Harapannya para santri Raudhatul Irfan bisa betul-betul menginternalisasikan salah satu nilai IRFANI ini yaitu Ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi as our purpose dalam semua aktifitas dan laku kehidupan keseharian, semoga...Amin...


Pesantren Raudhatul Irfan, Senin 11 Agustus 2025